Laporkan Masalah

HUBUNGAN STATUS PEKERJAAN IBU DAN JARAK KEHAMILAN DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RSUD LUWUK

DR. ABDI GUNAWAN, Prof. dr. H. Mohammad Hakimi, SpOG (K), Ph.D; Drs. Abdul Wahab, MPH

2015 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/KIA

Latar Belakang: Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan indikator penting untuk penurunan angka kematian bayi dan lebih dari 95% BBLR lahir di negaranegara berkembang. Menurut Riskesdas 2007 proporsi BBLR di Indonesia 11,5% dan sejumlah 16 propinsi mempunyai proporsi BBLR diatas angka nasional, termasuk Sulawesi Tengah sebesar 16,3%. Jarak kehamilan yang tidak optimal merupakan faktor utama terjadinya BBLR. Menurut hasil penelitian ibu hamil yang bekerja tanpa melihat jenis pekerjaan, meningkatkan risiko terhadap kejadian BBLR. Jarak kehamilan dan status pekerjaan merupakan dua faktor yang dapat saling berinteraksi terhadap peningkatan risiko terjadinya BBLR. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status pekerjaan ibu dan jarak kehamilan dengan kejadian BBLR di RSUD. Luwuk. Metodologi: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kohor retrospektif dengan menggunakan data sekunder di bagian rekam medik RSUD Luwuk. Populasi penelitian adalah ibu melahirkan, diobservasi untuk menilai apakah bayi yang dilahirkan BBLR atau normal. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariabel (deskriptif), bivariabel (chi-square), multivariabel (pemodelan regresi logistik), dan Uji Stratifikasi Mantel-Haenszel. Hasil: Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara jarak kehamilan dan pekerjaan ibu dengan kejadian BBLR. Hubungan jarak kehamilan < 36 atau > 60 bln dengan BBLR kemungkinan menyebabkan kejadian BBLR 2,51 kali lebih besar dibanding jarak kehamilan 36-60 bulan (RR: 2,51 95% CI p<0.05). Sedangkan ibu dengan pekerjaan berisiko kemungkinan menyebabkan kejadian BBLR 2,34 kali (RR: 2,34 95% CI p<0.05). Setelah dikontrol dengan variabel paritas dan pendidikan ibu, maka pengaruh jarak kehamilan dan pekerjaan ibu terhadap BBLR meningkat menjadi 10%. Variabel jarak kehamilan sebagai variabel efek modifikasi hubungan antara pekerjaan ibu dengan kejadian BBLR terdapat peningkatan kejadian BBLR sebesar 2% yang dilihat dari nilai RR crude 2,07 dan RR M-H 2,12. Kesimpulan: Ibu yang bekerja dan melahirkan dalam jarak kehamilan < 36 bulan atau > 60 bulan, berisiko lebih tinggi melahirkan BBLR 2.51 kali dibandingkan dengan ibu yang bekerja dan melahirkan dalam jarak kehamilan 36-60 bulan.

Background: Low Birth Weight (LBW) is an important indicator to reduce neonatal mortality and more than 95% LBW was born in development countries. According to Riskesdas 2007 the proportion of LBW in Indonesia is 11.5% and there are 16 provincy have LBW proportion above the national proportion, include provincy of Central Sulawesi is about 16,3%. Too long and too short of interpregnancy interval are the main factors for LBW occurrence. Interaction of interpregnancy interval and occupational status also take place to increase the proportion of LBW. Objective: to find out the relationship between both of occupational status and interpregnancy interval and LBW occurrence in Luwuk Hospital. Methode: This observational study used a retrospective kohort design using data of childbearing mother’s data available in Medical Record Installation of Luwuk Hospital during January until Desember 2009. The results of study analized with univariable (descriptive), bivariable (chi-square), multivariable (regression logistic model) and stratified of Mantel-haenszel. Results: The results of analysis indicate if there is a significant relationship between occupational status and interpregnancy interval with LBW. Interpregnancy interval < 36 months or > 60 months likely to have LBW baby 2.51 times than mother with interpregnancy interval 36-60 months (RR: 2.51 95% CI p<0.05).Whereas occupational status to LBW is 2.34 (RR: 2.34 95% CI p<0.05). After controlled with other variables: parity and educational background increase LBW occurrence about 10%. Interraction of interpregnancy interval and occupational status affect to incidence of LBW about 2%. RR crude 2,07 dan RR M-H 2,12. Conclution: Occupational status and interpregnancy interval < 36 months or > 60 months had a risk to have LBW baby 2.51 times than interpregnancy interval 36- 60 months.

Kata Kunci : BBLR, Status Pekerjaan, Jarak Kehamilan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.