Laporkan Masalah

GAYA HIDUP HIJABERS COMMUNITY YOGYAKARTA

DYAH NURMASARI, Prof. Dr. Sunyoto Usman

2015 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Gaya hidup merupakan perilaku atau usaha seseorang untuk mengidentifikasi diri menjadi lapisan tertentu, dalam hal ini lapisan atas. Gaya hidup seseorang dapat dilihat dari berbagai macam sisi dan yang menjadi fokus kajian dari skripsi ini yaitu mengenai konsumsi yang dipraktikkan saat waktu luang yang akan membentuk gaya hidup tertentu. Komunitas yang menjadi fokus skripsi ini adalah Hijabers Community Yogyakarta yang berisi sekumpulan perempuan berhijab. Komunitas tersebut memiliki beberapa kegiatan di antaranya tausyiah, hijab class, beauty class, dan charity. Studi ini berupaya menggali bagaimana struktur konsumsi dan pilihan aktivitas waktu luang yang dipraktikkan oleh komite Hijabers Community Yogyakarta akan menggambarkan gaya hidup tertentu sehingga dapat mengidentifikasikan dengan mereka yang sama dan membedakan mereka dari massa. Penelitian ini dilakukan di Yogyakarta dengan metode kualitatif deskriptif, yang didukung dengan data hasil wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi guna menggambarkan aktivitas yang membentuk gaya hidup tertentu sehingga menimbulkan perbedaan dalam masyarakat. Perbedaan yang dimaksud yaitu muslimah berhijab pada dasarnya sama saja dalam Islam tetapi kenyataannya ada sekelompok muslimah yang membentuk kelompok tertentu. Subyek penelitian ini adalah komite Hijabers Community Yogyakarta. Temuan penelitian menunjukkan bahwa di kalangan komite Hijabers Community Yogyakarta telah berkembang konsumerisme yang terlihat dari barang dan jasa yang mereka konsumsi serta pilihan aktivitas waktu luang yang merujuk pada munculnya leisure class. Relasi pertemanan dan kesamaan latar belakang pendidikan serta ekonomi menyebabkan para komitenya memiliki struktur konsumsi dan pilihan aktivitas waktu luang yang hampir sama. Dari segi struktur konsumsi terlihat dari konsumsi penampilan, konsumsi makanan, dan konsumsi kultural para komite yang selalu up to date. Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa Hijabers Community Yogyakarta menjadi lahan subur berkembangnya konsumerisme yang dapat dilihat dari aktivitas mereka di dalam maupun di luar komunitas. Hal tersebut tidak mencerminkan komunitas yang memiliki nilai keagamaan dominan. Aktivitas yang merujuk pada budaya leisure time justru lebih dominan padahal Islam tidak menyukai hal-hal yang berlebihan. Selain itu munculnya pembedaan antara komunitas tersebut dengan kelompok lain menimbulkan keeksklusifan tersendiri bagi Hijabers Community Yogyakarta sehingga menciptakan jarak dengan kelas social di bawahnya. Namun dari semua uraian mengenai Hijabers Community Yogyakarta terdapat hal positif yang ditunjukkan oleh kemunculan komunitas tersebut. Hijabers Community Yogyakarta yang merupakan komunitas keagamaan dimana aktivitas di dalamnya terlihat lebih mengutamakan hal yang bersifat duniawi pada faktanya tetap mempertimbangkan hal yang agamis, walaupun dalam porsi yang sedikit. Misalnya, aturan mengenai no legging, no jeans, and no tight, yang menunjukkan bahwa mereka berusaha berpenampilan syar’i. Selain itu peserta yang dapat mengikuti semua event Hijabers Community Yogyakarta hanyalah muslimah, yang menunjukkan bahwa mereka tetap menjaga jarak dengan lawan jenis sesuai syariat Islam. Penceramah yang diundang pun hanya ustadzah sebagai bentuk komitmen mereka bahwa lawan jenis tidak dapat menjadi bagian dari event mereka.

Lifestyle is a person's behavior or attempt to identify themselves as a particular class, in this case is the upper class. Lifestyle can be seen from various sides, and the focus of study in this thesis is about consumption practiced in your leisure time that will form a certain lifestyle. Communities that are the focus of this thesis is Hijabers Community Yogyakarta which contains a bunch of women who wear hijab. The community has some of the activities, such as Tausyiah, hijab class, class beauty, and charity. This study that seeks to explore how the structure of consumption and choice of leisure activity practiced by Hijabers Community Yogyakarta committee will describe certain lifestyle so that they can identify with their common and distinguish them from the masses. The research was conducted in Yogyakarta with descriptive qualitative method, which is supported by data from in-depth interviews, observation, and documentation to describe the activities that make up a particular lifestyle, causing a difference in the community. The difference is that a Muslim hijab is essentially the same in Islam but in fact there is a group of Muslim women who form a particular group. The subjects of this study are the committee of Hijabers Community Yogyakarta. The findings show that among the committee of Hijabers Community Yogyakarta has developed consumerism that is visible from the goods and services which they consume as well as a leisure activity options that refer to the emergence of the leisure class. The relation of friendship and equality of educational background and economic causes the committee to have the structure of consumption and choice of leisure activity that is almost the same. In terms of consumption, the structure is visible from the appearance consumption, food consumption, and cultural consumption of the committee that is always up to date. From this study it can be concluded that the Community Hijabers Yogyakarta becomes a fertile ground for growing consumerism that can be seen from their activities inside and outside the community. It does not reflect that the community has a dominant religious values, which refers to their culture of leisure time activity that is actually even more dominant, when Islam itself does not like things that are redundant. In addition, the emergence of the distinction between the communities and other groups poses its own exclusivity for Hijabers Community Yogyakarta thus creating distance with the underlying social class. However, of all the descriptions regarding Hijabers Community Yogyakarta, there are positive things indicated by the appearance of the community. Hijabers Community Yogyakarta is a religious community in which the activities in it looks prefer the profane things, but in fact, still consider it a religious, although in small portion. For example, the rules regarding no leggings, no jeans, and no tights, which show that they are trying to look Shar'ie. In addition, participants who can follow all the events Hijabers Yogyakarta are only Muslimah, which indicates that they keep a distance with the opposite sex as the Islamic Shari'a has told. Invited speaker is only Ustadzah, which refers to their commitment that the opposite sex can not be a part of their event.

Kata Kunci : Kelas, Konsumsi, Waktu Luang, Komunitas