EVALUASI BEBERAPA METODE PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI DKI JAKARTA
PATAR LUHUT PANJITAN, dr. Tribaskoro Tunggul Satoto, M.Sc, PhD; drg. Dibyo Pramono, SU, MDSc
2015 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/ELLatar belakang Kota DKI Jakarta merupakan daerah endemis penyakit DBD dengan angka insiden rate tahun tahun 2009 sebesar 313,4/100.000 penduduk. Pemberantasan penyakit terutama ditujukan dengan memberantas vektor untuk memutus rantai penularan penyakit. Memutuskan mata rantai perkembangan nyamuk dapat dilakukan dengan pengunaan insektisida antara lain pyriproxyfen dan temephos. Pyriproxyfen dapat membunuh larva dan pupa. Temephos secara signifikan dapat membunuh larva mencapai 100 selama 6 hari sedangkan pyriproxyfen secara statistik lebih efektif membunuh pupa mencapai 80% - 90%. Tujuan Mengetahui perbedaan hasil intervensi pyriproxyfen, temephos dan foging fokus (malation) terhadap indek entomologi Aedes aegypti (ABJ, HI, CI) di DKI Jakarta. Metode Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuasi dengan rancangan pre pos with control time seris design. Objek penelitian diberi perlakuan pyriproxyfen sediaan granul dengan dosis 0,025 ppm dan temephos dengan dosis 1 ppm serta intervensi foging fokus. Penelitian dilakukan di DKI Jakarta Selatan. Populasi adalah RT terpilih berdasarkan persetujuan dari Kepala Desa setempat dan yang mempunyai risiko terjadinya penularan penyakit DBD. Pengambilan sampel pada penelitian dilakukan dengan sistematic random sampling dengan jumlah sampel untuk perlakuan sebesar 51 sampel dan kelompok pembanding sebesar 51 sampel. Pengamatan index entomologi dilakukan sebelum dan setelah intervensi dan dihitung ABJ, CFR DBD, IR DBD. Analisis data bivariat dilakukan dengan uji independent t test dan analisis multivariat dengan regresi linier. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antara pengamatan ke-1 dan pengamatan ke-2 pada variabel Jumlah kasus, ABJ, insiden rate, dan CFR p = < 0.01. Terdapat perbedaan CFR yang signifikan antara program pirypyroxyfen dan themophos p = 0.007. Berdasarkan Insiden rate terdapat perbedaan yang signifikan antara pirypyroxyfen dan themophos p = 0.007. Pada variabel jumlah kematian, angka bebas jentik dan case fatality rate tidak terdapat perbedaan yang signifikan p = > 0.05. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan program pirypyroxyfen, themopos, dan foging focus terhadap penurunan angka kasus DBD, Kematian DBD, IR DBD, dan CFR DBD. Pirypyroxyfen dan themophos lebih berdampak pada penurunan agka kejadian DBD dan insiden rate DBD
-
Kata Kunci : temephos, pyriproxyfen, foging fokus, demam berdarah.