PENGARUH FAKTOR-FAKTOR KAPASITAS ADAPTASI TEHADAP TINGKAT RESILIENSI KOMUNITAS MAGELANG DAN MENTAWAI PASCABENCANA
Arshinta, Dra. Yayi Suryo Prabandari M.Si, Ph.D; M. Agus Priyanto, SKM, M.Kes
2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Banyaknya kejadian bencana mendorong perlunya perubahan paradigma dalam penanganan bencana dari respon kedaruratan ke penanganan yang berorientasi pada peningkatan resiliensi terhadap bencana. Erupsi Gunung Merapi di Jawa Tengah dan gempa serta tsunami di Mentawai 2010 menimbulkan dampak yang tidak sedikit dan respon daurat, rehabilitasi dan pembangunan kembali yang membutuhkan biaya besar. Situasi pascabencana adalah momen yang tepat untuk melakukan analisis tingkat resiliensi komunitas terhadap bencana sebelumnya karena dapat membantu berbagai pihak melihat kapasitas adaptasi komunitas terhadap bencana sebelumnya dan untuk memastikan bahwa proses pemulihan dan investasi pembangunan berikutnya akan lebih efektif serta lestari. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor kapasitas terhadap tingkat resiliensi komunitas di daerah pascabencana yang relatif terisolasi (Mentawai) dan di daerah pascabencana yang tidak terisolasi (Magelang) serta perbedaan tingkat resiliensi komunitas di 2 wilayah tersebut. Metodologi: Penelitian ini menggunakan data sekunder dari hasil survei tingkat resiliensi komunitas di wilayah Magelang dan Mentawai yang dilakukan pada bulan Juli 2012 oleh YAKKUM Emergency Unit Yogyakarta. Hasil: Masyarakat di wilayah Magelang memiliki kemungkinan 2.63 kali lebih tinggi untuk merasakan dampak bencana dibandingkan dengan masyarakat di Mentawai, Mentawai mempunyai kemungkinan 9,48 kali lebih besar untuk memiliki sensitivitas sistem pendukung penanganan bencana yang rendah dibandingkan dengan masyarakat di Magelang, Mentawai memiliki kemungkinan 2,58 kali lebih besar untuk memiliki strategi koping rendah dibandingkan dengan komunitas di Magelang, komunitas di Mentawai memiliki kemungkinan 4,4 kali lebih besar untuk memiliki kapasitas adaptasi rendah dibandingkan dengan di Magelang. Interaksi faktor-faktor kapasitas adaptasi tersebut membuat komunitas di Magelang memiliki kemungkinan 2.54 kali lebih besar untuk memiliki resiliensi rendah dibandingkan dengan di Mentawai. Terdapat perbedaan bermakna tingkat resiliensi antara wilayah Magelang dan Mentawai dan hal tersebut dipengaruhi oleh: perbedaan bermakna dalam faktor paparan dampak bencana, faktor sensitivitas sistem pendukung, dan faktor strategi koping. Selain itu terdapat korelasi positif antara faktor paparan dampak bencana dan faktor kapasitas adaptasi dengan tingkat resiliensi di Magelang dan Mentawai. Kesimpulan: Tingkat resiliensi masyarakat pascabencana di Magelang lebih rendah dibandingkan dengan di Mentawai. Ada hubungan positif antara faktor kapasitas adaptasi dengan tingkat resiliensi. Semakin tinggi kapasitas adaptasi, semakin tinggi tingkat resiliensi suatu komunitas.
Background: Many disastersstrikes actually create strong needs to shift the paradigm in disasters management from disasters responses into strengthening community resilience towards disasters. The eruption of Merapi volcano in Central Java, earthquake and tsunami in Mentawaitook place in 2010 brought huge casualties and the response, early recovery and development in those areas need huge financial resource. The post disaster situation is appropriate moment to do such analysis in disaster resilience as it helps various stakeholders to see the adaption capacity and ensure the next recovery and development investment will be more efficient, effective and sustainable. Objectives: This research was aimed at measuring the influence of various factors in adaptation capacity towards the community resilience post disasters in relatively isolated area like Mentawai and not isolated one like Magelang as well as the difference in their resilience level. Methods:Thisresearch used the secondary data of community resilience survey in Magelangand Mentawaidone in July 2012 by YAKKUM Emergency UnitYogyakarta. Result: Community in Magelanghas 2.63 times higher chances to feel the impact of disasters compared to ones in Mentawai; people in Mentawaihas 9,48bigger chances to have low sensitivity of system in responding disasters compared to community in Magelang;people in Mentawaialso has 2,58 bigger chances to have poor coping strategy compared to ones in Magelang; people in Mentawai has 4,4 bigger chance to have low adaptive capacity compared to ones in Magelang. Factors in adaptation capacity interact and create community in Magelanghave 2.54 higher chances to have lower disasters resilience compared to ones in Mentawai. There is a significant difference between the community resilience in Magelangand Mentawai and it is influenced by significant difference in terms of exposures towards disaster impact, sensitivity, and coping strategy. Besides there is a positive correlation between exposures of disaster impacts and resilience and positive correlation between capacity adaption factors towards the community disasters resilience in Magelangand Mentawai. Conclusion:The disasters resilience of community in Magelangis lower than one in Mentawai. There is a positive correlation between exposure of disaster impact and adaptation capacity factors to community resilience. Higher exposure of disaster impact reduces community resilience. Higher adaptation capacity makes higher community resilience.
Kata Kunci : resiliensi, bencana, kapasitas, adaptasi, Magelang, Mentawai