DETERMINAN SOSIAL DAN LINGKUNGAN FISIK PERILAKU CUCI TANGAN REMAJA AWAL WILAYAH PERKOTAAN DI INDONESIA
LINDA SETIYOWATI, Prof. dr. Hari Kusnanto, S.U.,Dr.PH; DR. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA
2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Penyakit menular merupakan musuh berbahaya yang dihadapi oleh dunia. WHO mencatat bahwa jutaan orang setiap tahunnya meninggal karena penyakit menular ini. Untuk mengantisipasi dari penyebaran penyakit menular ini salah satunya dengan melakukan upaya kesehatan yang bernama cuci tangan pakai sabun. Kampanye akan kegiatan ini sudah menyebar di seluruh dunia dan menyasar ke segala aspek sosial di masyarakat. Namun angka perilaku cuci tangan ini masih sedikit dan perlu perhatian, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Indonesia sudah menyadari pentingnya perilaku cuci tangan sejak lama. Hampir dua dekade berlalu sejak dilucurkannya program dan angka perilaku cuci tangan penduduk tidak sampai 50% dengan para kaum remaja di barisan paling bawah perilaku cuci tangannya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku cuci tangan pada remaja awal dilihat dari unsur sosiodemografi, sosioekonomi, dan lingkungan fisiknya. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan data sekunder Riskesdas 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional untuk melihat ada atau tidaknya hubungan yang bermakna antar variabel. Sampel yang digunakan di dalam penelitian adalah seluruh remaja berumur 10-14 tahun yang menjadi sampel Riskesdas 2013 yang tinggal di wilayah perkotaan. Hasil: Dari penelitian ini diketahui pada variabel umur kelompok 13 dan 14 tahun memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku mencuci tangan dengan OR sebesar 1,164 dan 1,143. Variabel jenis kelamin menghasilkan hubungan yang signifikan terhadap perilaku mencuci tangan dengan nilai OR sebesar 1,379. Pada variabel pekerjaan orangtua, pada kelompok PNS/TNI/Polri/BUMD dan pegawai swasta berhubungan secara signifikan dengan nilai OR masing-masing sebesar 1,219 dan 1,196. Terakhir adalah variabel status ekonomi kelompok kuintil 3, 4, dan 5 berhubungan secara signifikan dengan nilai OR masing-masing sebesar 1,452; 1,555; dan 1,801. Kesimpulan: Angka cuci tangan di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Gambaran akan kesadaran mencuci tangan di kalangan remaja masih cukup rendah yaitu sebesar 52,82%. Variabel yang memiliki determinan terhadap perilaku mencuci tangan pada remaja adalah umur, jenis kelamin, pekerjaan orangtua, dan status ekonomi keluarga.
Background: Communicable diseases have become a serious problem in the world. WHO noted that millions of people die each year caused by communicable disease. To anticipate the spread of communicable diseases, one of many health efforts is to do hand washing with soap. This kind of campaign already expressed in many aspects of society all over the world. But, unfortunately hand washing rates are still off the target and need more attention, especially in developing countries such as Indonesia. Indonesia had been warned long time ago. It’s almost two decades since the programme and handwasing rate is still below 50%, the adolescents is the worst age group for handwahing. Objective: The research is to determine the determinants of handwashing behavior, observed from sosiedemographic elements, sosioeconomics, and physical environment. Method: This is a quantitative research using seconder data from Riskesdas 2013. Cross sectional design is used in the research to see meaning associations among variables. 10-14 year old adolescent in urban areas in Riskesdas 2013 was used as samples. Results: From the research we know that preadolescents aged 13 and 14 have significant association to hand washing with OR rate 1,164 and 1,143. Gender also has a significant association to hand washing practice among preadolescents with OR rate 1,379 on female. PNS/TNI/Polri/BUMD and private employees have a significant association to hand washing practice with OR rate 1,219 and 1,196. And the last is economic status variable that has significant association on quintil 3, 4, and 5 with OR rate 1,452; 1,555; and 1,801. Conclusion: Indonesian hand washing rate need to be enhanced. The hand washing rate among preadolescents is still low, it’s only 52,82%. Variables with significant association with hand washing practice among preadolescents are age, gender, parent’s occupation, and family economic status.
Kata Kunci : cuci tangan, determinan sosial, lingkungan fisik, perkotaan, remaja awal.