PERBANDINGAN HABITAT MANGROVE ANTARA KAWASAN EKOWISATA DAN ALAMI DENGAN METODE ANALISIS KLASTER DI PRAPAT BENOA BALI
DEWA AYU TISMAYUNI, Prof. Dr. Erny Poedjirahajoe, MP. ; Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc.
2015 | Tesis | S2 Ilmu KehutananEkosistem mangrove Prapat Benoa dengan luas 1.379,55 ha berada di kabupaten Badung dan Kodya Denpasar, wilayah ini selain menjadi pusat pemerintahan provinsi Bali juga merupakan salah satu pusat pariwisata di wilayah Bali bagian selatan. Himpitan alih fungsi kawasan mangrove sebagai kawasan hijaupun semakin tinggi, disisi lain pemanfaatan kawasan mangrove Prapat Benoa sebagai kawasan ekowisata masih sangat minimal untuk itu perlu pengoptimalan fungsi kawasan dengan memperhatikan kondisi ekologi kawasan sehingga dapat berkelanjutan (sustainable). Maka diperlukan penelitian untuk mengetahui perbedaan kondisi ekosistem mangrove yang sudah dimanfaatkan untuk ekowisata dengan ekosistem mangrove yang masih alami atau belum adanya pemanfaatan. Selain itu perlu diketahui pengelompokkan kondisi ekosistem mangrove di hutan mangrove Prapat Benoa, sehingga kawasan alami yang memiliki kondisi ekosistem yang mirip dengan kawasan yang sudah dimanfaatkan untuk ekowisata, dapat dikembangkan menjadi kawasan ekowisata. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data primer di lapangan, metode sampling yang dipilih dalam penelitian ini yaitu dengan metode transek garis dan petak contoh (Transect Line Plot). Dengan intensitas sampling 0,04 % diperoleh 60 plot penelitian (20 transek) yang tersebar 51 plot (18 transek) di kawasan mangrove alami dan 9 plot (3 transek) di kawasan mangrove yang sudah dimanfaatkan untuk ekowisata. Variabel penelitian yang diambil yaitu kerapatan vegetasi, keanekaragaman jenis vegetasi, jumlah jenis vegetasi, keanekaragaman jenis plankton, kepadatan plankton, keanekaragaman jenis makrobenthos, kelimpahan makrobenthos, suhu, salinitas, pH, kandungan oksigen terlarut, dan kedalaman lumpur. Berdasarkan hasil analisis uji beda diperoleh tidak ada perbedaan signifikan antara ekosistem mangrove alami dan ekosistem mangrove untuk ekowisata namun perlu diperhatikan mengenai keberlanjutan dari jenis-jenis asli yaitu Sonneratia alba dan Rhizophora apiculata. Setelah dilakukan anilisis cluster diperoleh 8 relief pada kawasan ekosistem mangrove Prapat Benoa dan terdapat 3 relief yang didalamanya memiliki anggota plot ekosistem mangrove alami dan ekosistem mangrove yang telah dimanfaatkan untuk ekowisata. Ada 797,45 Ha mangrove alami yang dapat dikembangkan untuk kawasan ekowisata.
The mangrove habitat in Prapat Benoa, Bali with width of 1,379.55 ha was located in Badung Regency and Denpasar Municipality. This area besides the centre of Bali province government was also one of tourism centre in southern Bali. The crush of mangrove area function transfer as a green belt was getting higher. In other side, the utilization of Prapat Benoa region as an ecotourism region was still minimal so that it was needed to optimize the region function by noticing region ecology condition so that it could be sustainable. Therefore, it was necessary a research to know the difference of mangrove ecosystem condition already utilized for ecotourism with mangrove ecosystem that was still natural and still no utilization. Besides, it was necessary to know that the classification of mangrove ecosystem condition in mangrove forest of Prapat Benoa so that the natural region in which it had an ecosystem similar with the region already developed for ecotourism could be developed into ecotourism region. This research was conducted by taking a primary data in the field, sampling method selected in this research i.e. by transect line plots. By sampling intensity of 0.04% it obtained 60 research plots (20 transects) spread in 51 plots (18 transects) in natural mangrove region and 9 plots (3 transects) in an already-utilized for ecotourism region. Research variable taken i.e. vegetative tightness, vegetation biodiversity, vegetative variety number, plankton variety biodiversity, plankton tightness, microbenthos varieties, macrobenthos abundance, temperature, salinity, pH, dissolved oxygen content and mud depth. Based on a different test analysis results it obtained that there was no significant difference between natural mangrove ecosystem and mangrove ecosystem for ecotourism, however, it was necessary to notice on sustainability from original varieties i.e. Sonneratia alba and Rhizophora apiculata. After cluster analyses conducted, it obtained 8 reliefs in Prapat Benoa mangrove ecosystem region and there was 3 reliefs that had natural mangrove ecosystem plot members and mangrove ecosystem that had been utilized for ecotourism. There were 797,45 Ha of natural mangrove that could be developed for ecotourism region.
Kata Kunci : mangrove, ekowisata, cluster