Laporkan Masalah

STRATEGI DIPLOMASI PEMERINTAH INDONESIA DALAM MENDUKUNG INDUSTRI FARMASI MENGUASAI PASAR POTENSIAL VAKSIN GLOBAL (STUDI KASUS : PT. BIO FARMA (PERSERO))

BQ. VINA AYUNING T., Dra. Siti Daulah Khoiriati, MA.

2015 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional

Penelitian ini berupaya untuk mengetahui upaya diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mendukung industri farmasi, khususnya industri vaksin tunggal yang dimilikinya dalam memasuki pasar potensial vaksin global. Jangkauan waktu yang digunakan dalam penelitian ini antara tahun 2009 hingga 2013. Strategi diplomasi yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia termasuk sebagai multistakeholder diplomacy dimana aktor diplomasi tidak hanya terbatas pada negara tetapi juga aktor lain seperti perusahaan atau dalam hal ini BUMN yang bergerak di dalam penelitian, pengembangan dan produksi vaksin yaitu PT. Bio Farma (Persero). Sebagai perusahaan yang bergerak dalam perdagangan vaksin Bio Farma dapat dikatakan sebagai late comer firm karena merupakan perusahaan dari negara berkembang yang unggul dalam teknologi vaksin imunisasi dasar, dibuktikan dengan dengan Pre-Qualification dari World Health Organization. Kendala yang dihadapi oleh Bio Farma dalam menguasai pasar vaksin global adalah akses pasar yang masih terbatas pada vaksin imunisasi dasar sedangkan persaingan dengan The Big Five Vaccine Manufacturers menuntut Bio Farma untuk mengembangkan teknologi agar dapat turut bermain dalam pasar vaksin imunisasi lanjutan. Untuk mengatasi kendala akses pasar, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kesehatan membantu Bio Farma untuk memasuki pasar potensial baru negara-negara anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC) dengan menawarkan transfer teknologi. Kendala dalam bidang pengembangan teknologi untuk vaksin imunisasi lanjutan diatasi dengan menginisiasi pembentukan Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) untuk mempermudah penelitian bagi pengembangan vaksin lanjutan. Peran Global Alliance for Vaccine Initiatives (GAVI) dalam mendukung program imunisasi global dan mensupport perkembangan industri vaksin negara berkembang telah merubah arah perkembangan penjualan vaksin global, negara berkembang secara bertahap didorong untuk tidak lagi tergantung pada vaksin yang diproduksi oleh MNC dan mulai dialihkan menggunakan vaksin produksi industri negara berkembang yang telah memperoleh PQ-WHO. Kata Kunci: late comer firm, PT. Bio Farma (Persero), Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, multistakeholder diplomacy, OIC, DCVMN, GAVI.

This research aims to find out the diplomacy strategy of the government of Indonesia to support pharmaceutical industry particularly its single vaccine industry on entering global vaccine potential market. The research period is 2009 to 2013. The diplomacy strategy by the Indonesian government is multistakeholder diplomacy. The actors engaged on multistakeholder diplomacy is far more diverse, including states and other actors for example company, or in this research Indonesian state company PT. Bio Farma (Persero). Bio Farma has known for years for its research, development, dan vaccine production. As a global company, Bio Farma classified as late comer firm because it comes from developing country and excellence on basic immunization vaccine technology proved by the Pre-Qualification from World Health Organization. The constraints on Bio Farma’s effort to dominate global vaccine markets is the limit access focusing on basic immunization vaccine meanwhile the competition with The Big Five Vaccine Manufacturers needs technology development for advanced immunization vaccine. To exceed the limited market access, the Ministry of Foreign Affairs and the Ministry of Health are supporting Bio Farma to get new potential market of Organization of Islamic Cooperation (OIC) state members with offers of technology transfer. The constraints on advanced vaccine technology development exceeded with the initiation of forming Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) to facilitate the research for new advanced vaccine. Global Alliance for Vaccine Initiatives (GAVI) roles on Global Immunizations Program and supporting developing countries vaccine manufacturers has changed the vaccine global selling. Developing countries dependencies on vaccine product by MNC gradually reduced by GAVI. GAVI is now supporting the developing countries vaccine industry with PQ to fulfill the vaccine demands of the developing countries. Keywords: late comer firm, PT. Bio Farma (Persero), Ministry of Foreign Affairs, Ministry of Health, multistakeholder diplomacy, OIC, DCVMN, GAVI

Kata Kunci : late comer firm, PT. Bio Farma (Persero), Ministry of Foreign Affairs, Ministry of Health, multistakeholder diplomacy, OIC, DCVMN, GAVI; late comer firm, PT. Bio Farma (Persero), Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, multistakeholder diplomacy,


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.