Reka Cipta Kembali Tradisi pada Peringatan Hari Raya Orang Tionghoa di Yogyakarta: Studi Kasus Perayaan Imlek, Peh Cun dan Tiong Jiu
REZZA MAULANA, Dr. GR Lono Lastoro Simatupang
2015 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGITesis ini adalah usaha untuk merekam, memahami dan menjelaskan sebuah fenomena reka cipta kembali tradisi orang Tionghoa di ruang publik melalui pagelaran budaya saat merayakan hari besar Tionghoa. Hari besar Tionghoa yang dimaksud adalah Tahun Baru Imlek, Peh Cun dan Tiong Jiu. Fenomena ini muncul di beberapa kota besar sebagai respon sadar orang Tionghoa pada zaman keterbukaan pasca Orde Baru, khususnya setelah Presiden Abdurrahman Wahid mencabut peraturan pembatasannya tahun 2000. Pagelaran budaya Tionghoa yang berlangsung di Yogyakarta mempunyai karakter yang berbeda dibandingkan dengan kota lain, seperti di Pontianak, Jakarta atau Surabaya. Secara konseptual tradisi yang dibangun adalah identitas peranakan Tionghoa – Jawa. Tetapi karena kondisi materialnya terbatas, panitia pagelaran memberikan keleluasaan pada paguyuban – paguyuban Tionghoa untuk menampilkan kreatifitas yang banyak terkandung unsur popular daripada tradisional. Selain itu, dari segi estetiknya banyak merujuk pada gaya tradisi di negeri China daripada orang Tionghoa di Indonesia. Menariknya adalah acara pergelaran berformat festival ini justru diinisiasi oleh akademisi kampus dari UGM. Awalnya sebagian besar anggota komunitas tionghoa masih ragu-ragu merespon ajakan dari komunitas akademis, karena mereka tidak hanya telah mempunyai acara sendiri (perayaan keluarga dan paguyuban) tetapi mereka juga masih terbersit rasa trauma pada peristiwa 1965. Setelah yakin bahwa festival ini mendapat dukungan dari penguasa daerah (walikota dan gubernur), maka komunitas tionghoa bersungguh – sungguh terlibat dalam pengelolaan. Bahkan saat ini, komunitas tionghoa mempunyai lembaga sendiri bernama Jogjakarta Chinese Art and Culture Center (JCACC) yang tujuannya melestarikan tradisi tionghoa dan sekaligus mengelola ketiga festival tersebut. Kini ketiga festival tersebut, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, Festival Perahu Naga dan Festival Kue Bulan, tidak hanya menjadi acara tradisi semata, tetapi juga telah menjadi salah satu tujuan wisata budaya Yogyakarta. Konsekuensi dari itu adalah semakin banyak pihak yang menaruh kepentingan, baik ekonomi, sosial politik dan simbolik. Kata kunci: reka cipta tradisi, festival, tionghoa-jawa
This thesis is an effort to record, understand, and explain the reinvented phenomena of Chinese tradition in public space through cultural performances in celebrating Chinese festivals, such Chinese New Year, Peh Cun, and Tiong Jiu. These phenomena arise in several cities as a response of the openness for Chinese people in the post-authoritarianism regime, especially after President Abdurrahman Wahid revoked its restriction in 2000. Chinese cultural performance which was held in Yogyakarta has different characters comparing to any other cities such as Pontianak, Jakarta or Surabaya. Conceptually, the tradition that was trying to be built is the identity of Sino-Javanese tradition. But the committee realized that Chinese community has difficulty in performing their tradition since it was banned by Soeharto regime for a long time due to lack of materials and sources. The committee decided to let the Chinese communities perform their creativity most in its popular way than traditional way. In the other hand, the performance referred to the Chinese culture in their mainland. Interestingly, this cultural performance (in the form of festival) was initiated by academics from University of Gadjah Mada. Initially, most of the Chinese community was in doubt in responding for the opportunity since not only they had their own event, but also they were still overshadowed by bad experience in 1965 incident. After being convinced that this festival was supported by the governor and mayor, finally the Chinese community involved heartily in the management. Recently, the Chinese community even has their own society called Jogjakarta Chinese Art and Culture Center (JCACC) which purpose is to preserve the Chinese tradition and also manage those three festivals. Nowadays, those three festivals, Chinese New Year, Dragon Boat, and Moon Cake Festivals are not only becoming a cultural event, but also one of cultural tourism destination of Yogyakarta. As the consequences, there are many parties put their interest, in economic, social, politic and symbolic through these events. Keyword: Invented Tradition, Festivals, Sino-Javanese
Kata Kunci : reka cipta tradisi, festival, tionghoa-jawa; Invented Tradition, Festivals, Sino-Javanese