PERILAKU POLITIK ELIT MUHAMMADIYAH PASCA ORDE BARU DI MAKASAR (1999-2004)
FATMAWATI, S.S., Dr. Suharko
2015 | Tesis | S2 SosiologiMuhammadiyah merupakan salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar di Inodonesia, dan bukan merupakan organisasi politik. Komitmen Muhammadiyah untuk lebih mengutamakan bidang dakwah, pendidikan dan kesejahteraan diwujudkan secara nyata dalam masyarakat, dan belum pernah berubah menjadi organisasi politik atau partai politik. Namun Muhammadiyah bukan berarti anti politik, tetapi Muhammadiyah senantiasa turut serta mewarnai dinamika perpolitikan Indonesia melalui peran politik yang dimainkan oleh para elite Pimpinan Muhammadiyah. Demikian halnya ketika terjadi perubahan iklim politik di Indonesia tahun 1998 yang dikenal dengan era reformasi yang menghadirkan sistem politik multi partai, maka tercipta pula dinamika politik di kalangan elite dan warga Muhammadiyah sebagai wujud respon dan kepedulian terhadap perubahan situasi politik nasional tersebut. Dinamika politik baru dalam Muhammadiyah bukan hanya terjadi di tingkat elite Pusat, tetapi juga terjadi di daerah atau tingkat pimpinan wilayah dan kabupaten/kota. Untuk mendapatkan gambaran empirik tentang perilaku politik elite Muhammadiyah ini, dipilih tempat penelitian di Kota Makassar yang merupakan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Dengan pertimbangan bahwa Muhammadiyah Kota Makassar memiliki peran penting dalam dinamika perkembangan Muhammadiyah di wilayah Timur Indonesia. Adapun rumusan permasalahan yang hendak diteliti adalah sebagai berikut; Pertama, bagaimana profil elite dalam kepemimpinan Muhammadiyah pasca Orde Baru tahun 1999-2004? Kedua, bagaimana kecenderungan perilaku politik elite Muhammadiyah pasca Orde Baru di Makassar? Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian fenomenologi. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam (depth interview) terhadap beberapa informan yang dipilih dari kalangan elite Muhammadiyah Makassar, yang dapat memberikan data yang diperlukan dalam rangka mengetahui dan menggambarkan subyek yang diteliti. Dari Penelitian ini diperoleh gambaran bahwa perilaku politik elite Muhammadiyah Makassar cenderung mengalami pergeseran dan keragaman orientasi politik terhadap maraknya partai politik pasca Orde Baru serta konfigurasi elite yang menunjukkan besarnya minat elite Muhammadiyah Makassar merespon kehadiran partai politik baru, baik yang didirikan oleh mantan ketua PP Muhammadiyah yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) maupun partai politik Islam lainnya. Kecenderungan perilaku politik (elite) Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika politik (multi partai ) dapat dibagi menjadi 4 kategori yaitu sebagai berikut: pertama, elite Muhammadiyah tetap konsisten dengan khittah Muhammadiyah yang tidak berafiliasi dengan partai politik manapun, dengan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada individu-individu untuk menyalurkan aspirasi politiknya sepanjang tidak menyimpang dari garis perjuangan Muhammadiyah. Kelompok ini berpandangan bahwa elite dan warga Muhammadiyah harus tetap memelihara keutuhan dan kepentingan Muhammadiyah di atas kepentingan pribadi dan kelompok politik, yaitu mempertahankan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, dan tidak membawa Muhammadiyah ke ranah politik praktis. Kedua, elite Muhammadiyah Makassar memberikan dukungan sepenuhnya terhadap Partai Politik Amanat Nasional, yang dirikan oleh M.Amien Rais yang merupakan salah seorang tokoh Muhammadiyah (mantan ketua PP Muhammadiyah). Elite dalam kategori ini menjadi inisiator, dan kemudian banyak di antaranya yang aktif sebagai pengurus atau pimpinan PAN. mereka berpandangan bahwa karena krisis multidimensi dan untuk mengawal kelangsungan refomasi maka kader-kader potensial di Muhammadiyah harus mengambil peran politik melalui jalur politik praktis. Dan karenanya PAN yang inklusif diharapkan sebagai wadah politik yang efektif dalam keikutsertaan dalam upaya perubahan dan pembangunan sistem politik yang demokratis. Ketiga, elite Muhammadiyah Makassar memberikan dukungan kepada partai politik yang berazas Islam, dengan pandangan bahwa Azas Islam itu adalah landasan perjuangan, karena itu memiliki arti penting sebab landasan menentukan arah dan metode perjuangan. Bagi seorang muslim, seluruh aktivitasnya adalah beribadah, termasuk ketika berpolitik. Jadi Aqidah dan ibadah itu tidak terpisah. Partai berazas Islam itu sesuai dengan tujuan Muhammadiyah yaitu mewujudkan terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Selain itu, Islam sebagai asas partai berfungsi menyatukan ummat Islam yang besar ini sebagai satu kekuatan. Keempat, elite Muhammadiyah bersikap akomodatif, yaitu mengambil sikap tidak terlibat langsung dalam partai politik secara formal, tetapi tetap mendukung peran politik Muhammadiyah melalui peran komunikasi politik ke pemerintah dan berbagai kelompok dan golongan dalam masyarakat. Kelompok ini berpandangan bahwa kader-kader potensial Muhammadiyah dapat menjalankan peran masingmasing dalam mendukung dakwah Muhammadiyah dalam pemerintahan dan politik. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah, bahwa dinamika internal dalam Muhammadiyah Makassar pasca Orde Baru tahun 1999-2004 sangat dipengaruhi oleh dinamika politik eksternal Muhammadiyah, yang kemudian membawa pengaruh bagi perilaku politik elite dalam merespons peta politik yang berubah. Jika sebelumnya banyak elite pimpinan Muhammadiyah pada umumnya tidak terlibat dalam partai politik, namun pasca Orde baru terjadi dinamika dan perluasan peran politik elite Muhammadiyah. Kata Kunci: Muhammadiyah-Elite-Perilaku Politik- Pasca Orde-Baru (1999-2004).
Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar di Inodonesia, dan bukan merupakan organisasi politik. Komitmen Muhammadiyah untuk lebih mengutamakan bidang dakwah, pendidikan dan kesejahteraan diwujudkan secara nyata dalam masyarakat, dan belum pernah berubah menjadi organisasi politik atau partai politik. Namun Muhammadiyah bukan berarti anti politik, tetapi Muhammadiyah senantiasa turut serta mewarnai dinamika perpolitikan Indonesia melalui peran politik yang dimainkan oleh para elite Pimpinan Muhammadiyah. Demikian halnya ketika terjadi perubahan iklim politik di Indonesia tahun 1998 yang dikenal dengan era reformasi yang menghadirkan sistem politik multi partai, maka tercipta pula dinamika politik di kalangan elite dan warga Muhammadiyah sebagai wujud respon dan kepedulian terhadap perubahan situasi politik nasional tersebut. Dinamika politik baru dalam Muhammadiyah bukan hanya terjadi di tingkat elite Pusat, tetapi juga terjadi di daerah atau tingkat pimpinan wilayah dan kabupaten/kota. Untuk mendapatkan gambaran empirik tentang perilaku politik elite Muhammadiyah ini, dipilih tempat penelitian di Kota Makassar yang merupakan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Dengan pertimbangan bahwa Muhammadiyah Kota Makassar memiliki peran penting dalam dinamika perkembangan Muhammadiyah di wilayah Timur Indonesia. Adapun rumusan permasalahan yang hendak diteliti adalah sebagai berikut; Pertama, bagaimana profil elite dalam kepemimpinan Muhammadiyah pasca Orde Baru tahun 1999-2004? Kedua, bagaimana kecenderungan perilaku politik elite Muhammadiyah pasca Orde Baru di Makassar? Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian fenomenologi. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam (depth interview) terhadap beberapa informan yang dipilih dari kalangan elite Muhammadiyah Makassar, yang dapat memberikan data yang diperlukan dalam rangka mengetahui dan menggambarkan subyek yang diteliti. Dari Penelitian ini diperoleh gambaran bahwa perilaku politik elite Muhammadiyah Makassar cenderung mengalami pergeseran dan keragaman orientasi politik terhadap maraknya partai politik pasca Orde Baru serta konfigurasi elite yang menunjukkan besarnya minat elite Muhammadiyah Makassar merespon kehadiran partai politik baru, baik yang didirikan oleh mantan ketua PP Muhammadiyah yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) maupun partai politik Islam lainnya. Kecenderungan perilaku politik (elite) Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika politik (multi partai ) dapat dibagi menjadi 4 kategori yaitu sebagai berikut: pertama, elite Muhammadiyah tetap konsisten dengan khittah Muhammadiyah yang tidak berafiliasi dengan partai politik manapun, dengan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada individu-individu untuk menyalurkan aspirasi politiknya sepanjang tidak menyimpang dari garis perjuangan Muhammadiyah. Kelompok ini berpandangan bahwa elite dan warga Muhammadiyah harus tetap memelihara keutuhan dan kepentingan Muhammadiyah di atas kepentingan pribadi dan kelompok politik, yaitu mempertahankan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, dan tidak membawa Muhammadiyah ke ranah politik praktis. Kedua, elite Muhammadiyah Makassar memberikan dukungan sepenuhnya terhadap Partai Politik Amanat Nasional, yang dirikan oleh M.Amien Rais yang merupakan salah seorang tokoh Muhammadiyah (mantan ketua PP Muhammadiyah). Elite dalam kategori ini menjadi inisiator, dan kemudian banyak di antaranya yang aktif sebagai pengurus atau pimpinan PAN. mereka berpandangan bahwa karena krisis multidimensi dan untuk mengawal kelangsungan refomasi maka kader-kader potensial di Muhammadiyah harus mengambil peran politik melalui jalur politik praktis. Dan karenanya PAN yang inklusif diharapkan sebagai wadah politik yang efektif dalam keikutsertaan dalam upaya perubahan dan pembangunan sistem politik yang demokratis. Ketiga, elite Muhammadiyah Makassar memberikan dukungan kepada partai politik yang berazas Islam, dengan pandangan bahwa Azas Islam itu adalah landasan perjuangan, karena itu memiliki arti penting sebab landasan menentukan arah dan metode perjuangan. Bagi seorang muslim, seluruh aktivitasnya adalah beribadah, termasuk ketika berpolitik. Jadi Aqidah dan ibadah itu tidak terpisah. Partai berazas Islam itu sesuai dengan tujuan Muhammadiyah yaitu mewujudkan terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Selain itu, Islam sebagai asas partai berfungsi menyatukan ummat Islam yang besar ini sebagai satu kekuatan. Keempat, elite Muhammadiyah bersikap akomodatif, yaitu mengambil sikap tidak terlibat langsung dalam partai politik secara formal, tetapi tetap mendukung peran politik Muhammadiyah melalui peran komunikasi politik ke pemerintah dan berbagai kelompok dan golongan dalam masyarakat. Kelompok ini berpandangan bahwa kader-kader potensial Muhammadiyah dapat menjalankan peran masingmasing dalam mendukung dakwah Muhammadiyah dalam pemerintahan dan politik. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah, bahwa dinamika internal dalam Muhammadiyah Makassar pasca Orde Baru tahun 1999-2004 sangat dipengaruhi oleh dinamika politik eksternal Muhammadiyah, yang kemudian membawa pengaruh bagi perilaku politik elite dalam merespons peta politik yang berubah. Jika sebelumnya banyak elite pimpinan Muhammadiyah pada umumnya tidak terlibat dalam partai politik, namun pasca Orde baru terjadi dinamika dan perluasan peran politik elite Muhammadiyah. Kata Kunci: Muhammadiyah-Elite-Perilaku Politik- Pasca Orde-Baru (1999-2004).
Kata Kunci : Muhammadiyah-Elite-Perilaku Politik- Pasca Orde-Baru (1999-2004)