KUASA DALAM KEBUNGKAMAN: REPRODUKSI WACANA TERHADAP PEREMPUAN ETNIS CINA KORBAN PEMERKOSAAN DALAM PERISTIWA MEI 1998
RIMA N. BANUREA, Dr. M. Najib Azca
2015 | Tesis | S2 SosiologiOrde Baru has collapsed and Reformasi has come. Automatically, individuals who feel victimized on the previous regime utilizing this situation to struggle for justice. Many people, especially the victims of May Event 1998 in Jakarta doing movement to be heard by state. However, not all individual victims take advantage of Reformasi’s situation like ethnic Chinese women who were rape victim in May Event 1998. They not only ignore the chances in Reformasi, but also they chose to silent. None of them who appear in public, even just to acknowledge that they are victims. This unusual silence will be explained by this thesis. By using Michel Foucault’s concept of power, this thesis will explain the silence of victims through power which operating in reproduction of discourse. Qualitative research methods with genealogy approach used to track and trace discourse, context and specific situation historically and looking for relationship, repetition or discontinuity discourse about ethnic Chinese and discourse about women which will form a strategic and complex situations as background and causes that silence. After that, the results of this study shows that the silence of victims caused by the tight relation of discourse on ethnic Chinese since the VOC until Orde Baru, the discourse about women which produced, controlled and run by a variety of actors, terror, resistances that arise, and the specific situation which operate and constitutes power that comes from many ways. Key words: Silence, Discourse, Power, Rape, May 1998 Event
Orde Baru yang otoriter telah runtuh dan Reformasi yang di dalamnya sedang berlangsung proses demokratisasi telah datang. Otomatis situasi Reformasi yang dianggap lebih ramah dan terbuka dimanfaatkan oleh individu yang merasa menjadi korban terutama pada rezim sebelumnya untuk melakukan perjuangan demi mendapatkan keadilan. Banyak individu terutama yang menjadi korban dalam Peristiwa Mei 1998 yang terjadi di Jakarta pada akhir Orde Baru melakukan gerakan perjuangan agar didengar oleh negara. Namun, tidak semua individu korban melakukan perjuangan ini dan memanfaatkan angin segar reformasi. Para individu korban ini adalah perempuan etnis Cina yang menjadi korban pemerkosaan dalam Peristiwa Mei 1998. Jangankan untuk melakukan perjuangan, sejak Peristiwa Mei 1998 hingga sekarang korban malah memilih bungkam. Tidak ada satu pun korban yang muncul di hadapan publik, bahkan hanya untuk mengakui bahwa mereka adalah korban. Kebungkaman yang tidak biasa inilah yang kemudian akan coba dijelaskan oleh tulisan ini. Dengan menggunakan konsep kekuasaan yang bekerja di dalam wacana milik Michel Foucault, tulisan ini akan menjelaskan kebungkaman korban melalui kuasa wacana dan disiplin yang terjadi terhadap korban. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan genealogi digunakan dalam tulisan ini untuk membantu melacak dan menelusuri wacana, konteks dan situasi tertentu secara historis dan mencari hubungan, pengulangan atau keterputusan wacana tentang etnis Cina dan wacana tentang perempuan yang nantinya akan membentuk situasi strategis dan kompleks yang menjadi latarbelakang dan penyebab kebungkaman para korban. Kemudian hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebungkaman korban disebabkan oleh relasi dan kelindan wacana tentang etnis Cina sejak masa VOC sampai masa Orde Baru, wacana tentang perempuan yang diproduksi, dikontrol dan dijalankan oleh beragam aktor, disiplin berupa teror, resistensi-resistensi yang muncul, dan situasi-situasi tertentu yang bekerja membentuk kekuasaan yang datang dari berbagai arah. Kata Kunci: Kebungkaman, Wacana, Pemerkosaan, Kekuasaan, Peristiwa Mei 1998
Kata Kunci : Silence, Discourse, Power, Rape, May 1998 Event;