LARASAN DAN EMBAT GAMELAN KERATON YOGYAKARTA Tinjauan Budaya dan Etnomusikologi
RAHARJA, S.SN.,MM., Prof. Dr. R. M. Soedarsono
2015 | Disertasi | S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni RupaMakna dari ‘karawitan’ telah memberi keterangan mengenai karakter musiknya, yaitu halus dan rumit. Segala sesuatu yang berkaitan dengan konsep musikal, fungsi, musikalitas, dan mediumnya (gamelan) didasarkan pada budaya orang Jawa, yaitu halus dan rumit pula. Beberapa kerumitan di antaranya ditemukan dalam elemen keindahan musikal, disebut rasa larasan dan embat. Keduanya merupakan elemen keindahan musikal pada karawitan atau musik gamelan. Juru laras dan para pemusik Jawa (pangrawit) menggunakannya untuk membentuk karakter pada gamelan. Permasalahannya, bahwa sejauh ini tidak terlalu banyak orang yang mengetahui secara mendalam mengenai rasa dari elemen keindahan musikal tersebut. Ini juga termasuk sebagian besar anggota masyarakat karawitan (meskipun bila seseorang disebut sebagai juru laras atau pangrawit). Penelitian ini difokuskan pada permasalahan larasan dan embat gamelan Keraton Yogyakarta. Gagasan keindahan musikal pada gamelan tersebut tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Keraton Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), mempunyai tugas untuk mengatur kerajaan barunya setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755. Termasuk membentuk karakter keraton sebagai negara yang besar dan kuat. Sultan membangun semangat kepahlawanan, cinta tanah air, dan mengendalikan emosi atau perasaan masyarakat menggunakan kekuatan dan sensasi musikal gamelan. Rasa atau karakter musikal tersebut, kemudian dikembangkan dan dipergunakan sebagai identitas kerajaan. Masyarakat merasakan kesan gagah, maskulin, mrabu (seperti seorang raja) atau ngratoni (seperti suasana di keraton). Hal ini sesuai dengan karakter Sultan, yaitu maskulin, heroik, dan patriotik. Rasa tersebut dapat dikelompokkan menurut pengolahan nadanya, karakter musikal atau aspek teknisnya. Berdasarkan pada hasil penelitian akhirnya ditemukan, bahwa (1) larasan dan embat adalah konsep musikal unik yang dipergunakan untuk membentuk karakter gamelan; (2) mengerti tentang gagasan, tujuan, interpretasi, dan kompetensi musikal diperlukan untuk mengidentivikasi masing-masing rasa; (3) Sri Sultan Hamengku Buwono I menggunakan kedua elemen keindahan musikal dalam upaya untuk mengelola perasaan masyarakat dan membangun identitas negara; (4) Analisis frekuensi membuktikan, bahwa setiap kategori rasa dapat diidentifikasi melalui tinggi atau rendahnya nada, jarak jangkauan gembyang atau pola gembyangnya.
The meaning of karawitan has given a description of its music character, which is soft and intricate. Everything associated with the musical concept, function, musicality, and the medium (gamelan) is based on the Javanese cultures, which are refined and complicated. Some of the complexities found in the aesthetic of the musical elements are called rasa larasan and embat. Both are the element of musical aesthetic of karawitan or gamelan music. The juru laras and Javanese musicians (pangrawit) use it to shape the character of the gamelan. The problem is that up to today only a few people know in depth about rasa of the beauty of the musical elements. It also includes most members of the karawitan community (although if someone is referred as juru laras or pangrawit). This study focuses on the problem of larasan and embat gamelan of the Yogyakarta Palace. The idea of its musical beauty can not be separated from the history of the Yogyakarta Palace. Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), had a duty to set his new kingdom after the Giyanti Agreement of 1755. Including to shape the character of the palace as a large and powerful country. Sultan built a spirit of heroism, patriotism (love for the homeland), and control of the emotions or feelings of the people using the power and gamelan music sensation. Rasa or the character of the musical, then developed and used as a royal identity. People feel as something that seemed to be dashing, masculine, mrabu (like a king) or ngratoni (like the atmosphere in the palace). Those things were consistent with the character of the Sultan, which is masculine, heroic, and patriotic. Rasa can be grouped according to the tone processing, the musical character or technical aspects. Based on the findings of the study, it was eventually found that, (1) larasan and embat are unique musical concepts that are used to shape the character of the gamelan; (2) understanding the idea, purpose, interpretation and musical competence are required in identifying every rasa; (3) Sri Sultan Hamengku Buwono I used both musical aesthetic elements in an attempt to manage the public's sense and establish the identity of the state; (4) Frequency analysis proves, that each category of rasa can be identified through the high or low pitch of the tone or the distance range of the gembyang or its gembyang pattern.
Kata Kunci : larasan, embat, rasa, gamelan Keraton Yogyakarta.