Laporkan Masalah

\"ANGKRINGAN” KAJIAN BEHAVIOUR SETTING ANGKRINGAN Di Wilayah Kelurahan Condongcatur Yogyakarta

WAHYU BUANA PUTRA, Ir. T. Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng, Ph.D.; Diananta Pramitasari, ST., M.Eng., Ph.D.

2015 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Angkringan dalam konteksnya sebagai ruang interaksi sosial dapat dikatakan sebuah lingkungan binaan. Bervariasinya pembeli yang datang tanpa membedakan strata sosial, suku, agama dan ras menjadi daya tarik tersendiri. Harga yang murah, tempat sederhana namun tetap nyaman untuk bersantai dan ngobrol, membuat Angkringan semakin banyak tersebar di wilayah kota Yogyakarta khususnya Kelurahan Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini membahas Angkringan sebagai lingkungan binaan, melalui pendekatan behavior setting, yang menekankan pada hubungan interaksi antara manusia dan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik standing pattern of behavior, circumjacent milieu dan bagaimana synomorphy yang membentuk behavior setting Angkringan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan rasionalistik. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, pengukuran, person centered map dan kuisioner. Pengukuran dan observasi digunakan untuk mengetahui keseluruhan fenomena perilaku lingkungan beserta dengan konteks data yang terdapat di dalam lokus penelitian. Person centered map digunakan untuk melihat karakterstik standing pattern of behavior dan circumjacent milieu yang digunakan, berdasarkan periode waktu tertentu. Sedangkan metode kuisioner digunakan untuk mengetahui pengalaman yang dirasakan pembeli saat berada di Angkringan dan mengungkapkan faktor-faktor yang paling dominan dalam hubungan penjual dan pembeli (manusia) dan Angkringan (lingkungan), yang membuat hubungan interaksi tersebut terus bertahan dan berlanjut setiap waktu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat 6 (enam) karakteristik pola perilaku pelanggan di Angkringan, setiap pola perilaku terdiri dari 3 (tiga) periode aktivitas, yaitu: periode aktivitas awal, puncak dan akhir. Setiap karakteristik pola perilaku yang dihasilkan oleh pelanggan tergantung tujuan dan tingkat kesesuaiannya dengan seting Angkringan. Selain itu perbedaan periode waktu operasi Angkringan tidak mempengaruhi pola perilaku pelanggan di dalam Angkringan. Terdapat 3 (tiga) karakteristik milieu, yaitu: milieu zona parkir, milieu zona inti dan milieu zona lesehan. Selanjutnya terdapat 4 (empat) atribut pengalaman ruang sebagai faktor terbentuknya synomorphy di Angkringan saat pagi dan siang hari, yaitu: (a) Legibility; (b) adaptability; (c) sensory stimulation; (d) activity dan 5 (lima) atribut pengalaman ruang sebagai faktor terbentuknya synomorphy di Angkringan pada malam hari, yaitu (a) legibility; (b) adaptability; (c) sensory stimulation; (d) sosiality; (e) activity. Kata kunci : Behaviour setting, Angkringan, Kelurahan Condongcatur.

Angkringan in its context as a space of social interaction as a built environment. Various buyers came to the Angkringan without distinction of social strata, ethnicity, religion and race become a special attraction. Low price, simple place but still comfortable to relax and chitchat, make Angkringan more spread throughout Yogyakarta city, particularly the Urban Village Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. This study discusses Angkringan as the built environment, through the approach of behavior setting, emphasizes the interaction between humans and the environment. The purpose of this study to investigate the characteristics of standing pattern of behavior, circumjacent milieu and how synomorphy forming the behavior setting Angkringan. The research method is used qualitative rationalistic approach. Data collecting technique using observation, measurement, person centered map and questionnaire. Measurements and observations are used to determine a whole phenomenon of environmental behavior along with the data context contained within the locus of research. Person centered map is used to view the characteristics of standing pattern of behavior and circumjacent milieu which is used, based on a specific time period. Whereas questionnaire method is used to determine the perceived buyer experience while in Angkringan and understanding factors that the most dominant in relationships between vending and buyers (human) and Angkringan (environment), makes the interaction relationship persisted and continued in every time. The conclusion from this study is there are 6 (six) characteristic of customer behaviour patterns in Angkringan, each of customer behaviour patterns consist of 3 (three) activity periods: beginning, peak and the end of period. Each characteristic of behavior patterns generated by customers, depending on objectives and level of conformity with Angkringan setting. In addition, different time periods operation of Angkringan did not affect customer behavior patterns in Angkringan. There are 3 (three) milieu characteristic: milieu of parking zone, milieu of primary zone and milieu of ‘lesehan’ zone. Furthermore, there are 4 (four) attributes the experience of space as a factor of formation synomorphy in Angkringan during morning and afternoon, yaitu: (a) Legibility; (b) adaptability; (c) sensory stimulation; (d) activity dan 5 (five) attribute space experience as a factor in the formation synomorphy Angkringan at night, i.e.: (a) legibility; (b) adaptability; (c) sensory stimulation; (d) sosiality; (e) activity. Keywords : Behaviour setting, Angkringan, Condongcatur Urban Village

Kata Kunci : Behaviour setting, Angkringan, Kelurahan Condongcatur; Behaviour setting, Angkringan, Condongcatur Urban Village


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.