PERBANDINGAN PENGGUNAAN ASET PADA SEKTOR INFORMAL DAN RESPON TERHADAP PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN KOTA YOGYAKARTA
WYDA SWESTIKA M., Ir. Agam Marsoyo, M.Sc., Ph.D.; Kawik Sugiana M.Eng., Ph.D
2015 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan DaerahPerkembangan sektor informal bertambah tinggi setiap tahunnya. Pada tahun 2000 jumlah pekerja sektor informal mencapai 65,4% dari seluruh tenaga kerja di Indonesia. Untuk Kota Yogyakarta, jumlah sektor informal jenis PKL sudah mencapai lebih dari 6.000 unit. Tumbuh pada negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, sektor informal menciptakan strategi penggunaan aset untuk mencapai penghidupan. Strategi penggunaan aset tiap rumah tangga sektor informal berbeda-beda, tergantung dari jenis sektor informal itu sendiri. Penelitian ini penting karena kegiatan sektor informal bisa menjadi potensi dan masalah, namun saat ini payung kebijakan khususnya di Kota Yogyakarta belum mencakup sektor informal secara komprehensif. Tujuan penelitiannya adalah membandingkan penggunaan aset pada HBE dan PKL sebagai contoh dari jenis sektor informal, dan mengidentifikasi kebijakan yang mengatur perkembangan sektor informal tersebut. Lokasi penelitian ini berada di beberapa kelurahan pada 5 kecamatan di Kota Yogyakarta, yakni Kecamatan Danurejan, Gondomanan, Ngampilan, Gedongtengen dan Mantrijeron. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods. Analisa data kuantitatif menggunakan distribusi frekuensi, yang berfungsi sebagai alat untuk menjelaskan Asset Pentagon. Sedangkan analisa data kualitatif menggunakan deskripsi. Jumlah sampelnya adalah 139 unit untuk HBE dan 120 unit untuk PKL, dengan menggunakan 2 teknik yang berbeda, yakni simple random sampling dan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara yang dilakukan kurang lebih selama 3 bulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan variabel Asset Pentagon, sektor informal jenis HBE merupakan sektor informal yang lebih optimal dalam menggunakan asetnya daripada PKL. Kebijakan yang mencakup hal tersebut meliputi kebijakan yang melindungi penggunaan lokasi dan juga mengenai akses pendanaan. Walaupun demikian, kebijakan yang diturunkan menjadi program mengenai sektor informal belum tercakup secara komprehensif sehingga masih terdapat gap implementasi kebijakan. Dalam penggunaan aset untuk mencapai penghidupan, HBE cenderung membentuk kompetisi melalui jangkauan wilayah pelayanan, sedangkan PKL berkompetisi untuk mendapatkan tempat yang strategis untuk usahanya.
Informal sector’s growth has been increasing every year. In 2000 the number of informal sector workers was reached out 65,4% of the entire manpower in Indonesia. For Kota Yogyakarta, the number of informal sector street vendors types has reached more than 6.000 units. Growing in developing countries such Indonesia as well, the informal sector is creating strategies to achieve livelihood asset utilization. The strategic use of assets on each household in informal sector were about had varies, depend on the type of the informal sector itself. This research is important because the informal sector activities could be whether potentials or problems, but this time the legal basis, especially in Kota Yogyakarta hasn’t encompass informal sector comprehensively. The purpose of the research is to compare the use of asset at HBE and street vendors as the type of the informal sector, and identify policies adjust to it’s development. The location of this research is in several kelurahan in 5 kecamatan in Kota Yogyakarta such Kecamatan Danurejan, Gondomanan, Ngampilan, Gedongtengen and Mantrijeron. This study used mixed methods approach. Quantitative data analysis using frequency distribution, as a tool to explain Asset Pentagon. While the qualitative data analysis using description technique. The number of both samples were 139 units and 120 units for HBE and street vendors aproximately, with simple random sampling technique. While the indepth interview was used through purposive sampling. Collecting data were conducted by questionnaires and interviews for about 3 months. The findings research based on variable Asset Pentagon, showed that the informal sector of HBE type are more optimal for using its assets rather than street vendors. Encompassing policies included about protecting the use of location and financing accessibility. However, the policy is revealed to be a program on the informal sector has not been covered comprehensively so that there is still a gap between policy implementation. In the use of assets to achieve livelihood, HBE tend to form the competition through its services area, while street vendors compete to gain a strategic place for their economic activity.
Kata Kunci : -