PENDEKATAN PARTISIPATIF DALAM UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA STUDI KASUS: WILAYAH RAWAN BENCANA KABUPATEN SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN
M. NURBADRI HATTA, Prof. Ir. Achmad Djunaedi, MUP.,Ph.D.
2015 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan DaerahKabupaten Sinjai termasuk wilayah dengan risiko dan ancaman bencana yang tinggi. Hampir setiap tahun terjadi banjir, tanah longsor, ataupun angin ribut. Pasca bencana longsor dan banjir bandang di tahun 2006, masyarakat didampingi SRP Payo-payo memulai kegiatan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) tanpa keterlibatan pemerintah daerah. Hal ini dapat dianggap sebagai penyimpangan dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 yang telah mengamanatkan pada pemerintah dan pemerintah daerah sebagai penanggung jawab kegiatan penanggulangan bencana, termasuk kegiatan PRB.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang upaya PRB dengan pendekatan partisipatif yang telah dilakukan di wilayah rawan bencana Kabupaten Sinjai. Selain itu, penelitian ini juga akan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi prosesnya. Penelitian menggunakan pendekatan induktif-kualitatif dengan metode Studi Kasus yang didesain berbentuk kasus tunggal dengan pembahasan secara holistic. Analisis data dengan menggunakan time series (deret waktu) untuk menjelaskan proses kegiatan secara berurutan dan terstruktur. Adapun hasil dari penelitian adalah; (1). Proses PRB dengan pendekatan partisipatif di wilayah rawan bencana Kabupaten Sinjai dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu tahap membangun kesadaran, melembagakan kegiatan dan alih tanggung jawab; (2). Pemerintah daerah tidak berperan dalam proses awal kegiatan karena belum memiki payung hukum yang resmi untuk lembaga yang berfungsi sebagai koordinator kegiatan penanggulangan bencana, dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah; (3). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pelaksanaan kegiatan dapat dibagi menjadi faktor pendukung, yaitu: koordinasi antar stakeholder yang terjalin dengan baik, budaya gotong royong dan kebersamaan yang masih terjaga, wilayah dengan ancaman dan risiko bencana yang tinggi, pelaksana kegiatan yang tekun dan kreatif, karakter kegiatan yang bersifat membangun, metode dan teknik implementasi yang menyesuaikan kondisi wilayah. Adapun faktor penghambat, yaitu: rendahnya tingkat perekonomian masyarakat, wilayah kegiatan yang luas, serta peran pemerintah daerah yang belum maksimal.
Sinjai has areas with risk and high potential hazard. Almost every year affected by floods, landslides, or hurricanes. Post landslides and flash floods in 2006, the community was accompanied by SRP Payo-payo commenced Disaster Risk Reduction (DRR) without the involvement of the local government. It can be considered as a deviation from the Act No. 24 of 2007 which has mandated the government and local authorities in charge of disaster management activities, including DRR activities. This study aims to provide an overview of DRR with participatory approaches that have been made in hazard areas of Sinjai. In addition, this study will also examine the factors that influence the process. This research uses inductive-qualitative approach. Case study method is designed in the form of a single case with a holistic study. Data analysis using time series to explain the process in sequence and structured activities. The results of the study are; (1). DRR process with participatory approaches in hazard areas of Sinjai divided into three phases, namely the phase of building awareness, instituting activities and transferring responsibility; (2). The local government has no role in the initial process activities because it has no formal legal basis for the agency that serves as the coordinator of disaster management activities, in this case is the Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD); (3). Factors that influence the process of implementation can be divided into supporting factors, namely: coordination among stakeholders which are good, culture of mutual help and sense of community are still maintained, area with threats and high disaster risk, activity officer that are diligent and creative, constructive character of activities, methods and techniques that fit their implementation area. The inhibiting factors, namely: the low economic level of community, a broad area of activity, and minimum role of local government.
Kata Kunci : -