Laporkan Masalah

PERUBAHAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DI WILAYAH PINGGIRAN KOTA: Kasus : Kecamatan-Kecamatan yang Berbatasan dengan Kota Yogyakarta, Tahun 1990 - 2008

JONI PURWO HANDOYO,S.SI, Prof. Dr. Hadi Sabari Yunus, MA.

2015 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan

Laju perubahan penggunaan lahan pertanian meningkat pesat khususnya di wilayah pinggiran kota. Hal ini juga terlihat di wilayah pinggiran Kota Yogyakarta, yang telah banyak mendapatkan pengaruh perkembangan kota secara terus menerus. Selama perkembangan kota terus terjadi, maka wilayah ini akan mengalami proses perubahan karakter wilayah dari kedesaan menuju kekotaan. Salah satu dampak dari fenomena tersebut adalah terjadinya perubahan daya dukung lingkungan. Perubahan daya dukung lingkungan menjadi topik utama penelitian ini dimana tujuannya adalah untuk mengkaji: 1) besaran perubahan daya dukung lingkungan, 2) persebaran dan pola sebaran perubahan daya dukung lingkungan, dan 3) keterkaitan antara perubahan tipologi wilayah pinggiran kota dengan daya dukung lingkungan. Penelitian ini dilakukan di 29 desa yang berada di 6 kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta. Unit analisis adalah desa. Metode penelitian yang digunakan dapat dikategorikan menjadi tiga. Pertama, terkait dengan eksistensi populasi, penelitian ini dikategorikan ke dalam metode penelitian kasus. Kedua, dilihat dari karakteristik obyek penelitian, dikategorikan ke dalam metode penelitian survey analitis dan metode penelitian historis dengan penekanan pada pendekatan kronologis. Ketiga, dilihat dari aspek cara-cara atau teknik analisis, penelitian ini lebih dititikberatkan pada metode penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan lahan terbangun paling pesat terjadi di Desa Tirtonirmolo dan Desa Ngestiharjo (>20%). Dari aspek perubahan tipologi wilayah, desa-desa yang telah berubah status dari rurral fringe menjadi urban fringe adalah Desa Sinduadi, Desa Caturtunggal, Desa Bangunjiwo, Desa Tirtonirmolo, Desa Ngestiharjo dan Desa Singosaren. Sedangkan desa-desa pinggiran yang tetap berstatus sebagai urban fringe adalah Desa Jagalan dan Desa Banguntapan. Desa-desa dengan perkembangan lahan terbangun relatif besar (>15%) dan diikuti dengan perkembangan tipologi wilayah yang cepat, merupakan desa dengan kategori perkembangan wilayah yang cepat dan dinamis. Desa-desa ini antara lain adalah Desa Caturtunggal, Singosaren, Tirtonirmolo dan Ngestiharjo. Status daya dukung lingkungan di wilayah penelitian sebagian besar masih termasuk dalam kategori sustain. Hanya terdapat satu desa yang termasuk dalam kategori overshoot sejak tahun 1990 yaitu Desa Jagalan (Kecamatan Banguntapan). Laju penurunan besaran nilai daya dukung lingkungan yang paling cepat terjadi di Desa Maguwoharjo dan Desa Singosaren. Kategori penurunan DDL ‘sedang’ merupakan kategori paling dominan. Hal ini dialami di 14 desa (48,28%). Sementara itu kategori cepat-sangat cepat terjadi di 6 desa (20,67%). Faktor yang paling berpengaruh terhadap besaran penurunan nilai daya dukung lingkungan di wilayah penelitian adalah peningkatan lahan terbangun. Peningkatan lahan terbangun ini juga merupakan faktor yang mempunyai pengaruh paling penting terhadap perubahan tipologi desa-desa pinggiran Kota Yogyakarta. Kata Kunci: Wilayah Pinggiran Kota, Tipologi Wilayah, Daya Dukung Lingkungan

This research studies about rate of change of Agricultural land use that has increased rapidly in the urban fringe of Yogyakarta. Since urban development continues to occur, this discovers the region that has experienced a change from rural to urban fringe. This research obtains that the change of environmental carrying capacity becomes a phenomenon. This research aims at examining: 1) magnitude value of the change of environmental carrying capacity, 2) dispersion and distribution patterns of the change of environmental carrying capacity, and 3) relation between urban fringe typology and environmental carrying capacity. This research is conducted in 29 villages of 6 sub-districts that are directly adjacent to urban fringe of Yogyakarta. This research employs three methods: case-study method- related to the existence of research population, analytical survey and historical method- seen from the characteristic of research object, quantitative method- seen from steps or analytical technique of the research. The research shows that the most rapid land development is in Tirtonirmolo and Ngestiharjo village (>20%). This presents that from the regional typology aspect, Sinduadi, Caturtunggal, Bangunjiwo, Tirtonirmolo, Ngestiharjo, Singosaren village have change their status from rural fringe to urban fringe. It acquires that Jagalan and Banguntapan village persist in being urban fringe. Based on large land development up to >15% and followed by the rapid development of the regional typology on the villages, it is found that the villages are in category of rapid and dynamic development areas-namely Caturtunggal, Singosaren, Tirtonirmolo, Ngestiharjo village. This research discovers that the status of most of environmental carrying capacity in this research areas are in sustain category. It obtains that there is only one village, Jagalan village (Banguntapan sub-district), has included to overshoot category since 1990. The rate of reduction in the magnitude value of the environmental carrying capacity of the fastest occurs in Maguwoharjo and Singosaren village. It is found that the reduction of environmental carrying capacity dominated in intermediate category - there are 14 villages (48.28%) and the rapid-most rapid category are occurred in 6 villages (20.67%). This research concludes that the factor of rate of the increasing of developed land is the main influential factor of magnitude value of the decreasing value of environmental carrying capacity in the research areas. Furthermore, it is found that the increasing of developed land is influential factor which is the most important towards the change of urban fringe of Yogyakarta. Keywords: urban fringe, regional typology, environmental carrying capacity.

Kata Kunci : Wilayah Pinggiran Kota, Tipologi Wilayah, Daya Dukung Lingkungan; urban fringe, regional typology, environmental carrying capacity


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.