ANALISIS PENOLAKAN IMPOR OLEH USFDA DAN DAYA SAING EKSPOR KEPITING DAN RAJUNGAN INDONESIA DI AMERIKA SERIKAT TAHUN 2002 - 2013
A.SUHAELI FAHMI, Prof. Dr. Ir. Moch. Maksum, M.Sc.
2015 | Tesis | S2 Teknologi Industri PertanianKepiting dan rajungan telah menjadi salah satu komoditas andalan ekspor sektor perikanan Indonesia. Pada tahun 2012, nilai ekspor kepiting dan rajungan menyumbang 9% dari total nilai ekspor perikanan Indonesia setelah udang dan tuna. Lebih dari 60% volume ekspor kepiting dan rajungan Indonesia ditujukan ke Amerika Serikat. Berdasarkan nilai impor komoditas perikanan Amerika Serikat dari Indonesia, kepiting dan rajungan menduduki peringkat kedua setelah udang. Amerika Serikat melalui USFDA menerapkan standar yang ketat atas semua produk yang diimpornya dan akan melakukan penolakan impor terhadap produk yang tidak mampu memenuhi standar. Penelitian ini dilakukan untuk periode tahun 2002 sampai dengan 2013 terhadap semua komoditas kepiting dan rajungan yang tercantum dalam kode HS 6 digit yaitu kepiting/rajungan beku (HS030614), kepiting/rajungan tidak beku (HS030624) dan kepiting/rajungan olahan (HS160510). Untuk mengukur daya saing, penelitian ini menggunakan indeks Revealed Comparative Advantage (RCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode tahun 2002 sampai dengan tahun 2013 penolakan impor kepiting dan rajungan Indonesia oleh USFDA adalah yang terbanyak dibandingkan negaranegara pemasok lainnya. Sebagian besar penolakan tersebut disebabkan karena adanya kandungan chloramphenicol (171 kasus dengan rata-rata 31,75 kasus per tahun), vetdruges, poisonous dan filthy. Selama periode tahun 2002-2013 kepiting/rajungan Indonesia masih memiliki daya saing (RCA>1) pada komoditas kepiting/rajungan tidak beku (HS030624) dan kepiting/rajungan olahan (HS160510) sementara pada komoditas kepiting/rajungan beku (HS030614) telah kehilangan daya saing (RCA<1). Hasil regresi data panel menunjukkan bahwa faktor harga terbukti mempengaruhi daya saing sementara faktor jumlah perusahaan yang mengalami penolakan, jumlah penolakan dan jumlah produksi tidak berpengaruh terhadap daya saing. Untuk meningkatkan daya saing sebaiknya pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan mutu produk yang diekspor, mengembangkan produk-produk bernilai tambah dan mengelola faktorfaktor yang membentuk harga. Kata Kunci: Kepiting, Rajungan, USFDA, Penolakan Impor, Daya Saing, Revealed Comparative Advantage (RCA)
Crab is one of important fisheries export commodity for Indonesia. In 2012, crab contributed to 9 % of total fisheries export value, placed crab as the third biggest export value following shrimp and tuna. United States of America (US) has been the biggest market for crab from Indonesia contributing to more than 60% of total export volume. In US market, crab products were the second biggest US fishery imported product from Indonesia after shrimp. US FDA as competent authority in US will refuse product that can not fulfill the requirements/standards. Based on the availability of import refusal report from US FDA, this research is conducted for period from 2002 until 2013. All HS commodities of crab is included in this research, they are frozen crab (HS 030614), unfrozen crab (HS 030612) and prepared / preserved crab (HS 160510). This research uses the RCA Method, which is one of the methods that can be used to measure the comparative advantage of a commodity in a particular market. The results indicate that during 2002-2013 total import refusal of crab from Indonesia are 381 cases. These refusals are dominantly caused by chloramphenicol (171 cases with average 31,75 cases per year) followed by vetdruges, poisonous and filthy. Compare to the refusal of crab from competitors, Indonesia is the biggest one, Vietnam experienced 17,83 cases of refusal per year following by Venezuela (9,42), China (8,58) and Meksiko (6,17). Based on RCA as competitiveness measurement, unfrozen crab (HS 030624) and prepared/preserved crab (HS 160510) are having the RCA index larger than one, showing their strong competitiveness in US market while RCA for frozen crab is lower than one, showing its weak competitiveness in US market. Panel data regression proofed that price is significantly effecting RCA, while production volume and number of company being refused do not affect to RCA. To improve the existing competitiveness, it is required to improve product quality, encourage value-added products development and maintain price affecting factors. Keywords: Crab, USFDA, Import Refusal, Competitiveness, Revealed Comparative Advantage (RCA)
Kata Kunci : Kepiting, Rajungan, USFDA, Penolakan Impor, Daya Saing, Revealed Comparative Advantage (RCA)