MANAJEMEN RISIKO BANJIR DI KABUPATEN LAMONGAN
AGUS A. WAHID MG, Prof. Dr. H. A. Sudibyakto, M.S ; Prof. Dr. Sunarto, M.S
2015 | Tesis | S2 MANAJEMEN BENCANABanjir yang terjadi hampir setiap tahun di wilayah Kabupaten Lamongan khususnya wilayah di sekitar Bengawan Solo dan Bengawan Jero yang berakibat pada besarnya kerugian atau dampak yang ditimbulkan merupakan masalah yang melatarbelakangi kajian tentang manajemen risiko banjir di Kabupaten Lamongan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat bahaya banjir, mengetahui tingkat kerentanan dan kapasitas masyarakat dalam mengahadapi banjir, menilai tingkat risiko banjir, dan mengkaji manajemen risiko banjir di Kabupaten Lamongan. Penilaian bahaya, kerentanan, kapasitas dan risiko banjir dianalisis secara kuantitatif dengan metode skoring dan pembobotan yang kemudian dilakukan analisis spasial dengan bantuan perangkat lunak ArcGIS 10.2. Manajemen risiko banjir dianalisis secara kualitatif berdasarkan hasil wawancara secara mendalam dengan responden yang ditentukan secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahaya banjir dengan tingkat sedang hingga tinggi terletak di 10 kecamatan wilayah Kabupaten Lamongan. Sebagian besar tingkat kerentanan masyarakat yang terdapat di kawasan bahaya banjir mempunyai tingkat kerentanan sedang berjumlah 128 desa dari 205 desa, sedangkan masyarakat yang mempunyai tingkat kerentanan 76 desa. Kapasitas masyarakat yang terdapat di kawasan bahaya banjir sebagian besar termasuk dalam tingkatan sedang yaitu berjumlah 165 dari 205 desa. Luas wilayah yang mempunyai tingkat risiko banjir tinggi adalah 15.101,80 ha (8,64%), sedangkan wilayah yang mempunyai tingkat risiko banjir sedang dan rendah berturut-turut adalah 122.465,35 ha (7,13%) dan 147.237,34 ha (84,23%). Manajemen risiko banjir di Kabupaten Lamongan sudah berjalan dengan baik. Hal itu dilihat dari berkurangnya dampak yang ditimbulkan oleh bencana banjir, meskipun masih ada beberapa kekurangan dari sisi kelembagaan, kebijakan, mekanisme penanganan, dan partisipasi masyarakat.
Floods occur almost every year in Lamongan Regency, especially at the around of Bengawan Solo and Bengawan Jero area that given impact to amount of loss or the impact of an underlying problem about assessment of flood risk management in Lamongan. The purpose of this study was to identify the level of flood hazards, determine the level of vulnerability and capacity in facing floods, assess the level of flood risk, and assess the flood risk management in Lamongan. Hazard assessment, vulnerability, capacity and flood risk quantitatively analyzed by the method of scoring and weighting are then carried out with the help of spatial analysis software ArcGIS 10.2. Flood risk management were analyzed qualitatively based on in-depth interviews with purposively respondents determined. The results showed that the hazard of flooding with moderate to high levels of 10 districts located in Lamongan district. Most of the level of vulnerability of communities located in flood hazard areas have a moderate susceptibility level of 128 villages from 205 villages, while people who have this level of vulnerability of 76 villages. Capacity of communities located in flood hazard areas mostly in the levels of being that is numbered 165 of 205 villages. The total area that has a high flood risk level is 15.101,80 ha (8,64%), while the region has a moderate level of flood risk and the lower row is 12.465,35 (7,13%) and 147.237,34 ha (84,23%). Flood risk management in Lamongan has been going well. It is seen from the reduced impact of the floods, although there are still some weaknesses in the institutional, policy, management mechanisms, and community participation.
Kata Kunci : manajemen risiko, banjir, bahaya, kerentanan, kapasitas