Laporkan Masalah

ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHA PERIKANAN TAMBAK POLIKULTUR BANDENG – UDANG WINDU DI SEKITAR KAWASAN MANGROVE KABUPATEN SAMBAS

EVA DOLOROSA, Prof. Dr. Ir. Masyhuri; Dr. Ir. Lestari Rahayu Waluyati, MP; Dr. Jamhari, SP, MP

2015 | Disertasi | S3 Ekonomi Pertanian

Perikanan tambak di Kabupaten Sambas menerapkan jenis tambak wanamina dan non wanamina. Tambak wanamina merupakan gabungan budidaya tambak dengan tanaman mangrove di dalam tambak, sehingga diperoleh dua manfaat, yaitu ekologis dengan terjaganya mangrove dan lingkungan sekitar, serta manfaat ekonomis melalui produksi bandeng dan udang windu. Untuk menjaga keberlanjutan dan mendapatkan manfaaat yang optimal, usaha perikanan tambak di sekitar kawasan mangrove perlu menggabungkan kepentingan ekonomi, sosial budaya, dan kelestarian ekologi. Tujuan penelitian ini untuk 1) Menganalisis kelayakan secara finansial dan ekonomi usaha perikanan tambak polikultur pada jenis tambak wanamina dan tambak non wanamina; 2) Menghitung nilai jejak ekologis; 3). Menilai indeks dan status keberlanjutan usaha perikanan tambak polikultur berdasarkan dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, infrastruktur dan teknologi, hukum dan kelembagaan; 4). Mengetahui atribut-atribut sensitif pada setiap dimensi yang mempengaruhi keberlanjutan usaha perikanan tambak polikultur. Hasil penelitian menunjukkan untuk usaha perikanan tambak polikutur wanamina dan non wanamina secara finansial dan ekonomi masih layak untuk diusahakan, yang artinya masih berkelanjutan secara ekonomi. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usaha perikanan pada tambak wanamina dan non wanamina sensitif terhadap penurunan hasil produksi dan kenaikan biaya operasional. Berdasarkan analisis jejak ekologi di lokasi penelitian diketahui bahwa usaha perikanan tambak wanamina masih berkelanjutan, tetapi untuk perikanan tambak non wanamina secara ekologi tidak berkelanjutan. Hal ini disebabkan kebutuhan ruang ekologi usaha perikanan tambak, untuk perikanan tambak non wanamina sudah melampaui daya dukung ekosistem yang ada. Penelitian ini menggunakan Analisis Multi Dimensional Scalling yang menggunakan model Rap-fishsambas. Hasil penelitian pada tambak wanamina menunjukkan bahwa status keberlanjutan dimensi ekologi, ekonomi dan sosial-budaya menunjukkan status cukup berkelanjutan dengan masing-masing nilai index 61,67; 54,44 and 57,39, sedangkan dimensi teknologi & infrastruktur dan dimensi hukum & kelembagaan adalah kurang berkelanjutan dengan nilai index masing-masing 34,46 and 39,91. Secara multidimensi, nilai indeks keberlanjutan usaha perikanan tambak polikultur wanamina saat ini, sebesar 44,33 dan termasuk dalam kategori kurang berkelanjutan. Hasil analisis leverage menunjukkan dari 73 atribut terdapat 17 atribut sensitif yang harus dikelola segera untuk meningkatkan nilai index keberlanjutan. Sementara itu hasil analisis MDS pada usaha perikanan tambak non wanamina menunjukkan nilai indeks dimensi teknologi & infrastruktur sebesar 21,86 dengan status tidak keberlanjutan. Dimensi ekologi, ekonomi, hukum & institusi kurang berkelanjutan dengan masing-masing index 37,94; 39,47 dan 35,82, tetapi dimensi sosial budaya masuk kategori berkelanjutan dengan index of 64,95. Secara multidimensi termasuk kurang berkelanjutan dengan nilai index 36,18. Terdapat 23 atribut sensitif pada tambak pada tambak non wanamina yang perlu diintervensi untuk meningkatkan status keberlanjutan usaha perikanan tambak.

Aquaculture farming in Sambas district implement type of sylvofishery ponds and non sylvofishery ponds. Sylvofishery is an aquaculture pond integrated with mangrove trees, in order to obtain some benefits, namely ecology benefit by preservation of mangrove and the environment, as well as economic benefits through the production of milkfish and tiger shrimp. To sustain and gain the benefit, aquaculture pond around mangrove areas need to combine economic interests, sosial, cultural, and ecological sustainability. The purpose of this study to 1) analyze the financial and economic feasibility of milkfish-tiger shrimp polyculture farming on the type of sylvofishery and non sylvofishery ponds; 2) Calculate the ecological footprint of polyculture farming to determine the ecological sustainability; 3). Analyze the sustainability of milkfish-tiger shrimp polyculture farming based on the dimensions of the ecological, economic, sosial - cultural, infrastructure - technology, law - institutions; 4) Analyze sensitive attributes in the dimension of ecological, economic, sosial - cultural, infrastructure - technology, law - institutions affecting the sustainability of milkfish-tiger shrimp polyculture The results showed that milkfish-tiger shrimp polyculture farming in all ponds both financially and economically is feasible, and it means economically sustainable. The results of the sensitivity analysis with multiple scenarios indicate that the polyculture farming is sensitive to a decrease in production and an increase in operational costs. Based on the analysis of ecological footprint in this research location is known that polyculture farming of sylfofishery ponds is ecologically sustainable, on the other hand , on sylvofishery is not ecologically sustainable. This is due to the space requirements of ecology for non sylvofishery pond already exceeded the carrying capacity of the existing ecosystem. This research applied Multidimensional Scaling Analysis (MDS) with modified Rapfish which called Rap-fishsambas. Study results on sylvofishery pond showed the index sustainability status of ecology, economic and sosial-culture dimension showed fairly sustainable with sustainability index of 61,67; 54,44 and 57,39 respectively, while the status of technology-infrastructure and law-institutional dimensions were less sustainable with sustainability index of 34,46 and 39,91 respectivel. In multidimensional was less sustainable (sustainability index of 44,33). Results of leverage analysis indicated that out of 73 attributes, there were 17 attributes need to be managed immediately since the sensitivity affect the increased the sustainability index. On the other hand, study results on non sylvofishery pond showed the sustainability status of technology-infrastructure dimension is not sustainable (sustainability index of 21,86), while ecology, economic and law-institutional dimension showed less sustainable with sustainability index of 37,94; 39,47 and 35,82 respectively, but the status sosial culture dimension is sustainable with sustainability index of 64,95. In multidimensional was less sustainable (sustainability index of 36,18). Results of leverage analysis indicated that out of 73 attributes, there were 23 attributes need to be managed immediately since the sensitivity affect the increased the sustainability index

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.