Laporkan Masalah

PENGELOLAAN HABITAT BENTIK DI PULAU KEMUJAN KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA MELALUI INVENTARISASI DENGAN PENDEKATAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH

MUHAMMAD HAFIZT, Drs. Projo Danoedoro, M.Sc., Ph.D.; Prof. Dr. Sunarto, M.S.

2015 | Tesis | S2 Geografi

Wilayah kepesisiran merupakan wilayah yang sangat potensial karena menyediakan berbagai sumber daya alam dan memiliki berbagai fungsi strategis yang dapat mendukung program pembangunan kawasan kepesisiran. Oleh karena itu, pengelolaan wilayah kepesisiran menjadi isu penting yang dirumuskan kedalam konsep pengelolaan yang terus berkembang hingga saat ini. Konsep tersebut dikenal dengan istilah Pengelolaan Wilayah Kepesisiran dan Laut Secara Terpadu (PWPLT). Salah satu area kepesisiran yang potensial adalah perairan dangkal karena memiliki lebih dari satu ekosistem habitat bentik dandibutuhkan metode pengelolaan yang efektif. Teknologi penginderaan jauh menjadi kajian pada penelitian ini yaitu sebagai alat untuk mendukung pengelolaan habitat bentik dengan lokasi kajian di Pulau Kemujan Kepulauan Karimunjawa. Tujuan dari penelitian ini diantaranya adalah (1) mengkaji metode inventarisasi yang efektif melalui teknologi penginderaan jauh untuk pengelolaan habitat bentik, (2) menganalisis kualitas informasi spasial habitat bentik terkait kerincian informasi dan nilai akurasi peta habitat bentik Pulau Kemujan Kepulauan Karimunjawa, (3) Mengkaji kegiatan pengelolaan habitat bentik di Pulau Kemujan Kepulaun Karimunjawa melalui informasi spasial hasil pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk mendukung program pengelolaan kepesisiran terpadu. Berdasarkan hasil penelitian ini, pengelolaan habitat bentik melalui kegiatan inventarisasi cukup efektif menggunakan teknologi penginderaan jauh karena dapat menghasilkan informasi spasial dalam bentuk peta dengan jumlah kelas yang detail yaitu lebih dari 20 kelas dan nilai akurasi sebesar 64,6%. Selain itu, kegiatan inventarisasi tersebut dapat dikerjakan dalam waktu satu bulan dengan biaya yang tergolong rendah. Peta habitat bentik yang dihasilkan melalui teknologi penginderaan jauh memiliki kualitas baik, dinilai dari tingkat kedetilan kelas dan akurasi peta. Tetapi kualitas yang baik tersebut hanya berlaku pada peta habitat bentik Pulau Kemujan yang telah memiliki sistem klasifikasi khusus yang dibangun melalui penelitian ini berdasarkan hasil temuan objek-objek dilapangan. Metode inventarisasi berbasis penginderaan jauh dan peta habitat bentik pulau Kemujan dapat dimanfaatkan untuk pengelolaan habitat bentik dengan cara konservasi dan rehabilitasi kawasan kepesisiran, karena inventarisasi habitat bentik berbasis penginderaan jauh dapat menghasilkan beberapa informasi pendukung pengelolaan diantaranya adalah (1) analisis luasan tutupan habitat bentik secara spasial, (2) evaluasi zonasi laut Pulau Kemujan, (3) pemodelan 3 dimensi dasar perairan dangkal Pulau Kemujan, dan (4) sumber informasi efektif untuk mendukung rencana pengelolaan kawasan kepesisiran BTNKJ.

The coastal area provides a variety of natural resources that can have a strategic function in coastal development programs. Therefore, coastal management raises important issues in a growing management concept known as Integration Coastal Zone Management (ICZM). Some of the coastal areas with development potential are the shallow water areas which have more than one benthic habitat ecosystem, so that an effective method to manage the ecosystems is needed. This research studies remote sensing technology as a tool to support benthic habitat management in Kemujan Island, Karimunjawa Islands. The aims of this research are (1) to assess the effectiveness of remote sensing as a method for benthic habitat management, (2) to analyze spatial information quality related to the level of detail in the information and the level of map accuracy, (3) to assess the program of benthic habitat management in Kemujan island through spatial information results from remote sensing, to support ICZM programs. The results show that benthic habitat benthic management using remote sensing is effective because it can produce spatial information in the form of a map with the details of more than 20 classes and accuracy of 64.6%. Furthermore, this inventory method can be done within a month with relatively low cost. The habitat map generated from the remote sensing technology has a good quality of class detail and map accuracy. On the other hand, the good quality is only valid on the Kemujan habitat map because of the specific classification system established by this study, based on comparing the map with objects in the field. The inventory method based on remote sensing technology and benthic habitat maps can be utilized to manage banthic habitat areas through informing conservation and rehabilitation of the coastal areas. A benthic habitat inventory based on remote sensing can support the management of coastal area in Karimunjawa National Park including (1) special analysis of banthic habitat cover (2) evaluation of Kemujan marine zones, (3) 3D modeling of the shallow sea floor in Kemujan Island (4) information resources to support the government plans for the coastal areas of Karimunjawa National Park.

Kata Kunci : PWPLT, BTNKJ, Penginderaan Jauh, WorldView-2


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.