Laporkan Masalah

PEKAN BUDAYA TIONGHOA YOGYAKARTA KAJIAN KRITIS MULTIKULTURALISME

SUDONO, Prof. Dr. Suhartono W. Pranoto

2015 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan Media

Periode reformasi memberikan perubahan terhadap tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu perubahan tata kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut adalah semakin menguatnya konflik primordial di tengah masyarakat. Hal tersebut tampak pada sering munculnya konflik yang berlatar belakang pada fanatisme terhadap suatu agama yang memaksakan agama yang satu terhadap agama yang lain oleh para penganutnya serta issu etnosentrisme yang cenderung semakin menguat. Issu primordial ini mengemuka di beberapa wilayah di Indonesia termasuk di Yogyakarta. Sementara itu Yogyakarta yang memiliki komposisi penduduk yang beragam, baik suku, agama, budaya maupun golongan dengan demikian rentan terhadap konflik. Slogan Yogyakarta sebagai kota multikultur yang penuh toleransi (The City of Tolerance) dalam hal ini perlu dipertanyakan kembali apakah slogan tersebut telah mencerminkan fakta yang sebenarnya. Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, adalah sebuah peristiwa budaya yang diselenggarakan oleh etnis Tionghoa dan pemerintah daerah bersama-sama dengan masyarakat lainnya, merupakan wadah untuk membangun semangat multikulturalisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta memberikan andil terhadap semangat membangun kesederajatan setiap warga masyarakat yang berbeda suku, agama, ras maupun golongan tersebut. Metode yang digunakan dalam penulisan disertasi ini adalah diskriptif kualitatif, pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur, pengamatan terlibat dan wawancara mendalam dengan menggunakan pendekatan multidisipliner. Dalam menganalisis data digunakan metode teori kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta memberikan andil yang signifikan terhadap pembangunan multikulturalitas masyarakat Yogyakarta. Setelah melalui analisis, ditemukan kesimpulan bahwa semangat multikulturalisme dapat dibangun melalui Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta di bawah payung bidang kepariwisataan pemerintah daerah yang pada akhirnya berujung pada nilai-nilai ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.

Reformation period provides changes to the life of nation and State. One of the changes mentioned is the rise of primordial conflict among the communities. It can be recognized the emergence of a conflict that often set on a religious fanaticism that imposing other religion by the followers as well as the rise of ethnocentrism issue. This primordial issue emerges in some parts of Indonesia including in Yogyakarta. Meanwhile, Yogyakarta has a diverse of population composition, tribes, religions, cultures or groups thus prone to conflict. The Slogan of Yogyakarta as a multicultural city (The City of Tolerance) in this case is unquestionable back whether the slogan reflects the actual fact. The Chinese Culture Week of Yogyakarta, is a cultural event organized by Chinese ethnic and local governments as well as other communities. The Chinese Culture Week of Yogyakarta is a media for building the spirit of multiculturalism. The goal of the research is to see whether the Chinese Culture Week of Yogyakarta provides the support in developing equity to societies that have different religion, tribe, race or the class. Methods used in composing this dissertation is descriptive qualitative, and data collection methods used in this research is study of literature, in-depth interviews and observations by using multidisciplinary approach. Critical Theory method is used during analyzing the data. The result shows that Chinese Culture Week of Yogyakarta provides a significant share of the construction of the multicultural society. After analysis, it was found the conclusion that the spirit of multiculturalism can be built through the Chinese Culture Week of Yogyakarta under the umbrella of tourism fields of local government that ultimately led to the economic values as well as the prosperity of society.

Kata Kunci : Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, Kajian Kritis, Multikulturalisme


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.