Politik Pencitraan : Studi Komunikasi Politik dalam Iklan Pemilu tahun 2009 di Televisi
ANANG MASDUKI, Dr. Kuskridho Ambardi, MA; Muhammad Sulhan, M.Si
2015 | Tesis | S2 Ilmu KomunikasiDalam pemilu 2009 yang diikuti oleh tiga pasang kandidat yaitu Mega-Prabowo, SBY-Budiono dan JK-Wiranto berlomba-lomba mengiklankan diri. Sehingga muncul frase politik pencitraan. Permasalahan yang muncul pertama adalah bagaimana sebenarnya bentuk dan konstruksi politik pencitraan itu sendiri. Kedua, selama ini predikat politik pencitraan sering diidentikan kepada sosok SBY. Apakah selain SBY dalam iklan kampanye tidak melakukan praktek politik pencitraan?. Dua hal inilah yang coba penulis teliti dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Dengan menggunakan kerangka dimensi politik yang mencakup personal qualities dan performance based traits. Dalam dimensi personal qualities memuat predikat pencitraan yang terdiri Competence, strength, lidership. Adapun dimensi performance based traits memuat predikat pencitraan Warmth/personal qualities, Trust/hoensty, Altruisme dan Other special qualities. Sehingga penulis mengambil judul penelitian "Politik Pencitraan : Study Komunikasi Politik dalam Iklan Pemilu tahun 2009 di Televisi". Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Dimensi politik pencitraan dalam iklan dengan muatan perfomance based-traits adalah iklan milik pasangan Mega-Prabowo dengan judul "kenaikan harga" dan "bangkrut". Adapun iklan milik pasangan JK-Wiranto yang berjudul "mampu". Sedangkan pasangan SBY-Budiono dengan judul "dari sabang sampai Merauke". Iklan dengan muatan dimensi pencitraan personal characteristic milik pasangan JK-Wiranto dengan judul "humble". Adapun pasangan SBY-Budiono dengan judul "dari rakyat untuk rakyat". Sedangkan milik pasangan Mega-Prabowo tidak ada yang secara umum mencerminkan dimensi ini. Selain itu, ditemukan bahwa kandidat Mega-Prabowo cenderung menyerang pasangan SBY-Budiono, pasangan JK-Wiranto iklan yang ditampilkan cenderung mengklaim keberhasilan JK sebagai wakil SBY, selain itu juga banyak menyerang pemerintahan yang dipimpin oleh SBY. Adapun SBY sendiri dalam iklan cenderung berusaha mendekatkan diri dengan masyarakat dan juga mengklaim keberhasilan pemerintahannya. Kemudian ditemukan juga politik identitas yang ditonjolkan dalam iklan, yaitu identitas negarawan, multikulturalisme, kesejahteraan/kemiskinan dan merakyat.
Indonesia's 2009 presidential election was participated by three couple candidates that competed each other in promoting themselves. They were Mega-Prabowo, SBY-Boediono and JK-Wiranto. As a result, a phrase "political imaging" frequently appeared. Two problems toward this topic show up promptly. The first one is how exactly the form and construction of political imaging itself. Secondly, are the other candidates also use political imaging in their campaigns since this strategy is often associated with the figure of SBY? These two issues will be discussed in this writing by using the method of qualitative and descriptive research by using the framework of political dimension which coverspersonal qualities and performance based traits. Personal qualities dimension contains image of competence, strength, and leadership. Whereas, performance based traits dimension consists of image of Warmth/personal qualities, Trust/honesty, Altruism andOther special qualities. Therefore, the chosen title of this writing is "Political Imaging: The Political Communication Study of Television Campaign Ads in 2009 Election". The outcome of this research is the dimension of political imaging of performance based-traits in advertisement done by Mega-Prabowo entitled "Price Rising" and "Bankruptcy", JK-Wiranto's "Capable" and SBY-Boediono's "From Sabang to Merauke". Campaign ads which comprise dimension of personal characteristic are JK-Wiranto's "Humble", SBY-Boediono's "From People, To People", while Mega-Prabowo have no ads related to this matter. Moreover, it is found that campaign ads done by Mega-Prabowo tend to criticize SBY-Boediono. Whereas, JK-Wiranto's campaign ads are likely about JK's achievements as a former vice president. Some of them are also attacks for SBY's leadership, though. As a contrary, SBY, using his campaign ads, tries to get closer to people as well as implicitly affirm his successful leadership. Lastly, political identity is underlined during the campaign ads issue. It consists of several issues like identity as statesmen, multiculturalism, welfare/poverty, and getting close to people in general.
Kata Kunci : Komunikasi Politik, Personal Characteristic, Performance based-traist, Politik Pencitraan, Iklan Pemilu