Laporkan Masalah

PENILAIAN PROFIL RISIKO KREDIT PADA BANK PEMERINTAH YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA (Periode 2009-2011)

SISTHA PRADITYA, Prof. Indra Wijaya Kusuma, MBA, CMA, Ph.D.

2014 | Tesis | S2 Manajemen

Setiap individu yang telah memperoleh penghasilan atau telah memiliki dana, harus bijak menyisihkan sebagian dana yang dimilikinya untuk melakukan investasi. Investasi dalam bentuk saham bank pemerintah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dapat dijadikan pilihan mengingat kapitalisasi saham bank pemerintah yang dominan di saham sektor keuangan serta imbal hasil yang menjanjikan yang dikarenakan oleh kinerja bank-bank pemerintah di Indonesia yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan perekonomian. Salah satu fungsi utama perbankan adalah penyaluran kredit dan dapat dibuktikan bahwa portofolio aset terbesar bank pemerintah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2009 hingga tahun 2011 adalah dalam bentuk kredit, yaitu rata-rata sebesar 58.02% dari total aset. Oleh karena itu, investor pun perlu mengukur risiko kredit bank tersebut yaitu dengan menghitung dan membandingkan besarnya risiko kredit bank-bank pemerintah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dengan menggunakan metode penilaian risiko (Risk-based Bank Rating) dan dilakukan secara sendiri (self assesment), maka hasil penelitian risiko kredit yang dihasilkan oleh 3 (tiga) bank pemerintah yaitu Bank BNI, Bank BRI dan Bank Mandiri dari tahun 2009 hingga tahun 2011 memiliki tingkat risiko kredit yang sangat rendah (low), sedangkan Bank BTN memiliki tingkat risiko kredit yang rendah (low to moderate). Dari uraian tersebut diatas, bank-bank pemerintah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan memiliki tingkat risiko kredit sangat rendah (low) dapat menjadi rekomendasi bagi investor dalam berinvestasi di pasar saham. Saran yang kiranya dapat dijadikan pertimbangan bagi manajemen Bank BTN yaitu dengan merubah kebijakan segmentasi bank dan diversifikasi arah penyaluran kredit, sehingga faktor risiko kreditnya dapat menjadi lebih baik (risiko sangat rendah).

Every individual who has earned or has had the funds, must be wised to set aside some of the funds for investment. Investment in shares of state banks listed in the Indonesia Stock Exchange may be an option due to the market capitalization of the dominant state banks in the financial sector and the stock returns are promising due to the performance of state banks in Indonesia continuesly growth along with the economic growth. One of the main functions of banks are lending and it can be proven that the greatest asset portfolio of state banks listed on the Indonesia Stock Exchange during the period from 2009 to 2011 was in the form of credit, which is an average of 58.02 % of total assets. Therefore, investors also need to measure and compare the credit risk of the state bank who listed in the Indonesia Stock Exchange. By using the method of risk assessment (Risk-based Bank Rating) and self-assessment, then the credit risk research resulted that 3 (three) of state bank, which are Bank BNI, Bank BRI and Bank Mandiri from 2009 to 2011 have “very low” level of credit risk, in the other hand the BTN has a “low to moderate” level of credit risk. From the above description, state banks listed in the Indonesia Stock Exchange and has a “very low” level of credit risk could be recommended for investors to invest in the stock market. The suggestions that would be taken into consideration for the management of Bank BTN is by changing the segmentation policy and diversify towards bank lending, so the credit risk factors can be better (very low risk).

Kata Kunci : Risiko Kredit, Risk-based Bank Rating, Self Assesment


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.