THE MEASUREMENT AND ANALYSIS OF ORGANIZATIONAL CULTURE AND SUBCULTURE AT PT INDONESIAN CLOUD USING THE ORGANIZATIONAL CULTURE ASSESSMENT INSTRUMENT AND COMPETING VALUES FRAMEWORK
BHAVNA, Dr. Tarsisius Hani Handoko, M.B.A.
2014 | Tesis | S2 ManajemenPT Indonesian Cloud adalah penyedia layanan komputasi awan yang menawarkan rangkaian lengkap layanan cloud bagi perusahaan. Persaingan yang sangat ketat di industri komputasi awan serta perubahan yang cepat dalam teknologi menjadi tantangan besar bagi Indonesian Cloud untuk dapat menang di pasar. Oleh karena itu mereka perlu mengubah bagaimana cara segala sesuatunya dilakukan. Namun yang pertama kali diusulkan dalam mengembangkan atau mengubah strategi adalah pentingnya mengetahui peta atau profil budaya perusahaan saat ini dan budaya yang diharapkan, minimal dalam tiga tahun mendatang. Oleh karena itu, tesis ini melakukan pengukuran dan analisa budaya dan sub-budaya PT Indonesian Cloud. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dikenal dengan Organizational Culture Assessment Instrument atau OCAI. Kuesioner OCAI tersebut dibagikan kepada karyawan yang sudah bekerja selama paling sedikit satu tahun dan kemudian analisis dilakukan dengan menggunakan Competing Values Framework yang mevisualisasikan empat jenis budaya organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya Market adalah budaya dominan yang ada di PT Indonesian Cloud sementara Clan adalah budaya yang diharapkan 3 tahun mendatang. Budaya saat ini menunjukkan keselarasan antara berbagai dimensi budaya organisasi. Sebagian besar hasil uji korelasi budaya saat ini menunjukan hasil yang negatif yang artinya jika skor satu jenis budaya meningkat, maka skor budaya lainnya menjadi lebih rendah. Berbagai dimensi dari budaya yang diharapkan juga cukup kongruen dan sebagian besar hasil uji korelasi juga menunjukan hasil yang negatif. Selain itu, perbedaan antara budaya saat ini dan yang diharapakan kurang dari 10 poin sehingga tidak ada urgensi untuk perubahan. Selain itu, budaya di PT Indonesian Cloud juga tampaknya cukup selaras dengan industri kecuali untuk budaya adhocracy-nya. Sedangkan untuk sub-budaya, divisi Penjualan dan Teksnis memiliki budaya Market sementara divisi Operasional memiliki budaya Clan. Selain itu, divisi Penjualan dan Teknis berbeda dalam budaya Adhocracy dan Hierarchy, sementara divisi Penjualan dan Operasional berbeda dalam budaya Clan dan Market budaya dan terdapat perbedaan dalam semua jenis budaya antara divisi Teknis dan Operasional. Di sisi lain, dalam situasi yang diharapkan, divisi Penjualan dan Teknis menginginkan perubahan menuju budaya Clan, sedangkan Divisi Operasional masih menikmati budaya Clan saat ini. Selanjutnya, untuk budaya yang diharapkan, divisi tidak dapat perbedaan budaya yang diharapakan antara divisi Penjualan dan Teknis, sementara divisi Penjualan dan Operasi dan divisi Teknis dan Operasi memiliki perbedaan pada budaya Adhocracy dan Market. Hasil penelitian ini kemudian digunakan untuk merumuskan rekomendasi yang tepat untuk mencapai budaya perusahaan yang sesuai di PT Indonesian Cloud.
PT Indonesian Cloud is an Indonesian owned cloud computing service provider offering a full suite of enterprise cloud services. The current immense competition in the cloud computing industry as well as the rapid change in technologies becomes a big challenge for Indonesian Cloud to win in the market. Therefore Indonesian Cloud needs to change the way things are done. But the first thing suggested in developing or transforming a strategy is to know the map or profile of the current culture and the culture that is expected, minimum in the coming three years. Therefore, this thesis deals with the measurement and analysis of the corporate culture and subcultures of Indonesian Cloud. In this research, data was collected by means of a questionnaire known as the Organizational Culture Assessment Instrument or OCAI. The OCAI Questionnaires were distributed to employees with service year of at least one and the analysis of was then done using the Competing Value Framework which visualizes four types of organizational cultures. Research results showed that Market culture is the dominant existing culture at PT Indonesian Cloud while Clan is the preferred culture in three years to come. The current culture indicated cultural congruence as various aspects of organizational culture are aligned. The correlation results of the existing culture is mostly negative which means that if a score of one culture type becomes higher, the others become lower. Various aspects of the preferred culture are also reasonably congruent and the correlation results are also mostly negative. Moreover, the discrepancy between the current and preferred culture is less than 10 points, which does not induce the necessity to change. Additionally, the culture at PT Indonesian Cloud appears to also be reasonably aligned with that of the industry except for its adhocracy culture. As for the subcultures, the Sales and Technical directorate have a Market culture while the Operations directorate perceived themselves to have a Clan culture. Moreover, the Sales and Technical directorate differ in their Adhocracy and Hierarchy culture, while Sales and Operations directorate differ in Clan and Market culture and Technical and Operations directorate differ in all cultures types. On the other hand, in the preferred situation the Sales and Technical directorate desired a change towards a Clan culture, while the Operations directorate still favors its current Clan culture. Furthermore, for the preferred culture, the Sales and Technical directorate do not differ in any culture type, while Sales and Operations and Technical and Operations directorate differ in their Adhocracy and Market culture. The results of this study were then used to formulate appropriate recommendations to achieve the suitable corporate culture at PT Indonesian Cloud.
Kata Kunci : Budaya Perusahaan, Sub-budaya, OCAI, Competing Values Framework, PT Indonesian Cloud, Deskriptif Kuantitatif