PENGARUH PENGUMUMAN KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK TAHUN 2013 TERHADAP HARGA SAHAM DI INDONESIA
ANASTASIA PUTRI ADIARINI, Dr. Su'ad Husnan, MBA.
2014 | Tesis | S2 ManajemenPengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak yang dilakukan pemerintah pada tanggal 22 Juni 2013 menimbulkan pelemahan pada berbagai sektor saham. IHSG tercatat melemah hingga 141 poin atau 2,94% pada 20 Juni 2013 menjelang keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak. Pelemahan yang terjadi pada berbagai subsektor saham bervariasi yang dapat disebabkan oleh variasi tingkat konsumsi bahan bakar minyak dari tiap subsektor. Subsektor yang tercatat sebagai pengguna energi dalam tingkat yang lebih tinggi dibandingkan subsektor yang lainnya antara lain subsektor semen, kimia, tekstil dan garmen, transportasi, automotif dan komponennya, logam dan sejenisnya serta makanan dan minuman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji terdapatnya return taknormal negatif signifikan pada saham dari berbagai subsektor, khususnya pada subsektor yang tercatat menggunakan energi dalam jumlah yang besar. Tujuan kedua dari penelitian ini adalah untuk menguji reaksi saham yang memiliki proporsi penggunaan bahan bakar minyak yang tinggi apakah akan mengalami return taknormal negatif yang lebih kecil daripada saham yang mempunyai proporsi penggunaan bahan bakar minyak yang rendah. Pada penelitian ini, pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap harga saham akan dipelajari dengan menggunakan pendekatan event study. Sampel dipilih melalui metode purposive sampling dengan mempertimbangkan tiga kriteria, yaitu telah terdaftar pada bursa efek Indonesia pada tahun 2008, diperdagangkan secara aktif dan perusahaan sampel adalah anggota subsektor semen, kimia, tekstil dan garmen, transportasi, automotif dan komponennya, logam dan sejenisnya serta makanan dan minuman. Penelitian ini memiliki 129 hari periode observasi yang diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu 118 hari periode estimasi dan 11 hari periode jendela. Penentuan return ekspektasi dilakukan dengan dua cara, yaitu market model dan marketadjusted model untuk saham dengan beta yang tidak signifikan. Tiap subsektor kemudian diuji tingkat signifikansinya dengan uji t untuk mengetahui apakah terdapat abnormal return negatif pada berbagai subsektor. Uji t juga dilakukan untuk menguji bahwa saham dari subsektor dengan proporsi penggunaan bahan bakar minyak yang tinggi akan mengalami return taknormal negatif yang lebih kecil dibandingkan dengan saham anggota subsektor dengan proporsi penggunaan bahan bakar minyak yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat return taknormal negatif pada berbagai subsektor saham yang menggunakan energi dalam jumlah besar bila dibandingkan saham dari subsektor lain, yaitu saham pada subsektor semen, kimia, tekstil dan garmen, transportasi, automotif dan komponennya, logam dan sejenisnya serta makanan dan minuman. Subsektor dengan proporsi penggunaan bahan bakar minyak lebih tinggi mengalami return taknormal yang lebih rendah (lebih negatif) bila dibandingkan dengan subsektor yang memiliki proporsi penggunaan bahan bakar minyak yang lebih rendah. Akan tetapi, hasil regresi antara return taknormal saham terhadap proporsi penggunaan bahan bakar minyak pada periode di mana terjadi return taknormal yang negatif signifikan pada semua saham amatan mendapatkan bahwa return taknormal saham tidak dapat dijelaskan oleh proporsi penggunaan bahan bakar minyak. Dari tiga regresi yang dihasilkan, hasil yang signifikan hanya terjadi pada t+3 sedangkan pada periode yang lain hasil tidak signifikan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa return taknormal negatif saham akibat kenaikan harga bahan bakar minyak tidak dapat dijelaskan dengan proporsi penggunaan bahan bakar minyak saja.
The announcement of fuel price rising by the government on June 22, 2013 cause various response on many sectors of the stock. JCI was recorded fell to 141 points or 2.94% at June 20, 2013 ahead of the government’s decision to raise fuel price. The declining price of stock from various subsector can be caused by the level of fuel consumption that vary from each stock. The subsector of stock which have high level of fuel consumption are cement, chemical, textile and garment, transportation, automotive and its component, steel and alike, food and beverage. The objective of this observation was to test the existence of significant abnormal return from various subsector, especially from the subsector that have high level of fuel consumption. The second objective was to test whether the stock that has high level of fuel consumption will react less than the stock that have lower level of fuel consumption To analyze the effect of fuel price announcement towards the stock price, the observation was conducted with event study approach. The sample was selected by purposive sampling method with considering three criteria: the firm had been listed in stock market from 2008, the stock was actively traded, and the stock was included in subsector cement, textile and garment, transportation, automotive and its component, steel and alike and food and beverage. The time period of the observation is 129 days which can be classified into two categories: 118 days for estimation period and 11 days for window period. This observation was using two method to estimate the expecting return, which were market model and market-adjusted model for the stock that have insignificant beta. The t-test then being conducted to test the existence of abnormal return from various subsector. The t-test also being conducted to test whether the stock with high level of fuel consumption would show lower abnormal return than stock with low level fuel consumption or not. The result of this observation showed that there were negative abnormal return from various subsector of stock that being indicated with high level of fuel consumption. The subsector of stock that being indicated with higher level of fuel consumption would show lower abnormal return than the subsector of stock with lower level of fuel consumption. However, the regression between abnormal return of stock and the fuel proportion of stocks in the period when the significant negative abnormal return occurred showed that abnormal return can not only being explained by the level of fuel consumption. According to three regressions that being conducted, the significant result only occurred in t-3, while the rest showed insignificant result. Hence, it can be concluded that negative abnormal return that being shown by various stock as the effect of fuel price rising announcement can not only being explained by fuel consumption level.
Kata Kunci : event study, pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak, return taknormal, proporsi penggunaan bahan bakar minyak