PREDIKSI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAERAH CUGUNG DAN SEKITARNYA, GUNUNG API RAJABASA, LAMPUNG DENGAN METODE AUDIO MAGNETOTELURIK
LA ODE ANDIMBARA, Dr. Wahyudi
2015 | Tesis | S2 Ilmu FisikaPenelitian ini mengenai Prediksi Struktur Bawah Permukaan Daerah Cugung dan Sekitarnya, Gunung Api Rajabasa, Lampung dengan Metode Audio Magnetotelurik dengan tujuan mengetahui distribusi resistivitas medium dan menginterpretasikan struktur bawah permukaan daerah penelitian. Alat yang digunakan dalam penelitian yaitu stratagem versi 26716-01 Rev.D dan luas area penelitian sekitar 7 km2 dengan 29 titik pengukuaran. Data lapangan dalam penelitian ini berupa data frekuensi, koherensi, apparent resistivity dan fase. Data tersebut diolah dengan mengubah frekuensi dalam akar periode dan melakukan smoothing dengan cara moving average. Langkah selanjutnya yaitu melakukan pemodelan secara inversi pada data hasil smoothing. Hasilnya berupa variasi resistivitas batuan sebagai fungsi kedalaman. Langkah terakhir yaitu mengkorelasikan hasil pemodelan semua titik pengukuran. Hasilnya berupa kontur resistivitas batuan berdasarkan kedalaman yang sama dimana nilai distribusi resistivitas berada pada rentang (10-300) mï— dengan nilai resistivitas rendah mengindikasikan adanya sumber panas di bawah permukan daerah penelitian, sedangkan hasil kontur kedalaman berdasarkan resistivitas batuan yang sama menunjukan adanya sesar arah timurlaut - baratdaya.
This research on prediction of subsurface structure of Cugung area and Surrounding, Rajabasa Volcano, Lampung with Audio-Magnetotellurics method aims to identify medium resistivity distribution and to predict subsurface structure in research area. The instrument used in this research is Sratagem version 26716-01 Rev.D and 7 km2 research area with 29 measurement points. Field data in this research is the data of frequency, coherence, apparent resistivity and phase. The data is processed by changing frequency in period root and smoothing by moving average method. The next step is inversion modeling on smoothing result. The result of invertion modeling is rock resistivity variation as depth function. The last step is to correlate the resut of inversion modeling on all measurement points. The result is resistivity contour based on same depth in which resistivity distribution value is in range of 10-300 ï—m with low resistivity value indicating heat source in subsurface of research area, while the result of the depth contour based on same rock resistivity points existence of fault at northeast - southwest direction.
Kata Kunci : Gunung Api Rajabasa, Audio Magnetotelurik, dan Stratagem