Modal Sosial di dalam Upaya Pengurangan Risiko Bencana Merapi "Sister Village" (Studi Kasus Desa Ngargomulyo Kecamatan Dukun dan Desa Tamanagung Kecamatan Muntilan)
AVIYANTI N, Dr. Bevaola Kusumasari
2015 | Tesis | S2 Administrasi PublikPenelitian ini merupakan kajian tentang program sister village sebagai upaya pengurangan risiko bencana di Kabupaten Magelang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran modal sosial di dalam program sister village serta faktor pendukung modal sosial tersebut. Belum adanya penelitian tentang peranan modal sosial dalam pengurangan risiko bencana yang fokus pada penanganan pengungsi dan beralihnya paradigma penanganan bencana dari tanggap darurat menuju pengurangan risiko bencana menjadikan penelitian ini sangat relevan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus di pasangan Desa Ngargomulyo dan Desa Tamanagung. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dan snowball sampling dengan jumlah informan 13 orang. Teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara tidak terstruktur dan kajian pustaka/ dokumentasi. Teknik analisis data dengan reduksi data, penyajian data hasil reduksi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan dimensi modal sosial yang berperan dalam sister village adalah kelompok dan jaringan, kepercayaan dan solidaritas, tindakan bersama dan kerjasama, informasi dan komunikasi, kohesi sosial dan inklusi, serta pemberdayaan dan tindakan politik. Keenam dimensi modal sosial tersebut memudahkan Pemerintah Desa Ngargomulyo dan Pemerintah Desa Tamanagung dalam menjalin sister village. Adanya kelompok mempermudah kedua desa untuk menjalin hubungan. Jaringan yang terbentuk di antara pemerintah kedua desa dengan berbagai lembaga memberikan bantuan yang berarti dalam mendukung sister village. Kepercayaan dan solidaritas menjadi modal sosial yang mendasar. Terbentuknya desa bersaudara dikarenakan adanya rasa saling percaya diantara kedua desa dan adanya solidaritas desa penyangga. Tindakan bersama dan kerjasama berperan dalam mewujudkan tujuan bersama sister village. Informasi dan komunikasi semakin mempererat jalinan kedua desa. Kohesi sosial dan inklusi tercermin dari sikap Pemerintah Desa Tamanagung yang mau menerima dijadikan sebagai desa penyangga. Ikatan sosial yang telah terjalin di antara kedua desa memperkuat persaudaraan kedua desa. Pemberdayaan dan tindakan politik memberi ruang bagi pemerintah kedua desa untuk menentukan kebijakan dalam sister village. Modal sosial sister village didukung oleh faktor kepemimpinan. Inisiatif pemerintah daerah dan antusiasme pimpinan kedua desa bersaudara memberikan dukungan yang berarti dalam modal sosial sister village. Saran kepada Pemerintah Kabupaten Magelang untuk segera memikirkan dan mempersiapkan dukungan sarana dan prasarana di desa penyangga. Untuk Pemerintah Desa Ngargomulyo agar terus aktif dalam menjalin kerjasama, mempertahankan ikatan sosial, dan memberikan tindakan timbal balik. Untuk Pemerintah Desa Tamanagung terus melakukan sosialisasi agar ke depan tidak menimbulkan konflik dan mampu meminimalkan potensi ketidakpercayaan. Untuk pemerintah daerah lain, sister village ini bisa dijadikan sebagai referensi dalam penanganan pengungsi. Untuk peneliti selanjutnya, bisa menelaah pada kesiapan, respon, peran serta masyarakat, implementasi, dan evaluasi program sister village.
This research is a study on sister village program as a disaster risk reduction effort in Magelang Regency. The purpose of this study was to discover the roles of social capitals in the sister village program and the social capital supporting factor. The lack of study on the roles of social capitals in disaster risk reduction which focuses on refugee management and the shift of disaster management paradigm from emergency response to disaster risk reduction makes this study very relevant. The research method used was qualitative research method with case study approach in Ngargomulyo Village and Tamanagung Village couple. The sampling techniques were purposive sampling and snowball sampling with 13 informants. The data collection techniques were field observation, unstructured interview and literature study/documentation. The data analysis techniques were data reduction, presentation of result of data reduction, and drawing conclusion. Research results showed that social capital dimensions which play a role in sister villages are group and network, trust and solidarity, collective acts and cooperation, information and communication, social cohesion and inclusion, and empowerment and political actions. The six social capitals helped the governments of Ngargomulyo Village and Tamanagung Village in realizing sister villages. Groups helped both villages to build a relation. Network between both village governments and various institutions significantly supported sister villages. Trust and solidarity were basic social capitals. The establishment of sister villages was due to mutual trust between both villages and solidarity of supporting village. Collective acts and cooperation realize common purposes of sister villages. Information and communication tightened the relation between both villages. Social cohesion and inclusion were reflected in the willingness of the government of Tamanagung Village to be the supporting village. Social bond between both villages strengthened the sisterhood of both villages. Empowerment and political actions gave a space for the governments of both villages to set policies in sister villages. Social capitals of sister villages were supported by leadership factor. The initiative of local government and enthusiasm of the heads of the sister villages gave a significant support in the social capitals of sister villages. The suggestion for the government of Magelang Regency is to immediately consider and prepare facilities and infrastructures in the supporting village. The government of Ngargomulyo Village should keep being active in cooperation, maintaining social bond, and giving feedbacks. The government of Tamanagung Village should keep socializing the public to prevent conflicts in the future and minimize the potential of distrust. To other local governments, this sister villages can be a reference in refugee management. Future researchers may study preparedness, responses, community participation, implementation and evaluation of sister village program.
Kata Kunci : modal sosial, pengurangan risiko bencana, sister village. /social capital, disaster risk reduction, sister village.