Laporkan Masalah

IMPLEMENTASI PROGRAM KEBUN BIBIT RAKYAT DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

ANTONIUS JOHAN P, Dr. Bevaola Kusumasari

2015 | Tesis | S2 Administrasi Publik

Kebun Bibit Rakyat (KBR) dicanangkan pada tahun 2010 sebagai program berskala nasional. Tujuan utamanya adalah memberdayakan petani untuk menghasilkan bibit pohon berkualitas yang dapat dimanfaatkan untuk rehabilitasi hutan dan lahan. Oleh sebab itu, implementasinya sangat bermanfaat bagi daerah dengan jumlah lahan kritis tinggi, seperti Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program KBR di Kabupaten Gunungkidul tahun 2013, serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi oleh masyarakat dan solusi yang dilakukan dalam melaksanakan program tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Implementasi program KBR dilihat dari teori implementasi Mazmanian dan Sabatier dengan lima dimensi utamanya, yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, struktur birokrasi, dan lingkungan implementasi. Data primer diperoleh dari kelompok tani peserta KBR Kabupaten Gunungkidul tahun 2013 dan Dishutbun Kabupaten Gunungkidul, sedangkan data sekunder dari laporan pelaksanaan KBR. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi kuesioner, wawancara, dan studi pustaka dengan teknik analisis data deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program KBR di Kabupaten Gunungkidul tahun 2013 dapat berjalan optimal. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa hal. Pertama adalah tercapainya target yang ditetapkan untuk masing-masing kelompok tani, yaitu 50.000 batang. Kedua, dimensi-dimensi implementasi kebijakan memberikan kontribusinya secara optimal, kecuali untuk lingkungan implementasi yang menunjukkan masih minimnya partisipasi golongan usia muda dan penggunaan inovasi teknologi. Ketiga, kendala-kendala yang ada dapat diatasi. Kendala yang teridentifikasi meliputi kendala air di musim kemarau yang diselesaikan melalui koordinasi dengan pihak terkait untuk membuka bendungan. Kendala lain yaitu adanya kondisi tertentu yang menyebabkan pelaksanaan program tidak dapat dilakukan sesuai proposal. Kendala ini diatasi melalui pengambilan biaya dari pos lain yang memungkinkan. Artinya, terdapat unsur diskresi yang dapat difungsikan dengan baik oleh kelompok tani sehingga implementasi berjalan baik. Rekomendasi terkait dengan hasil penelitian yaitu meningkatkan pemanfaatan teknologi atau menyebarkan informasi pemanfaatan inovasi teknologi pada seluruh kelompok tani. Sementara untuk keberlanjutan program, maka dapat dipertimbangkan untuk menambah sumber anggaran dari APBD Provinsi atau Kabupaten.

Kebun Bibit Rakyat (KBR) has been declared as national program since 2010. The main objective of KBR is to empower farmer to produce high quality of seedling to be utilized on forest and land rehabilitation. As result (therefore), the implementation of this program isassisting the area that has large critical land, such as Gunung Kidul Regency. The aims of this research are to analyze the implementation of KBR program in 2013, to determine the obstacles that are faced by community and to obtain the solutions to solve the obstacles of KBR in Gunung Kidul Regency. The research was conducted by quantitative method.The implementation of KBR was approached using Mazmanian and Sabatier theory with 5 dimensions which are communication, resources, disposition, bureaucracy and implementation condition. Primary data were collected from farmer communities who are members of KBR program in 2013 and Forest and Plantation Agency of Gunung Kidul Regency. Mean while, secondary data were collected from KBR report. Collecting data were figured out by questionnaire, interview, and literature review. The data were analyzed by descriptive quantitative and qualitative technique. It is revealed that the implementation of KBR showed optimal result. Indeed, it can be seen in several aspects. First, the target of KBR, which is providing 50,000 seedlings, is achieved by each farmer group. Second, the policy of KBR program generates positive contribution to the implementation as well, even though the implementing condition indicates the lack of youth participation and technology application.Lastly, the obstacles isdefined and eliminated. One of the obstacles is water shortage in the dry season, and it is over come with coordination among the stakeholders to build dam. Another obstacle is the existence of particular conditions which is possible to mislead the project from the proposal. However,it can be solved with substituting the deficit cost from other item sallowed. In other words,there is discretion factor among the farmer groups, so that implementation can be done properly. According to the result, it is recommended to improve the utilization of technology or to disseminate information on the utilization of technological innovation through out the farmer groups. On the other hand, in order to sustain the program, it can be considered to increase the budgetary resources of the provincial budget or regency.

Kata Kunci : Kebun Bibit Rakyat, Implementasi, Rehabilitasi Hutan dan Lahan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.