Kebijakan pemberdayaan usaha kecil menengah tenun songket di Kota Palembang Propinsi Sumatera Selatan
ADI, Yulius, Dr. Muhadjir Darwin
2002 | Tesis | Magister Administrasi PublikKrisis moneter dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1998 menyebabkan banyak perubahan dalam struktur pembangunan nasional, yang ditandai dengan banyak nya perusahaanperusahaan skala besar yang bangkrut, kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Bank Dunia dan International Monetery Found (IMF), kebijakankebijakan baru yang ditempuh oleh Pemerintah Indonesia sampai dengan isu lengsernya mantan Presiden Soeharto. Di tengah peliknya suasana yang dihadapi oleh Indonesia ini, di luar negeri banyak beredar bahwa Indonesia sekarang ini sedang mengalami kiamat (doomsday) akibat krisis moneter yang melandanya. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi dilapangan ternyata sangat jauh berbeda dari yang selama ini digembargemborkan oleh berbagai pihak, di mana krisis ekonomi yang terjadi hanya berlaku bagi perusahaan-perusahaan skala menengah ke atas, sedangkan untuk sektor industri kerakyatan dalam ha1 ini Usaha Kecil Menengah ternyata mampu bertahan dan menjadi fondasi bagi perekonomian Indonesia. Oleh karena itulah, maka Penulis tertarik untuk meneliti bagaimana pelaksanaan kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Palembang dalam memberdayakan Usaha Kecil Menengah yang nyata-nyata telah memberikan kontribusi yang cukup besar baik dari segi Pendapatan Bruto maupun dalam ha1 penyerapan tenaga kerja. Kota Palembang merupakan salah satu kota tertua di bumi nusantara, dan banyak peninggalanpeninggalan bersejarah yang tidak dimiliki oleh daerah lain di manapun berada, sehingga peninggalan yang memiliki nilai historis ini hendaknya dilestarikan dan dijaga. Salah satu peninggalan bersejarah yang tertua adalah Kain Songket. Dalam hubungannya dengan inilah, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap usaha kecil menengah tenun songket. Konsep yang dinilai relevan dengan penelitian penulis adalah konsep dari Ditjend. Perindustrian dan Perdagangan yang meliputi pengembangan pemasaran, sum ber daya manusia, teknologi, permodalan, informasi, iklirn usaha dan pengembangan kelembagaan, serta konsep Sofian Tan dalam Yudhoyono dkk (2002) melalui ketenangan dan keamanan berusaha serta proses dan pengurusan perijinan. Penelitian yang penulis lakukan bersifat kualitatif dan bertempat di Kota Palembang. Teknik sampling yang dipakai adalah sampling acak, dengan sampel terdiri dari lingkungan pembuat kebijakan sebanyak 3 orang, pengusaha tenun songket sebanyak 15 orang serta 5 orang pengrajin songket. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, kuesioner dan wawancara. Kenyataan yang terjadi di lapangan adalah bahwa tidak semua kebijakan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Palembang itu memiliki manfaat dan kegunaan bagi obyek binaannya yaitu Usaha Kecil Menengah Tenun Songket. Hubungan koordinasi antara dinas/instansi maupun dengan BUMN/BUMD adalah hubungan yang kurang harmonis. Pemerintah Kota Palembang sebagai induk organisasi di Kota Palembang harus lebih meningkatkan kinerja nya serta juga perlu untuk mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap seluru h kegiatan yang pernahltelah dilakukan oleh Pemerintah Kota Palembang
In the middle 1998, monetary and economy crisis attack violently Indonesia cause a lot of changes on national development structure, signed by many big scale companies bankrupt, cooperation between Indonesian government and International Monetary Fund (IMF), national new policies till abdicate former President Soeharto issue. In the middle of complicated condition in Indonesia, in abroad appear in number that Indonesia is in doomsday cause of monetary crisis. But, it is not true, because economy crisis only happen on the middle up to big scale companies, while people industry sector, small and middle scale industry (UKM) apparently still can stand and become foundation for Indonesia's economy. Because of it, the writer interest in research how the government of Palembang cit implement policy in empowering small and middle scale industry (UKM) which had big enough contribution from gross of income side or employ the manpower. Palembang city is one of the oldest city in the Indonesian archipelago, and many ancient archeological remain here which do not have in other place, so that historic things must be conservated. One of the oldest historic thing is Songket cloth. In this connection, the writer interest in research Songket woven cloth industry as small and middle scale industry. Director general of Industrial and sale's concept (2000) considered as a relevant theory in this research, by marketting, human resources, technology, capital strengthenen, information system, business supported condition, building institutional strengthenen, and Sofian Tan's concept on Yudoyono etc (2002) by composure and safety in business and process and licencing treatment. The research that writer's done is a qualitative research, setting in Palembang City. The sampling that writer's choosen is randome sampling and it's containing information from policy makers about 3 (three men), the small-middle scale businessmen about 15 (fifteen men), craftsmen about 5 (five men). Collecting data is done by using observation, questioner and interview's methods. In a fact, it is not all of the policy which implemented by Government of Palembang city have a usefulness to its object, especially Songket woven cloth industry as small and middle scale industry. Indeed, there is not enough harmonic coordination between department/government institution and state owned corporation (BUMN)/local government owned corporation (BUMD). Government of Palembang city as main organization in Palembang city should increase their performance and need to evaluate and control all of activities wich had done
Kata Kunci : Kebijakan Usaha Kecil Menengah,Tenun Songket