Laporkan Masalah

BEDHAYA : TARIAN PEREMPUAN DALAM PERTUNJUKAN REGALIA

NOOR DWI ARTYANDARI, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, MA.

2015 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGI

Tulisan ini ingin memaparkan sebuah produk budaya, Bedhaya dalam dinamika perjalanan waktu. Keberadaan Bedhaya tak lepas dari aspek religio magis yang mendukung kekuasaan Jawa. Aspek religio magis tersebut terkait dengan tari, pusaka, dan regalia Sultan. Bedhaya merupakan salah satu pusaka Sultan, menjadi legitimasi kuasa Sultan. Sebagai pusaka Sultan, Bedhaya dianggap sakral. Pada kapasitasnya tersebut, Bedhaya terkait dengan komunitas wanita yang hidup dalam keputren. Studi ini bersifat kualitatif dengan pendekatan emic, yang mengutamakan pemahaman subjek yang diteliti. Sebagai sebuah fakta sosial, pemahaman terhadap subjek yang diteliti tak lepas dari penafsiran dan interpretasi. Fakta kehidupan Bedhaya merupakan sebuah proses dinamis yang didekati dari bentuk, sejarah, pengaruh, dan intepretasi keberadaannya di masa sekarang. Dalam perjalanan waktu, Bedhaya mengalami dinamisasi kehidupan, menjadi konsumsi publik dalam kapasitasnya sebagai seni hiburan dan tetap menjadi sakral dalam sebuah rekosntruksi. Merawat Bedhaya dalam kesakralan memerlukan siasat guna merealisasikan ideal sakral dalam jaman yang telah berubah.

The objective of the study is to introduce Bedhaya as a cultural product which survives through dynamic ages. Its existence is affixed to magic-religion aspect reinforcing the supremacy of Java linked to dance, heritage, and Sultan’s regalia. It is one of Sultan’s heritages considered as divine as it is the legitimacy of his power. As a consecrated legacy, Bedhaya is interlinked to the women living inside the royal harem. This qualitative study utilized emic approach prioritizing in research subject’sinsight. Attempts to comprehend research subjects as a social fact are partial to interpretations. The life fact of Bedhaya is a dynamic process approached from the shape of history, influence and interpretation of its existence nowadays. Focused observation was initiated in mid-2001 while still highlighting noteworthy information gathered upon interacting with subjects. Main informants consisted of dancers and previous dwellers of royal harem. Over the course, the dynamic of life transformed Bedhaya into an entertaining art form for public though it is still deemed as sacred within reconstruction. Preserving the sanctity of Bedhaya requires ingenuity to achieve the consecrated ideal within the ever changing age.

Kata Kunci : sakral, regalia, perempuan, perubahan, siasat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.