PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI KAMPUNG COKRODIRJAN DAN RATMAKAN KOTA YOGYAKARTA
FATKHATI SAIDA RAHMA, dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes, Ph.D; dr. Arta Farmawati, Ph.D
2015 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTERLatar Belakang :Diare merupakan penyebab kematian kedua pada balita di dunia.Sebagian besar dari mereka disebabkan oleh makanan dan sumber air yang terkontaminasi penyebab diare.Penelitian ini bertujuan melihat prevalensi dan gambaran faktor risiko yang menyebabkan kejadian diare di Kampung Cokrodirjan dan Ratmakan, Kota Yogyakarta. Metode :Penelitian ini merupakan analisis observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara langsung dan pemeriksaan sumber air yang digunakan untuk memasak,minum dan mencuci di Balai Laboratorium Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk dicek kandungan bakteri coliform dan coli tinja. Selanjutnya analisis deskriptif pada data penelitian dilakukan dengan menggunakan program SPSS. Hasil :Diketahui prevalensi kejadian diare sebesar 20,0%. Faktor risiko kejadian diare yang diteliti adalah faktor sosioekonomi yaitu pendidikan ayah (p=0,654), pendidikan ibu (p=0,495) dan penghasilan total orangtua (p=0,502). Faktor risiko diare menurut faktor lingkungan: sumber air masak dan minum, sumber air mencuci (p=1,000) dan sanitasi (p=0,589). Faktor gizi dan imunisasi berdasarkan ASI eksklusif (p=1,000), status gizi (p=0,067) dan imunisasi wajib (p=1,000). Faktor perilaku yang diteliti yaitu kebiasaan cuci tangan (p=0,728) dan memasak air minum (p=0,049). Kandungan bakteri coliform berturut-turut pada air sumur, air PDAM dan air sungai adalah 22 MPN/100ml, �1898 MPN/100ml dan 50x102MPN/100ml. Kandungan bakteri coli tinja berturut-turut pada air sumur, air PDAM dan air sungai adalah 9 MPN/100ml, 188 MPN/100ml dan 38x102 MPN/100ml. Simpulan: Prevalensi kejadian diare di atas angka nasional. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara faktor sosioekonomi, lingkungan, gizi dan imunisasi dengan kejadian diare (p>0,05) dan terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku memasak air dengan kejadian diare (p<0,05). Sumber air yang terdiri dari air sumur, air PDAM dan air sungai tercemar bakteri coliformdan coli tinja.
Background : Obesity is a social, health and economic problem. The prevalence increase in all age group annually. Basic etiology of obesity is leptin. Increasing adiposity and BMI are proportional to the raising of leptin. The parameter of obesity, besides BMI, is waist circumference. This research want to evaluate the difference of leptin level between healthy obese and non-obese, and correlation between leptin level and waist circumference in Yogyakarta. Method : A cross sectional study with 108 subject who grouped into obesity, overweight and normoweight. The measurement of leptin level use ELISA method. Result stated in ng/mL. Waist circumference measured by waist watcher tape in centimeters. Mean comparison leptin level tested by Kruskal Wallis, and the correlation between leptin level and waist circumference tested by Spearman test. Significant if p<0.05 Result: Leptin levels in obese group (27.17+1.86 ng/mL; p=0.000) and women subject are higher than others. Correlation of leptin levels and waist circumference in obese men(r=0.500) and overweight men(r=0.716) are positive, strong and p<0.050, while in normoweight men (r=0.292), obese women(r=0.326) and overweight women (0.086)are positive, weak, and p>0.050. In normoweight women(r=-0.180) the correlation is negative, weak and p>0.050. Conclusion: Obese group and women subject have higher leptin levels. Correlation of leptin levels and waist circumference is positive in obese, overweight and men.
Kata Kunci : Diare, pendidikan, penghasilan, sumber air, sanitasi, status gizi, imunisasi, cuci tangan, coliform, coli tinja