KAJIAN POLIMORFISME GEN PfMDR1 DAN PfATP6 PADA PASIEN MALARIA FALCIPARUM NON KOMPLIKASI DI KABUPATEN PURWOREJO
FIQIH NURKHOLIS, Dr. dr. Rina Handayani, M.Kes.
2015 | Tesis | S2 Ilmu FarmasiKegagalan pengobatan malaria dengan ACT (Artemisinin based combination therapy) akhir-akhir ini telah dilaporkan di beberapa beberapa negara. Hal ini membuat kekhawatiran penggunaan ACT di Indonesia telah mengalami kegagalan. Salah satu mekanisme resistensi pengobatan diduga berkaitan dengan polimorfisme pada gen PfMDR1 dan PfATP6. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi polimorfisme PfMDR1 dan PfATP6, dan mengkaji hubungan polimorfisme gen PfMDR1 dengan respon klinis dan laboratorium terhadap terapi DHP Primakuin pada penderita malaria falciparum non komplikasi di Kabupaten Purworejo. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode kohort yang dilakukan pada periode April 2014 – Januari 2015 pada penderita malaria non komplikasi di Kabupaten Purworejo. Subjek penelitian dilakukan pemeriksaan sampel darah secara mikroskopis. Sampel darah yang positif malaria falciparum diambil darahnya. Jumlah sampel yang positif malaria falciparum yaitu 50 sampel. Sampel darah dilakukan isolasi DNA dari darah tepi, setelah itu diamplifikasi fragmen gen PfMDR1 dan PfATP6 dengan teknik PCR. Sebanyak 50 sampel dinyatakan positif terdapat gen PfATP6 dan 35 sampel positif terdapat gen PfMDR1. Sampel yang positif dilakukan pemotongan dengan enzim restriksi AflIII (BspTI). Sebanyak 35 sampel positif PfMDR1, seluruhnya tidak dapat terpotong oleh enzim restriksi dengan kata lain merupakan sampel mutan. Sampel yang mengandung PfATP6 sebanyak 50 sampel, terdapat 2 sampel yang tidak dapat terpotong enzim (sampel mutan), dan 48 sampel merupakan wild type. Sebanyak 50 pasien tidak mengalami kegagalan pengobatan baik kasep maupun dini. Hal ini menunjukkan walaupun terdapat mutasi PfATP6 namun penggunaan DHP Primakuin masih dikatakan efektif. Berdasarkan hasil yang didapat, maka dapat diambil kesimpulan bahwa mutasi terjadi pada seluruh sampel positif PfMDR1 dan 2 sampel PfATP6 mengalami mutasi, namun mutasi pada gen PfATP6 tidak mengakibatkan resistensi terhadap pengobatan malaria falciparum non komplikasi di Kabupaten Purworejo.
ACT (Artemisinin based combination therapy) therapy failure have been reported in several countries. This report warn about resistance of ACT in Indonesia. One of the unexpected resistance mechanism associated with PfMDR1 and PfATP6 gene polymorphisms. This study aims to determine the frequency of PfMDR1 and PfATP6 polymorphisms and examine the relationship of pfmdr1 and pfatp6 gene with clinical and laboratory response to DHP Primaquine in patient with uncomplicated malaria falciparum in Purworejo Regency. This study is an observational study with cohort methods has been carried out in period April 2014 to January 2015 to patient with uncomplicated malaria falciparum in Purworejo Regency. There were 50 sample with malaria falciparum. DNA are isolated from the sample, then amplificated to obtain PfMDR1 and PfATP6 gene fragment with PCR. There were 50 sample positive PfATP6 gene and 35 sample positive PfMDR1 gene. AflIII (BspTI) were used as restriction enzyme for PfMDR1 and PfATP6 digestion. All of positive samples of PfMDR1 (35 sample) revealed mutation, and from 50 positive sample of PfATP6, there were 2 samples revealed mutation, 48 other sample are wild type. All off patient were not showed failure therapy. DHP Primaquine are still effective againts plasmodium malaria. There were 2 mutations in PfATP6, and all of PfMDR1 are revealed mutation. DHP Primakuin still active againts plasmodium malaria.
Kata Kunci : malaria falciparum, DHP Primakuin, polimorfisme, PfMDR1, PfATP6