DAYA ANTIHELMINTIK INFUS BUAH PARE (Momordica charantia L.) TERHADAP CACING DEWASA Ascaridia galli in vitro
MUHAMMAD DIMAS R. R., Dr.drh. Sitti Rahmah Umniyati, S.U; Dr. Budi Mulyaningsih, Apt., MS.
2015 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTERLatar belakang: Prevalensi kecacingan di Indonesia mencapai lebih dari 20%, dengan Ascaris lumbricoides sebagai cacing yang paling sering menginfeksi manusia, dan penyakitnya disebut askariasis. Penanggulangan askariasis dilakukan dengan antihelmintik sintetik seperti Albendazole yang bagi sebagian masyarakat sulit dijangkau, padahal buah pare (Momordica charantia L.) juga memiliki potensi daya antihelmintik. Perlu penelitian lebih lanjut dengan cacing Ascaridia galli untuk mengetahui daya antihelmintik buah pare. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui daya antihelmintik, mengetahui LC50 dan LC90, serta mengetahui adanya perbedaan LT infus buah paredan albendazole 0,75% terhadap cacing dewasa A. galli in vitro. Metode: Penelitian ini merupakan quasi experimental berdesain post test only with control group dengan total 205 cacing A. galli sebagai subyek penelitian. Uji pendahuluan dengan perendaman A. galli di dalam infus buah pare berbagai konsentrasi dilakukan untuk menentukan variasi konsentrasi infus buah pare pada uji akhir. Uji akhir dengan infus buah pare konsentrasi 80%; 29,1%; 11,3%; 4,3%; 1,6%; 0,625%; kontrol positif dan kontrol negatif. Jumlah kematian cacing dicatat setiap 1 jam. Analisis data dilakukan dengan metode regresi probit untuk mendapatkan data Lethal Concentration (LC)danLethal Time (LT). Hasil penelitian: Didapatkan LC50 dan LC90 infus buah pare pada 11 jam adalah 22,09% dan 649,81%. Terdapat perbedaan LT infus buah pare dan albendazole 0,75%, LT50 dan LT90 infus buah pare konsentrasi 80% adalah 465,62 menit dan 709,66 menit, sedangkan LT50 dan LC90 albendazole 0,75% adalah 298,10 menit dan 530,30 menit. Kesimpulan: Infus buah pare (Momordica charantia L.) memiliki daya antihelmintik terhadap cacing dewasa Ascaridia galli in vitro.
Background: Helminthiasis prevalence in Indonesia has reached more than 20%, which Ascaris lumbricoides as the commonest helminth infecting human, and the disease called ascariasis. Sintetic anthelmintic such as albendazole has been chosen to treat ascariasis that inaccessible for some people, although bittermelon (Momordica charantia L.) fruit also has anthelmintic potency. Research by using Ascaridia galli needed to prove anthelmintic effect of bittermelon fruit. Objective: To determine anthelmintic effect, LC50 and LC90 and also LT differences between bittermelon fruit infuse and albendazole 0,75% to A. galli in vitro. Methods: This study was a quasi experimental using post test only with control group design, which 205 of A. galli worm used as the subject. Initial test by A.galli soaked in bittermelon infuse at various concentration was held to determine the variation of concentration used in final test. Final test used bittermelon fruit infuse at concentration 80%; 29,1%; 11,3%; 4,3%; 1,6%; 0,625%; also positive control and negative control. The number of mortal worm noted every 1 hour. Data analysis by probit regression method used to determine Lethal Concentration (LC) and Lethal Time (LT). Results: LC50 and LC90 of bittermelon infuse were 22,09% and 649,81%. There were differences between LT of bittermelon infuse and albendazole 0,75% which LT50 and LT90 bittermelon infuse at concentration 80% were 465,62 minutes and 709,66 minutes, besides LT50 and LT90 albendazole 0,75% were 298,10 minutes and 530,30 minutes. Conclusion: Bittermelon (Momordica charantia L.) fruit infuse has anthelmintic effect in adult helminth Ascaridia galli in vitro.
Kata Kunci : Askariasis, A. galli, Momordica charantia L., infus buah pare, in vitro