Seroprevalensi dan Karakteristik Hepatitis C Pada Pendonor Darah di UPTD RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2011-2014
ABDULLAH SYAFIQ E, dr. Fahmi Indrarti,Sp.PD; dr.Rizka H. Asdie,Sp.PD-KPTI
2015 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTERLatar Belakang: Departemen Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan skrining hepatitis C darah donor, sebagaimana yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO). Walaupun terdapat standar prosedur skrining, belum menjamin 100% eliminasi transmisi. Masih terdapat darah donor yang belum aman disebabkan kualitas sistem skrining. Tujuan Penelitian: Untuk membantu klinisi memberikan data persentase darah donor reaktif anti-HCV dengan membandingkan karakteristik jenis kelamin, kelompok umur, golongan darah, wilayah asal dan pekerjaan. Metode: Analisis observasional cross-sectional retrospektif data rekam medis semua pendonor di UPTD RS Dr. Sardjito dari bulan April 2011 hingga Maret 2014 dengan membandingkan jenis kelamin, kelompok umur, golongan darah, wilayah asal dan pekerjaan. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software SPSS Statistics 17.0 dengan uji statistik Chi-square untuk mengetahui kebermaknaan karakteristik pendonor terhadap kasus donor reaktif anti-HCV. Hasil: Terdapat 304 darah donor reaktif anti-HCV (0,623%) dari keseluruhan total pendonor. Berdasarkan karakteristik pendonor reaktif anti-HCV terbanyak terjadi pada pendonor berjenis kelamin laki-laki (0,576%), berada pada kelompok usia 17-30 tahun (0,283%), bergolongan darah O (0,207%), berasal dari Kabupaten Sleman (0,266%) dan/atau memiliki pekerjaan sebagai karyawan swasta (0,262%). Kesimpulan: Terdapat 0,623% dari seluruh pendonor reaktif anti-HCV. Kelompok usia dan pekerjaan memiliki perbedaan yang bermakna terhadap kasus donor reaktif anti-HCV (p<0,05).
Background: Indonesia’s Ministry of Health has recommended blood donors hepatitis C screening, as recommended by WHO. Although there have been a standard screening procedure, it does not guarantee 100% elimination of transmission. There still unsafe blood donor due to incomplete screening or quality screening system. Objectives: To help clinicians by providing data of donor blood containing hepatitis C virus by comparing characteristics based on gender, age group, blood type, region of origin and occupation. Methods: A retrospective cross-sectional observational analysis of medical records of all blood donor donation in UPTD dr. Sardjito of April 2011 to March 2014 by comparing gender, age group, occupation, blood type and region of origin. Data processing by using SPSS Statistics 17.0 software by Chi-square statistical test to know significance of blood donor characteristics to anti-HCV reactive donor cases. Result: There are 304 anti-HCV reactive blood donors (0,623%) from total blood donors. Based on anti-HCV reactive donors characteristic, highest incidence in men (0,576%), age 17-30 years (0,283%), O blood type (0,207%), from Sleman (0,266%) and/or employee (0,262%). Conclusion: Age group and occupation have significant difference to anti-HCV reactive blood donors (p<0,05).
Kata Kunci : donor darah, HCV, hepatitis C, penyakit menular akibat transfusi, seroprevalensi, skrining