Laporkan Masalah

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN KECEMASAN PADA PASANGAN YANG AKAN MENIKAH PADA TAHUN 2014 DI KANTOR URUSAN AGAMA KOTA YOGYAKARTA

DYAH CHANDRA SUWASTIKO PUTRI, Dra. Sumarni Msi selaku dosen pembimbing materi ; Dr. dr. Carla R. Marchira Sp.KJ(K) selaku dosen pembimbing metodologi

2015 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTER

Latar belakang : Pada dasarnya besar kecilnya suatu masalah tergantung dari tinggi rendahnya kedewasaan kepribadian seseorang dan sudut pandang dalam menghadapi sebuah stressor tersebut. Stres dapat terjadi karena stressor tersebut dapat dipersepsikan sebagai suatu ancaman yang dapat menimbulkan suatu kecemasan. Dalam sebuah perkawinan, peran kecerdasan emosional sangatlah penting. Karena dengan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi maka pasangan akan dapat menyesuaikan dirinya dengan baik terhadap pasangannya. Walaupun seseorang dalam keadaan marah, apabila baik kecerdasan emosinya kemarahan itu dapat diatur kapan perlu dimanifestasikan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kecerdasan emosional dan kecemasan pada pasangan yang akan menikah periode 2014 di kota Yogyakarta. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental, menggunakan desain crossectional. Berdasarkan ada atau tidaknya analisis hubungan antar variabel, penelitian ini dikategorikan sebagai studi analitik. Hasil : penelitian yang melibatkan 48 responden ini memiliki subyek laki-laki lebih tinggi daripada perempuan dengan nilai tengah usia 25 tahun. 31 kasus dinyatakan cemas dan hanya 17 yang tidak cemas. Hasil uji dengan Spearman rho menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosi dan kecemasan, namun hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Dikarenakan p-value diatas 0.05 maka hipotesis null (Ho) gagal ditolak. Kesimpulan : tidak terdapat hubungan antara kecerdasan emosi dengan kecemasan pada calon pengantin. Kata kunci : Kecerdasan Emosi, Kecemasan, Perkawinan

Background: Basically the sizes of the problem faced depend on personality maturity of the person and the point of view against the stressor. Stress happened due to stressor were perceived as a threat that manifest as anxiety. Within marriage, the role of emotional intelligence was important. By having high level of emotional intelligence the bride and groom would be well adapted to each other. Even though the person was in state of anger, the emotion could be handled when it needed to be manifested. Objective : This study aimed to understand the co-relation between emotional intelligence and level of anxiety in premarital bride and groom in 2007 at Jogjakarta District. Methods : This study is a non-experimental, using the cross sectional design. Based on the existance of corelation between each variables, this study is categorized as an analytic study. Result : Forty eight respondent enrolled to this study with the number of male respondent higher than female. The median age of the respondent was 25 years. Thirty one cases were classified as anxious and only 17 were classified as non anxious. Spearman rho analysis showed that a negative correlation existed between emotional intelligence and anxiety level however the existed correlation was found to be statistically insignificant. Due to p-value higher than 0.05, therefore the null hypothesis were retained Summary : No-correlation existed between emotional intelligence and anxiety level.

Kata Kunci : Kecerdasan Emosi, Kecemasan, Perkawinan