Implementasi program pengembangan kelapa sawit pola Pir-Bun oleh PTP II Medan di distrik Arso Kabupaten Jayapura
PUJIADI, Sidik, Dr. Agus Dwiyanto
2002 | Tesis | Magister Administrasi PublikProvinsi Papua merupakan daerah yang potensial dalam upaya pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan skala usaha besar. Hal ini ditinjau dari sudut ketersediaan lahan usaha pengembangan dan agroklimat wilayah. Beranjak dari kondisi tersebut, maka melalui surat Menteri Pertanian No. 85lMentanlXIll980 tanggal 2 Oktober 1980 dan Surat No. 91 8/MentanlXI/1981 tanggal 25 November 1981 ditugakan pada PTP Nusantara II Tanjung Morawa Medan untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Distrik Kupaten Manokwari dan Arso Kabupaten Jayapura Provinsi Papua, dengan menggunakan pola PIRBun. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah sampai sejauhmana implementasi program pem bangunan kelapa sawit pola PIR-Bun di Arso dan faktor - faktor apa sajakah yang mempengaruhi kinerja implentasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan dipaparkan secara deskriptif, dengan mengambil lokasi pada perkebunan PTP Nusantara II Arso. Metode pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara dan studi dokumentasi. Sesuai dengan metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka dalam proses analisis yang diteliti, penyusun menggunakan teknik analisis data kualitatif dengan cara mengklasifikasikan data yang diperoleh, kemudian menganalisis sesuai dengan gejala - gejala yang diteliti dan mengintepretasikan berdasarkan teori yang ada. Berdasarkan penelitiah yang sudah penulis lakukan maka dapat diketahui bahwa dari sisi pendapatan yang diperoleh petani plasma berdasarkan data tahun 2.000 dan 2001, pendatan petani plasma rata - rata tercatat belum atau masih di bawah pendapatan potensial atau yang ditargetkan oleh program. Namun dari sisi lain, terdapat peningkatan atau perbaikan yang cukup memadai bila dibandingkan dengan pola kehidupan lama sebelum adanya progran PIR-Bun. Selain itu pelaksanaan pembangunan perkebunan kelapa sawit pola PIR-Bun di Arso banyak mengalami hambatan, faktor - faktor yang menghambat tersebut antara lain keamanan wilayah, budaya dan etos kerja masyarakat, serta sarana pendukung yang kurang memadai khususnya sarana transportasi, dan komunikasi.
Papua province is a district having potential of large-scale oil palm plantation development. It is viewed from the availability of development field and the district climate system. Starting from this point of view, thus, though the letter of Agricultural Minister No. 85MenWW1980, on October 2, 1980 and the letter No. 918/Mentan/XV1981 on November 25, 1981, assigned PTP Nusantara II Tanjung Morawa Medan to develop oil palm plantation in the District of Manokwari Regency and Arso in Jayapura Regency of Papua Province using PIR-Bun mode. The problem in this study, how was the implementation of the development program of PIR-Bun mode oil palm and what kind of factors affecting the implementation of PIR-Bun mode oil palm development in Arso. This study was a qualitative study and implemented descriptively, using the location in the PTP Nusantara I1 plantation &so. The data collecting method in this study was using questionnaire, interview, and documentation study. According to the method used in this study, thus, in the analysis process, the researcher used the analysis technique of qualitative data by classtfying the obtained data, then, analyzing it appropriate with the phenomena observed and interpreting based on the existing theory. Based on the study carried out by the researcher, thus, it could be found out that from the side of revenue obtained by the plasma fanner, based on the data of the years of 2000 and 2001, the average revenue of the plasma farmers was noted before or still under the potential revenue of revenue targeted by the program. But from the other side, there was an increased adequately if compared with the traditional life before the PIRBun program was accepted in Arso. Before the existence of this program, Arso faced many obstacles. The factor inhibiting this program were, such as, district security, society’s culture and working ethic, and supporting instruments, which was not adequate (such as, transportation and communication).
Kata Kunci : Program Pengembangan Kelapa Sawit Pir, Bun