Laporkan Masalah

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA KEPADATAN TUNGAU DEBU RUMAH DI PONDOK PESANTREN AL-FATAA DAN RUMAH WARGA DI KAMPUNG DUKUHAN, KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

MIYA KHALIDAH, Dr. Drh. Sitti Rahmah Umniyati, SU, dr. Tridjoko Hadianto, DTM&H., M.Kes.

2014 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER

Latar Belakang: Tungau debu rumah (TDR) merupakan alergen pencetus penyakit alergi yang ditemukan di dalam debu rumah. Perabot lunak seperti kasur merupakan habitat yang cocok bagi TDR. Frekuensi pembersihan dan jumlah pengguna kasur mempengaruhi kepadatan TDR. Pondok pesantren dan rumah warga merupakan tempat tinggal yang memiliki kasur dengan berbagai macam karakteristik. Penelitian mengenai TDR masih kurang menjadi perhatian di Indonesia, termasuk di Provinsi D.I. Yogyakarta. Tujuan: Mengetahui dan membandingkan antara kepadatan TDR di Pondok Pesantren Al-Fataa dan rumah warga di Kampung Dukuhan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode: Rancangan penelitian yang dilakukan adalah studi potong lintang. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Al-Fataa dan rumah warga di Kampung Dukuhan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta. Sampel debu rumah diperoleh dari permukaan kasur dengan luas area penyedotan debu 1 m2 selama 1 menit. Kepadatan TDR dihitung berdasarkan jumlah temuan TDR dibagi luas area penyedotan debu (m2) dan berat debu hasil penyedotan (gram). Hasil: Kepadatan TDR di Pondok Pesantren Al-Fataa adalah 7 tungau/ m2 dan 25,67 tungau/ gram debu. Kepadatan TDR di rumah warga di Kampung Dukuhan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta adalah 18 tungau/ m2 dan 41,30 tungau/ gram debu. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kepadatan TDR di Pondok Pesantren Al-Fataa dan rumah warga di Kampung Dukuhan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta (p<0.05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara kepadatan TDR di Pondok Pesantren Al-Fataa dan rumah warga di Kampung Dukuhan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta (p<0.05)

Background: House dust mite (HDM) is the causal allergen of allergic diseases found in house dust. Soft furnishings such as mattress is a suitable habitat for TDR. Frequency of cleaning and number of occupants influence the HDM density. Islamic boarding schools and residential houses were a place that has a mattress with a variety of characteristics. Research on HDM density was still gained less concern in Indonesia, including Yogyakarta. Objective: To determine and compare the HDM density in Al-Fataa Islamic Boarding School and residential houses in Dukuhan village, Bantul, Yogyakarta. Methods: A cross sectional study by obtaining HDM sample from 1 m2 mattress surface for 1 minute. The density is calculated based on the number of HDM findings divided by dust suction area (m2) and dust weight (gram). Results: The density in Al-Fataa Islamic Boarding School is 7 mites/ m2 and 25.67 mites/gram of dust, while the density in residential houses in Dukuhan village is 18 mites/ m2 and 41.30 mites/gram of dust. There is a significant difference between the HDM density in Al-Fataa Islamic Boarding School and residential houses in Dukuhan village (p<0.05). Conclusion: There is a significant difference between the HDM density in Al-Fataa Islamic Boarding School and residential houses in Dukuhan village (p<0.05).

Kata Kunci : tungau debu rumah (TDR), kepadatan TDR per luas area (m2), kepadatan TDR per berat debu (gram), pondok pesantren, rumah warga.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.