Laporkan Masalah

KADER POSYANDU SEBAGAI AGEN PREVENSI PRIMER TERHADAP KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK (KSA)

ANISA FARIANI, Dr.Ira Paramastri

2015 | Tesis | S2 Psikologi

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menetapkan tahun 2013 sebagai tahun darurat kekerasan seksual pada anak (KSA) dengan jumlah kejadian terbanyak terjadi di lingkungan sosial anak. Upaya prevensi primer yang banyak dilakukan adalah program edukasi umum yang ditujukan untuk anak dilakukan di sekolah. Program ini dikritik karena hanya menempatkan tanggung jawab perlindungan pada anak dan jarang melibatkan keluarga, komunitas, dan lingkungan tempat tinggal anak. Maka diperlukan upaya pencegahan di lingkungan tempat tinggal anak. Di sisi lain, kader Posyandu memiliki akses untuk melakukan promosi kesehatan di wilayah kerjanya dan dapat menjadi agen pencegahan KSA dengan melibatkan komunitas untuk mencegah KSA sejak dini. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji pengaruh pelatihan pencegahan KSA terhadap peningkatan pengetahuan kader Posyandu dan menguji promosi kesehatan yang dilakukan kader posyandu melalui pemberian leaflet dan ceramah kepada masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan rancangan the one group pretest-posttest design dan untreated control group design with dependent pretest-posttest samples. Sebanyak 19 kader terlibat dalam penelitian. Instrument penelitian yang digunakan adalah kuesioner, observasi, dan wawancara. Anava amatan ulang dan anava campuran digunakan untuk menganalisis data kuantitatif, analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data dari hasil observasi dan wawancara. Analisis data kuantitatif dilakukan untuk menguji perbedaan pengetahuan kader sebelum-sesudah pelatihan dan menguji efek ceramah dan leaflet terhadap perubahan pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan pengetahuan kader yang signifikan sebelum dan sesudah pelatihan (F=20,245, P<0, 05). Ceramah dan leaflet dapat meningkatkan pengetahuan KSA (F=3,379, P<0,05). Leaflet lebih efektif (MD=-2,824; P<0,01) dibanding ceramah (MD=-2,355; P<0,01).

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) declared that the year 2013 as the year of emergency child sexual abuse (CSA), most of the cases of CSA occurred in social environment. The most frequent primary prevention program involved universal education for children in school. Yet, this program has been criticized since it places responsibility of the hands of children and only few targeted family, community, and neighborhood. Prevention program in the neighborhood of children are needed. In the other hand, Posyandu cadre has access to promote health and can be the agent of CSA prevention by involving community. This study aimed to examine the effect of CSA prevention training toward the knowledge and examine the effect of health promotion program using lecture and leaflet conducted by cadre applied in community. The method used was a quasi experimental study using the one group pretest- posttest design and untreated control group design with dependent pretest- posttest samples. There were 19 cadres involved in this study. Questionnaires on knowledge, observation, and interview were used in this study. Repeated measures anova and mixed anova were used to analyse the quantitative data, descriptive analyse was used to analyse data from observation and interview. Data analyse was used to identify differences of knowledge before-after CSA prevention training and to examine the effect of lecture and leaflet toward improvement of community knowledge. The results showed there was a significant difference in knowledge before and after training (F=20,245, P<0, 05). Lecture and leaflet was effective to increase knowledge about CSA (F=3,379, P<0,05). Leaflet was more effective to increase knowledge (MD=-2,824; P<0,01) than lecture (MD=-2,355; P<0,01).

Kata Kunci : Kekerasan seksual pada anak, kader posyandu sebagai agen pencegahan KSA, pengetahuan KSA, promosi kesehatan KSA