HUBUNGAN ANTARA KELUHAN PADA DAERAH KEPALA DAN LEHER DENGAN TITER IgA-EBV PADA ORANG SEHAT DI YOGYAKARTA
DIAN PUSPITA ISWAHYUNI, dr. Susanna Hilda H, Sp.PD, Ph.D ; Jajah Fachiroh, S.P, M.Si, Ph.D
2014 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERLATAR BELAKANG: Epstein-Barr Virus (EBV) berkaitan erat dengan patogenesis karsinoma nasofaring (KNF). Pasien KNF menunjukkan peningkatan titer IgA anti EBV-antibodi yang karakteristik dan menunjukkan reaktivitas virus pada mukosa nasofaring. Gejala awal KNF umumnya bersifat tidak khas di area kepala dan leher. Orang normal yang memiliki gejala menyerupai gejala awal KNF serta memiliki titer antibodi IgA yang karakteristik terhadap KNF disebut sebagai individu berisiko tinggi. TUJUAN: Mengetahui hubungan antara keluhan tidak khas pada area kepala dan leher pada populasi orang sehat di Yogyakarta dengan titer IgA-EBV. METODE: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Sebanyak 276 pendonor darah di PMI Kotamadya Yogyakarta dan Kabupaten Sleman diikutsertakan dalam penelitian ini dan diminta untuk mengisi kuesioner mengenai data demografi dan riwayat keluhan pada area kepala dan leher yang sering diderita. Cutoff value (CoV) yang digunakan adalah 0,350. Hubungan keluhan pada area kepala dan leher dengan kadar titer IgA-EBV dianalisis menggunakan regresi logistik, tanpa dan dengan adjustment terhadap faktor demografis (p kurang dari sama dengan 0,05). HASIL: Dari 276 subyek, sebanyak 57 orang (20,7%) memiliki titer IgA-EBV di atas CoV. Berdasarkan uji regresi logistik dengan adjustment pendidikan, rinitis (OR=0,958; 95%CI=0,435-2,111), hidung tersumbat (OR=1,004; 95%CI=0,543-1,854), epistaksis (OR=0,673; 95%CI=0,139-3,257), telinga berdenging (OR=0,957; 95%CI=0,510-1,795), rasa penuh di telinga (OR=0,625; 95%CI=0,259-1,509), pendengaran menurun unilateral (OR=0,938; 95%CI=0,416-2,112), nyeri kepala kronis (OR=1,443; 95%CI=0,619-3,363), diplopia (OR=0,978; 95%CI=0,376-2,539), dan nyeri pada wajah (OR=0,947; 95%CI=0,241-3,731) tidak berhubungan dengan tingginya titer IgA-EBV pada orang sehat di Yogyakarta. Keluhan lain pada area kepala dan leher (penyempitan saraf di leher, nyeri leher, kepala berat, kaku leher, migrain, dan vertigo) (OR=5,664; 95%CI=1,945-16,488) berhubungan dengan tingginya titer IgA-EBV pada orang sehat di Yogyakarta. KESIMPULAN: Dari semua keluhan di kepala dan leher pada orang sehat di Yogyakarta, hanya keluhan lain pada area kepala dan leher (penyempitan saraf di leher, nyeri leher, kepala berat, kaku leher, migrain, dan vertigo) yang berhubungan dengan tingginya titer IgA-EBV pada orang sehat di Yogyakarta. Secara umum, variabel tingkat pendidikan terakhir tidak mempengaruhi korelasi antara keluhan pada area kepala dan leher dengan titer IgA-EBV pada orang sehat di Yogyakarta.
BACKGROUND: Epstein-Barr Virus (EBV) is closely related to the pathogenesis of nasopharyngeal carcinoma (NPC). NPC patients showed a typical increase of anti EBV-IgA antibodies and viral reactivity in nasopharyngeal mucosa. Early symptoms of NPC are generally not typical in the area of the head and neck. Normal people who have early symptoms resembling the symptoms of NPC as well as having the typical IgA antibody titers against NPC referred as high-risk individuals. OBJECTIVE: To observe the association between the atypical complaints in the area of the head and neck in population of healthy people in Yogyakarta and IgA-EBV titres. METHOD: This study is cross-sectionally performed. Two hundred and seventy six donors at Blood bank of Yogyakarta and Sleman districts enrolled and filled the questionnaire on demographic data and history of frequent complaints in the area of head and neck. The complaints include chronic rhinitis, nasal congestion, epistaxis, tinnitus, ear fullness, unilateral hearing impairment, headache, diplopia, facial pain, as well as other complaints. Peripheral blood samples were taken to measure the levels of IgA-EBV titres using indirect ELISA method. The cut-off value (CoV) used is 0.350. The association between the complaints in the area of head and neck and IgA-EBV titres was analyzed using logistic regression, with and without adjustment of demographic factors (p less than equal to 0,05). RESULT: In total, 276 subjects were recruited and 57 subjects (20,7%) had titres IgA-EBV above the CoV. Based on assessment using logistic regression, rhinitis (OR=0,958; 95%CI=0,435-2,111), nasal congestion (OR=1,004; 95%CI=0,543-1,854), epistaxis (OR=0,673; 95%CI=0,139-3,257), tinnitus (OR=0,957; 95%CI=0,510-1,795), ear fullness (OR=0,625; 95%CI=0,259-1,509), unilateral hearing impairment (OR=0,938; 95%CI=0,416-2,112), chronic headache (OR=1,443; 95%CI=0,619-3,363), diplopia (OR=0,978; 95%CI=0,376-2,539), and facial numbness (OR=0,947; 95%CI=0,241-3,731) were not associated with the high level of IgA-EBV on healthy individuals in Yogyakarta. Other conditions in the area of the head and neck (nerve entrapment, neck pain, severe headache, neck stiffness, migraine, and vertigo) (OR=5,664; 95%CI=1,945-16,488) were associated with the high level of IgA-EBV on healthy individuals in Yogyakarta. CONCLUSION: Of all the complaints in the head and neck in healthy people in Yogyakarta, only other conditions in the area of the head and neck (nerve entrapment, neck pain, severe headache, neck stiffness, migraine, and vertigo) were associated with the high level of IgA-EBV in healthy people in Yogyakarta. In general, the educational level did not affect the association between complaints in the area of the head and neck with IgA-EBV in healthy people in Yogyakarta.
Kata Kunci : Barr Virus, Karsinoma nasofaring, keluhan kepala dan leher, individu sehat, IgA-EBV