Laporkan Masalah

Hubungan Antara Rasio ApoB : ApoAI Plasma Dengan Gagal Jantung Akut Saat Admisi Pada Pasien Sindroma Koroner Akut

ANDINILLAHI RASWATI, dr. Anggoro Budi Hartopo, M.Sc., Sp.PD., Ph.D; Dr. med. dr. Putrika Prastuti Ratna Gharini, Sp.JP

2014 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER

Latar belakang: Sindroma koroner akut (SKA) merupakan sindrom klinis yang mengancam jiwa dari penyakit jantung koroner (PJK). Gangguan kardiovaskuler ini bisa diprediksi dengan rasio apoB : apoAI dimana parameter ini adalah prediktor terkuat dibanding parameter lainnya. Gagal jantung akut merupakan salah satu komplikasi penyebab mortalitas terbanyak pada pasien ACS. Luasnya infark berkorelasi dengan derajat kegagalan pompa jantung. Namun hubungan antara rasio apoB : apoAI pada pasien ACS dengan dan tanpa gagal jantung akut belum sepenuhnya diketahui. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki apakah rasio apoB : apoAI plasma mempunyai hubungan dengan terjadinya gagal jantung akut saat admisi pada pasien dengan sindroma koroner akut. Metode: Dilakukan dengan metode potong lintang pada pasien sindroma koroner akut yang dirawat di ICCU RSUP Dr. Sardjito. Pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif. Diagnosis gagal jantung berdasar kriteria Killip. Penentuan kadar apoB dan apoAI dengan metode imunoturbidimetri. Hasil: Penelitian melibatkan 145 subjek yang dibagi menjadi dua kelompok, dengan dan tanpa gagal jantung akut. Rasio apoB : apoAI lebih tinggi pada kelompok dengan gagal jantung akut yaitu 1,10 +/- 0,39, dibanding rasio kelompok tanpa gagal jantung akut 0,92 +/- 0,33 (nilai p = 0,017). Simpulan: Rerata rasio apoB : apoAI pada penderita SKA lebih tinggi pada kelompok dengan gagal jantung akut dibanding kelompok tanpa gagal jantung akut.

Background: Acute coronary syndrome (ACS) is a life threatening clinical syndrome of coronary heart disease (CHD). Cardiovascular disorder can be predicted by apoB : apoAI ratio which this parameter was the strongest than the others. Acute heart failure (AHF) is now the primary complication that cause high mortality in ACS patient. The extent of infarction correlates well with the degree of pump failure. However, correlation between apoB : apoAI ratio in ACS patient with and without acute heart failure has not been fully understood. Objective: This study aims to investigate whether there is a correlation between apoB : apoAI ratio and acute heart failure in ACS. Method: This study used cross-sectional method on ACS patient admitted in ICCU Dr. Sardjito General Hospital. Consecutive sampling was conducted. The diagnosis of AHF based on Killip criteria. Determination of apoB and apoAI level by immunoturbidimetric assay. Result: The study involved 145 subject divided into two groups, ACS patients with AHF and without AHF. ApoB : apoAI ratio were higher in ACS patients with AHF (1,10 +/- 0,39), compared to ACS patients without AHF (0,92 +/- 0,33; p value= 0,017). Conclusion: ApoB : apoAI ratio were significantly higher in ACS patient with AHF than those without AHF.

Kata Kunci : rasio apoB : apoAI, sindroma koroner akut, gagal jantung akut, Killip


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.