Laporkan Masalah

POLA AKTIVITAS FISIK PADA WANITA DI PROVINSI JAWA BARAT (Analisis Data Riskesdas Tahun 2007)

YASMIN NOOR AFIFAH, Supriyati, S.Sos, M.Kes; dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes, Ph.D

2015 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER

Latar Belakang: Penyakit tidak menular (PTM) menyebabkan lebih dari 36 juta kematian per tahunnya. Faktor risiko perilaku yang sangat berkontribusi pada kejadian PTM diantaranya adalah kurangnya aktivitas fisik, perilaku merokok, pola makan tidak sehat, dan lemak yang berlebihan. Di Indonesia, prevalensi aktivitas fisik sangatlah rendah. Pada tahun 2008, 31 persen penduduk dewasa dunia memiliki kebiasaan aktivitas fisik yang rendah. Kebiasaan aktivitas fisik tersebut dipengaruhi oleh faktor internal (sosiodemografi) dan faktor eksternal (fasilitas dan dukungan sosial). Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola aktivitas fisik wanita usia reproduktif berdasarkan tempat tinggal (perkotaan dan perdesaan). Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang untuk mengetahui hubungan antara pola aktivitas fisik dengan klasifikasi tempat tinggal, usia, pendidikan, dan pekerjaan. Data penelitian adalah data sekunder yang berasal dari data Riskesdas Tahun 2007 di Provinsi Jawa Barat. Responden pada penelitian ini adalah wanita usia reproduktif (15-49 tahun) di Provinsi Jawa Barat. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95% dan analisis multivariate dengan menggunakan regresi logistik. Hasil Penelitian: Ada perbedaan bermakna angka kecukupan aktivitas fisik wanita berdasarkan tempat tinggal. Wanita di perdesaan lebih banyak yang memiliki aktiivtas fisik yang cukup (perdesaan, perkotaan; 87,1%, 78,5%). Wanita di perkotaan lebih banyak yang mengalami inaktivitas fisik dibandingkan wanita di perdesaan. Di perkotaan, wanita dengan usia 15-29 tahun dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi memiliki risiko paling tinggi untuk mengalami inaktivitas fisik. Di perdesaan dan di perkotaan, masyarakat lebih banyak melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang. Kesimpulan: Ada perbedaan bermakna pada pola aktivitas fisik bedasarkan tempat tinggal. Wanita yang tinggal di perkotaan memiliki peluang lebih besar untuk mengalami inaktivitas fisik (OR=1,86).

Background: Non-communicable diseases (NCD) caused more than 36 million deaths per year. Behavioral risk factors that greatly contribute to the incidence of NCDs among them are the lack of physical activity, smoking behavior, unhealthy diet, and excessive fat. The prevalence of physical activity is very low in Indonesia. In 2008, 31 percent of the adult population of the world has a habit of low physical activity. Physical activity is influenced by internal factors (socio-demographic) and external factors (facilities and social supports). Aims: This study aims to determine the physical activity patterns among women in reproductive age based on residence (urban and rural). Methods: A cross sectional design was used to associate the patterns of physical activity with residence, age, education, and occupation. The research data is secondary data derived from the data Riskesdas 2007 in West Java Province. Respondents in this study were reproductive age women (15-49 years old) who live in the province of West Java. Analysis was conducted using Chi Square test with a confidence level 95 % and multivariate analysis using logistic regression. Results: More women in rural areas meet the recommendation of physical activity (rural, urban; 87,1%, 78,5%). There are significant differences in the patterns of physical activity among women based on residence. Women in urban areas have higher risk for physical inactivity than women in rural areas. Women who live in urban areas, aged 15-29 years with a college education have the highest risk for experiencing physical inactivity. Those women who live in rural and urban tend to do physical activity with moderate intensity. Conclusion: There are significant differences in the patterns of physical activity among women based on residence. Women who live in urban areas have higher risk for having physical inactivity (OR = 1.86).

Kata Kunci : aktivitas fisik, perdesaan, perkotaan, wanita, Provinsi Jawa Barat

  1. S1-2015-320175-abstract.pdf  
  2. S1-2015-320175-bibliography.pdf  
  3. S1-2015-320175-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2015-320175-title.pdf