Laporkan Masalah

SELF-MEDICATION WITH ANTIBIOTICS AND OVER THE COUNTER DRUGS AMONG MEDICAL UNDERGRADUATE STUDENTS IN YOGYAKARTA, INDONESIA

SHARONJIT SANDHU, Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc.,Ph.D.; dr. Jarir At Thobari, Ph.D.

2015 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER

Latar Belakang : Penelitian telah menunjukkan prevalensi pengobatan sendiri di kalangan mahasiswa kedokteran di seluruh dunia . Namun, ada kurang bukti tentang hal ini di Yogyakarta , Indonesia . Tujuan : Untuk menentukan alasan dan tingkat pengobatan sendiri dengan antibiotik dan obat bebas di kalangan mahasiswa kedokteran di Yogyakarta , Indonesia . Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dilaksanakan dalam bentuk pra - divalidasi , kuesioner yang . Populasi penelitian terdiri dari 96 mahasiswa kedokteran sarjana dipilih menggunakan pendekatan systematic random sampling dan saat ini terdaftar dalam 1 tahun ke-4 di Fakultas Kedokteran di Universitas Gadjah Mada , Yogyakarta , Indonesia . Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan Uji Chi -square dan dan Uji Exact Fisher . A - nilai p < 0,05 dianggap signifikan untuk penelitian ini . Hasil : Dari 96 siswa , 49 % ( n = 47 ) yang ditemukan mengobati diri sendiri dengan jenis antibiotik dan obat bebas dalam masa 1 bulan . Dua dari para siswa sendiri obat dengan hanya obat bebas . Sebuah hubungan yang signifikan ditemukan antara memiliki asuransi kesehatan dan kecenderungan siswa untuk mengobati diri sendiri ( p = 0.034 ) serta pengetahuan tentang fungsi antibiotik dan tahun studi ( p < 0,05 ) .Families memainkan peran utama dalam memberikan kontribusi informasi kepada stuents ini pada obat yang mereka mengobati diri dengan ( 64 % ) . Apotek ditemukan menjadi sumber paling umum untuk memperoleh obat ini ( 70 % ) . Kondisi paling umum yang mengarah ke pengobatan sendiri adalah sakit kepala ( 79 % ) , sedangkan yang paling umum obat antibiotik dan obat bebas yang digunakan untuk pengobatan sendiri adalah Amoksisilin ( 62 % ) dan Parasetamol ( 94 % ) , masing-masing . Alasan utama untuk pengobatan sendiri termasuk convenince dan ketidakpuasan dengan pelayanan kesehatan . Dari siswa yang mengobati diri sendiri dengan antibiotik ( n = 45 ) , 40 % tidak berniat untuk menghentikan praktik ini di masa depan . Kesimpulan : Pengobatan sendiri adalah lazim di kalangan mahasiswa kedokteran di sini di Yogyakarta , Indonesia . Tindakan harus diambil untuk mendidik semua siswa tentang bahaya penggunaan narkoba tidak rasional . Ada kebutuhan mendesak untuk pemantauan ketat distribusi obat di sini di Yogyakarta , Indonesia .

Background: Studies have shown the prevalence of self-medication among medical students worldwide. However, there is lacking evidence on this in Yogyakarta, Indonesia. Objective: To determine the reasons and extent of self-medication with antibiotics and OTC drugs among medical undergraduate students in Yogyakarta, Indonesia. Method: This study employed a cross-sectional design implemented in the form of a pre-validated, self-administered questionnaire. The study population consisted of 96 undergraduate medical students selected using a systematic random sampling approach and currently enrolled in 1st to 4th year in the Faculty of Medicine in Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia. Data collected was analyzed using Chi-square Test and and Fisher's Exact Test. A p-value of <0.05 is considered significant for this study. Results: Out of 96 students, 49% (n=47) were found to self-medicate with antiobiotics and OTC drugs within the past 1 month. Two of those students self-medicated with only OTC drugs. A significant association was found between having health insurance and a student's tendency to self-medicate (p=0.034) as well as knowledge on antibiotic function and year of study (p<0.05).Families play major roles in contributing information to these students on the drugs that they self-medicate with (64%). Pharmacies are found to be the most common source of obtaining these drugs (70%). The most common condition leading to self-medication is headache (79%), while the most common antibiotic and OTC drug used for self-medication are Amoxicillin (62%) and Paracetamol (94%), respectively. Major reasons for self-medication include convenince and dissatisfaction with health services. From the students who self-medicate with antibiotics (n=45), 40% do not intend to stop this practice in future. Conclusion: Self-medication is prevalent among medical undergraduate students here in Yogyakarta, Indonesia. Actions should be taken to educate all students on the hazards of irrational drug use. There is a dire need for stringent monitoring of drug distribution here in Yogyakarta, Indonesia.

Kata Kunci : Self-Medication, Antibiotics, OTC, Drugs, Students, Undergraduate, University, Yogyakarta, Indonesia

  1. S1-2015-324363-abstract.pdf  
  2. S1-2015-324363-bibliography.pdf  
  3. S1-2015-324363-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2015-324363-title.pdf