TUNGGAL BAGENEN-BOTOLAN SEBAGAI KESADARAN TRANSENDENTAL PADA PEMBENTUKAN PERMUKIMAN DI PEGUNUNGAN DIENG
IR.HERI HERMANTO,MT, Prof.Ir.Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D.
2015 | Disertasi | S3 ILMU ARSITEKTURPermukiman di Pegunungan Dieng merupakan perwujudan dari budaya masyarakat Dieng. Pada skala mikro, bagenen yang terhubung oleh botolan merupakan elemen permukiman yang selalu terdapat di dalam rumah masyarakat Dieng. Bagenen-botolan menjadi wadah utama berlangsungnya aktivitas sosial, budaya, dan ekonomi. Ketika permukiman berkembang, masyarakat kemudian menggunakan latar ombo untuk aktivitas sosial, budaya, ekonomi dan olah raga yang tidak dapat dilakukan di bagenen-botolan. Di dalam satu desa terdapat lebih dari satu latar ombo, antara latar ombo yang satu dengan yang lainnya selalu terhubung oleh jalan latar dan jalan tritian. Fenomena tersebut menimbulkan dugaan, bahwa dalam skala desa latar ombo yang terhubung jalan latar dan jalan tritian menjadi semacam bagenen-botolan. Dugaan tersebut semakin diperkuat dengan keberadaan lapangan desa yang selalu terhubung oleh jalan terabasan. Pertanyaan penelitian yang kemudian diajukan adalah, 1) Konsep apakah yang mendasari pembentukan permukiman di Pegunungan Dieng, 2) Bagaimanakah wujud kesadaran empiris konsep tersebut pada permukiman di pegunungan Dieng, 3) Konsep apakah yang kemudian menjadi kesadaran transendental pada pembentukan permukiman di pegunungan Dieng. Hasil grandtour dan minitour menemukan 8 buah tema, yaitu, 1) Sistem kekerabatan sebagai pembentuk desa, 2) Bagenen sebagai ruang multifungsi, 3) Latar ombo sebagai bagenen dalam skala desa, 4) Lapangan sebagai ruang multifungsi dalam skala antar desa, 5) Bagenen yang terhubung botolan, 6) Latar ombo yang dihubungkan oleh jalan latar dan jalan tritian, 7) Mushola yang dihubungkan oleh jalan latar dan jalan tritian, 8) Lapangan yang dihubungkan oleh jalan terabasan dalam skala antar desa. Analisis induktif terhadap 8 buah tema berhasil menemukan tiga buah konsep yang mendasari terbentuknya permukiman di pegunungan Dieng, yaitu, 1) Konsep terhubung, 2) Konsep Nyepetno laku, dan 3) Konsep brayan. Ketiga konsep tersebut mengerucut pada konsep inti yang menjadi kesadaran trasendental yaitu, “Tunggal bagenen-botolanâ€. “Tunggal bagenen-botolan†sebagai dasar pembentuk permukiman di Pegunungan Dieng secara empiris terlihat pada semua skala ruang. Pengaturan tata letak elemen-elemen fisik permukiman di Pegunungan Dieng, selalu mengacu pada konsep tersebut. â€Tunggal bagenen-botolan†adalah kemenyatuan perasaan kebutuhan antara dua rumah atau lebih dalam satu bagenen-botolan. Kasadaran tersebut telah ada sebelum munculnya kesadaran empiris dalam bentuk bagenenbotolan. Teori tersebut merupakan sumbangan yang sangat berarti bagi ilmu pengetahuan arsitektur khususnya yang berkaitan dengan tatanan atau nilai-nilai yang membentuk permukiman Pegunungan. Kata Kunci : †Tunggal bagenen-botolanâ€, kesadaran transendental, pembentuk permukiman pegunungan
Settlements in mountain Dieng are a manifestation of the culture of community there. At the micro scale, bagenens, which are connected with botolans, are elements which are always available in a house of Dieng people. Bagenen-botolan is the main venue for social, cultural, and economy activities. When society develops, society then uses latar ombo to do social, cultural, economy, and sport activities which can not be done in bagenen-botolan any more. Every village has more than one latar ombo. Between one latar ombo and others are connected with latar and tritian streets. That phenomenon creates a notion that at village scale, latar ombo which are connected with latar and tritian street has function like bagenen-botolan. That notion is strengtened by the presence of field village which are always connected with terabasan street. The research question are as follows, 1) What are the concepts underlying the establishmen of settlements in mountain Dieng, 2) How are the manifestation of emperic awareness of the concept in the settlements in mountain Dieng, and 3) What concept do become transcendental consciousness in the establishment of settlements in mountain Dieng. Results of grandtour and minitour are eight themes, namely, 1) Kindship system as the system underlying the settlement of a village, 2) Bagenen as a multifunction place, 3) Latar ombo as bagenen at village scale, 4) Village field as a multifunction place, 5) Bagenen connected with botolan, 6) latar ombo connected with latar and tritian street, 7) small mosques connected to latar and tritian street, 8) Village field connected to terabasan at inter-village scale. Inductive analysis of the eight themes managed to find three concepts that underlay the formation of settlements in mountain Dieng; 1) The concept of terhubung, 2) The concept of nyepetke laku, and 3) The concept of brayan. These three concepts create the core concept which become the transcendental consciousness, that is, “tunggal bagenen-botolan †. “Tunggal bagenen-botolan†as the basic concept of settlement formation in Dieng mountain can be emperically seen in all kinds of sides. All elements of settlements in Dieng mountain are designed to refer to that concept. “Tunggal bagenen-botolan “ is the merging of feeling of the same need between two or more houses in one bagenen-botolan. This consciousness has existed before the emerge of emperic consciousness in form of bagenen-botolan. This theory is a meaningful contribution for architecture, especially related to designs or values establishing settlements in mountains. Key words: “Tunggal bagenen-botolanâ€, transcendental consciousness, establishement of mountain settlements.
Kata Kunci : Tunggal bagenen-botolan, kesadaran transendental, pembentuk permukiman pegunungan; Tunggal bagenen-botolan, transcendental consciousness, establishement of mountain settlements