Laporkan Masalah

Integrasi Sistem Informasi Geografis dan Citra Landsat 7 ETM+ dalam Pemetaan Potensi Endapan Volcanogenic Massive Sulfide di Pulau Wetar, Provinsi Maluku

GEORGE S. LAIMEHERIWA, Dr. Lucas Donny Setijadji, ST, MSc.

2015 | Tesis | S2 Teknik Geologi

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aplikasi SIG (Sistem Informasi Geografis) yang diintegrasikan dengan pengolahan citra Landsat ETM+ untuk mempelajari potensi keberadaan endapan mineral tipe VMS (Volcanogenic Massive Sulfide) dalam skala regional di Pulau Wetar, Provinsi Maluku. Secara umum penelitian dilakukan dalam empat tahap, diawali dengan pengumpulan dan pemasukan data yang akan digunakan sebagai variabel. Tahap selanjutnya adalah pengolahan citra Landsat ETM+ dan data spasial digital berupa peta geologi dan ASTER GDEM (Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer Global Digital Elevation Model), serta pembuatan model yang didasarkan pada perhitungan bobot asosiasi antara parameter-parameter geologi yang dihubungkan dengan keterdapatan deposit VMS, integrasi data, dan diakhiri dengan validasi hasil peta potensi dengan data deposit yang telah terklarifikasi di lapangan. Parameter batuan induk, batuan sumber panas serta struktur geologi dalam penelitian ini diperoleh dari pengolahan peta geologi skala 1 : 250.000 dan ekstraksi citra ASTER GDEM. Sedangkan indeks kerapatan vegetasi dan alterasi hidrotermal kelompok mineral oksida besi, lempung dan kuarsa diperoleh dari pengolahan citra Landsat ETM+. Dari hasil pengolahan diperoleh bahwa indikasi potensi endapan VMS berasosiasi dengan delapan variabel sebagai berikut yaitu: batuan induk dari Formasi Naumatang, Alor dan Tihu yang terdiri dari breksi, tuf, lava dasatik-basaltik serta breksi andesitik-basaltik, struktur geologi berupa sesar yang berarah baratlaut-tenggara sebagai struktur utama yang berkembang pada pre/syn-mineralization serta struktur berarah timurlaut-baratdaya dan barat-timur, alterasi hidrotermal dari kelompok oksida besi, lempung dan silisifikasi, sedangkan batuan intrusi granodiorit, diorit, dasit dan syenogranit sebagai batuan penghasil sumber panas. Analisa spasial dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) terhadap parameter-parameter geologi yang dipakai sebagai Deposit Recognition Criteria (DRC), menunjukkan bahwa matriks perhitungan dapat diterima dan dipertanggungjawabkan secara statistik, karena memiliki Rasio Konsistensi (CR) yang lebih kecil dari 0,1 pada kriteria utama maupun sub kriteria. Berdasarkan hasil analisa didapatkan 4 klasifikasi potensi endapan VMS yaitu sebagai berikut : klasifikasi sangat potensial yang mencakup luasan wilayah sebesar 668,83 km2 (25,08%), klasifikasi potensial yang mencakup luasan wilayah sebesar 663,57 km2 (24,88%), klasifikasi cukup potensial yang meliputi 645,49 km2 (24,20%) serta klasifikasi kurang potensial seluas 689,15 km2 (25,84%). Hasil verifikasi dengan deposit yang telah terindentifikasi menunjukkan bahwa tingkat akurasi secara akumulatif sebesar 83,33% untuk daerah dengan klasifikasi sangat potensial - potensial dan 16,67% untuk klasifikasi cukup potensial- kurang potensial. Kata kunci : Endapan VMS, SIG, Landsat ETM+, AHP, Pulau Wetar

This research investigates the application of GIS (Geographic Information System) and Landsat ETM+ image for predicting the occurrences of Volcanogenic Massive Sulfide (VMS) deposits in regional scale on Wetar Island, Maluku Province. Research is conducted into four stages, starts from data collection and entry which will be used as modeling variables, processing the Landsat ETM+ data and Aster GDEM, digital geology works, creating model which based at geological weighting criteria on VMS deposits, data integration and validation using the known deposits data. GIS spatial analysis is applied to quantify spatial relationship occurrences of VMS deposits and following geological criteria, such as host rock, heat source and structures which extracted from regional geology maps, lineaments are derived from Aster GDEM, vegetation cover and the presence of minerals alteration (limonite, clay and quartz) are derived from Landsat ETM+ processing. The VMS deposits in the area are associated with these variabels such as : andesitic-basaltic lavas and breccia from Naumatang, Alor and Tihu Formations, the northwest-southeast, northeast-southwest and west-east structures (lineaments), the limonitic, clay and quartz alteration type and the intrusive bodies as a heat source. Using the AHP for weighting the criteria shows that statistically the calculation matrix can be accepted because the Consistency Ratio (CR) below 0,1 for main and sub-criteria. Followed by using union function in spatial analysis, it produces four (4) potential classes to classify, which are : highly potential area which consist 668,83 km2 (25,08%), potential area which consists 663,57 km2 (24,88%), moderate which consists 645,49 km2 (24,20%) and low potential which consists 689,15 km2 (25,84%) from the total area. This results have been verified using the known VMS deposits, it shows that the 83.33% cumulatively are classified in highly potential-potential area and 16,67% are classified in moderate to low potential area. Key words: VMS deposits, GIS, Landsat ETM+, AHP, Wetar Island

Kata Kunci : Endapan VMS, SIG, Landsat ETM+, AHP, Pulau Wetar; VMS deposits, GIS, Landsat ETM+, AHP, Wetar Island


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.