Potensi Upacara Adat Ceprotan Sebagai Wisata Minat Khusus Di Kabupaten Pacitan
AGUNG BARATA CANNIGIA, Pitaya, S.E.T., M.sc.
2015 | Tugas Akhir | D3 KEPARIWISATAANUpacara Adat Ceprotan Awal upacara adat ini dimaksudkan untuk memperingati pendahulu Dewi Sekartaji Desa Sekar dan Flag Asmorobangun melalui desa bersih. Upacara ini diyakini untuk menjaga desa dari wabah dan memfasilitasi kegiatan pertanian adalah mata pencaharian utama bagi sebagian besar penduduk. dengan kepercayaan penduduk desa Sekar, Godeng Ki adalah yang pertama untuk membuka daerah yang semula hutan. Ki Godeng adalah nama lain untuk Flag Asmorobangun, seseorang yang mandraguna keajaiban Kediri. Karena kegigihan dan keahlian dari Godeg Ki, yang semula merupakan wilayah padang gurun berhasil dikonversi menjadi lahan pertanian. Suatu kali, ia bertemu dengan dua perempuan yang bepergian. Kedua perempuan ini sebenarnya inkarnasi dari Dewi Dewi Dewi Sukonadi dan Sekartaji. Mereka beristirahat di wilayah yang telah dibabad Ki Godeng. Salah satu dewi Dewi Sekartaji merasa haus. Karena merasa kasihan, Ki Godeg ditawarkan untuk menemukan minuman untuk dewi. Dewi Sekartaji kemudian meminta air kelapa muda untuk mengobati rasa haus. Sayangnya, di wilayah tersebut tidak ada pohon-pohon palem sama sekali. Tetapi demi permintaan Dewi Sekartaji mememenuhi, Ki Godeg jangan matekaji atau menggunakan pengetahuan mereka untuk masuk ke tanah untuk kelapa muda di tempat yang cukup jauh. Tempat dimana Ki Godeg ke tanah berubah menjadi sumber air, dan kemudian menempatkan dia keluar dari tanah itu juga mata air yang berada di area Wirati, Kabupaten Kalak. Musim semi ini disebut Kedong Timo. Setelah ia menemukan pohon palem, Ki Godeg memanjat dan mengambil telapak tangannya, lalu kembali lagi ke tempat yang sama di mana Dewi Sekartaji menunggunya. Di mana ia keluar dari tanah juga menjadi musim semi lagi. Dewi Sekartaji segera haus untuk minum air dari kelapa muda, yang dilakukan oleh Ki Godeg. Sisa air kelapa muda tidak diminum oleh Dewi Sekartaji gudang di mana dewi berdiri. Air kelapa menyentuh tanah sekaligus sumber air yang sampai sekarang dikenal sebagai Sumber Sekar. Dewi Sekartaji kemudian membahas Ki Godeg, jika nantinya situs ke sebuah desa pemukiman dinamakan Sekar. Untuk pemuda yang ingin ngalap berkah untuk mencari makanan dan pakaian, ia dikirim menggunakan Cengkir yang dalam bahasa Indonesia adalah kelapa muda. Hari acara adalah Senin PON di Longkang atau Dzulqaidah. Kelapa muda digunakan sebagai alat utama dalam upacara ini yang dimaksud dengan Dewi Sekartaji Cengkir dalam legenda di atas. Cengkir makna simbolis ini terletak pada perpanjangan Java Cengkir menurut pemikiran bell-Cenge. Dengan demikian, mengacu pada Dewi Sekartaji pesan bahwa untuk pemuda yang ingin ngalap berkah untuk mencari makanan dan pakaian, ia mengirim menggunakan Cengkir atau molasses-Cenge pikir itu berarti mengandalkan kecerdasan atau otak. Kemudian kelapa lempar, berarti saling membantu dalam mencari rezeki dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ayam panggang utuh (ingkung) yang berada di tengah-tengah upacara arena melambangkan keberuntungan berada di coba atau dicari oleh para pemuda.
Ceprotan Ceremony Beginning of this traditional ceremony is meant to commemorate the predecessor to the Goddess Sekartaji Village Sekar and Flag Asmorobangun through the village clean. The ceremony is believed to keep the village from the plague and facilitate agricultural activities are the main livelihood for most residents. to the villagers trust Sekar, Godeng Ki is the first to open up the area which was originally a jungle. Ki Godeng is another name for Flag Asmorobangun, someone who mandraguna magic of Kediri. Due to the tenacity and expertise of the Godeg Ki, which was originally a region of wilderness successfully converted into agricultural land. One time, he met with two women who were traveling. Both of these women are actually the incarnation of goddess Dewi Dewi Sukonadi and Sekartaji. They rested in a region that has dibabad Ki Godeng. One of the goddess Dewi Sekartaji feel thirsty. Feeling sorry, Ki Godeg offered to find a drink for the goddess. Goddess Sekartaji then asked the young coconut water to treat thirst. Unfortunately, in the region there are no palm trees at all. But for the sake of the Goddess Sekartaji mememenuhi demand, Ki Godeg do matekaji or use their knowledge to get into the ground for the young coconut in place far enough. Places where Ki Godeg into the ground turned into a water source, and then place him out of the land was also a spring that is in the area Wirati, District of Kalak. The spring is called Kedong Timo. Once he found a palm tree, Ki Godeg climb and took his palm, then back again to the same place where the Goddess Sekartaji waiting for him. Where he came out of the ground as well be spring again. Goddess Sekartaji immediately thirsty to drink water from a young coconut, performed by Ki Godeg. The rest of the young coconut water is not drunk by Goddess Sekartaji shed where the goddess stood. Coconut water is touching the ground at once a source of water that until now known as Source Sekar. Goddess Sekartaji then addresses the Ki Godeg, if later the site to a residential village so named Sekar. For youth who want ngalap blessing to seek food and clothing, he sent using Cengkir which in Indonesian is a young coconut. Day of the event are Monday POND in Longkang or Dzulqaidah. Young coconut is used as the main tool in this ceremony is meant by Goddess Cengkir Sekartaji in the legend above. Cengkir symbolic meaning of this lies in the extension of the Java Cengkir according to the bell-cenge thought. Thus, referring to the Goddess of the message Sekartaji that for youth who want ngalap blessing to seek food and clothing, he sent using Cengkir or molasses-cenge think it means relying on the intellect or the brain. Then the coconut throwing events, implies mutual help in finding sustenance in meeting the needs of his life. Grilled chicken whole (ingkung) situated in the middle of the arena ceremony symbolizes good fortune to be in the try or sought by the youths.
Kata Kunci : Upacara Adat ceprotan,wisata minat khusus,potensi