Laporkan Masalah

KESETARAAN GENDER DI TNI-AD (STUDI KESETARAAN GENDER KOMANDO WANITA ANGKATAN DARAT SUB KOOR YOGYAKARTA KOREM 072/PAMUNGKAS)

DWI RENDY BRAHMANU, Drs. Djoko Suseno, SU

2015 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Institusi militer dipandang sebagai area dominasi laki-laki. Hal tersebut didukung dengan anggapan bahwa laki-laki memiliki mental, stamina, kekuatan dan naluri pertempuran yang lebih unggul dibandingkan dengan kaum perempuan. Keberadaan Kowad di tengah-tengah kebudayaan machoistik menjadikan hal tersebut sebagai sebuah anomali, karena umumnya personel militer adalah laki-laki.. Korem 072/Pamungkas sebagai salah satu komando kewilayahan di Propinsi DIY dan sebagian Jawa Tengah merupakan salah satu wujud resepresentasi TNI AD. Resepresentasi tersebut ditunjukkan secara kegiatan serta kebijakan, termasuk di dalamnya yang bersangkutan dengan personel Kowad. Dengan mencermati Korem 072/Pamungkas sebagai resepresentasi TNI AD, dilaksanakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana institusi militer, dalam hal ini Korem 072/Pamungkas memandang kesetaraan gender di institusinya, serta bagaimana kesetaraan gender yang diterima oleh personel Kowad yang ada. Kowad yang pada awalnya didirikan untuk memenuhi kesatuan non tempur, secara perlahan berubah mengikuti perkembangan zaman. Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dilaksanakan di institusi Korem 072/Pamungkas dan satuan dibawahnya serta detasemen pendukungnya, dengan penggunaan pendekatan feminisme, serta penggunaan teknik analisa data kualitatif melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Informan utama diambil dari Kowad Sub Koor Yogyakarta ditambah dengan institusi Korem 072/Pamungkas dan BPPM DIY dengan menggunakan metode pengambilan data terpilih (purposive sampling) Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan fakta bahwa Kowad Sub Koor Yogyakarta mengalami ketimpangan gender yang telah berlangsung lama sejak berdirinya. Namun, ketimpangan yang terjadi tersebut dirasakan sebagai sebuah hal yang wajar dan lumrah. Korem 072/Pamungkas menyatakan bahwa pembedaan yang dilaksanakan bagi prajurit laki-laki dengan prajurit wanita sudah sejalan kodrat harkat wanita Indonesia Keraguan akan stamina fisik dan mental naluri pertempuran menjadi alasan utama perbedaan penugasan dan jabatan di beberapa bidang. Di sisi laian Kowad Sub Koor Yogyakarta menganggap bahwa sekarang ini perbedaan penugasan antara prajurit laki-laki dengan prajurit wanita sudah mulai kabur, meskipun hingga kini posisi Kowad di kesatuan tempur masih terbatas dan belum ada personel kowad yang menduduki posisi jabatan strategis.

Military institution is seen as a male-dominated area. This is supported by the assumption that men have a mental, stamina, strength and fighting instincts superior to women. Kowad existence in the midst of masculinity culture making it as an anomaly, because generally most military personnel are male Korem 072 / Pamungkas as one of the regional military commands in Yogyakarta Province and part of Central Java is one of the representation of Indonesian National Army. The representation is shown in the activities and policies, including those which concerned with Kowad personnels. By looking at Korem 072 / Pamungkas as the representation of Indonesian National Army, this conducted research aimed to find out how the military institution, in this case Korem 072 / Pamungkas looked at gender equality in the institution, as well as how gender equality received by Kowad personnel. Kowad which was originally established to meet the non-combat unity, is slowly changing by the times. This research uses descriptive qualitative method implemented in Korem 072 / Pamungkas, the units below and detachment supporters with the use of the approach of feminism. This researches also uses qualitative data analysis techniques through observation, interviews, and literature. The key informants were taken from Yogyakarta Sub Choir Kowad coupled with institutional Korem 072 / Pamungkas and DIY BPPM using data retrieval methods chosen (purposive sampling). Based on the results of this study, it is found that Yogyakarta Sub Choir Kowad experienced a gender inequality that has lasted a long time since its establishment. However, inequality is perceived as a natural and normal. Korem 072 / Pamungkas stated that the distinction performed between male soldiers and female soldiers are corresponding with the nature of Indonesian women's dignity. The doubts of the different physical stamina and mental instincts battle between male and female soldier was the main reason there are differences in assignments given and positions in several fields. On the other hand, the Yogyakarta Sub choir Kowad assume that this current assignment difference between male soldiers with female soldiers have started to blur, although up to now Kowad position in the array is limited and there is no kowad personnel who occupy strategic positions.

Kata Kunci : gender, kesetaraan gender, ketimpangan gender, Kowad, militer, TNI AD