Burung Mangrove di Fragmen Hutan Mangrove Pantai Utara Semarang, Jawa Tengah: Kemelimpahan, Keragaman Spesies, dan Penggunaan Habitat
LIA TRI HARDIYANTI, Siti Nurleily Marliana, Ph.D
2015 | Skripsi | S1 BIOLOGISaat ini hutan mangrove di Indonesia telah banyak mengalami degradasi akibat pemanfaatannya sebagai lahan pertambakan, perkebunan, tempat pembuatan garam, pelabuhan, dan jenis konversi lahan lainnya. Permasalahan ini juga terjadi di daerah Mankangwetan dan Mangunharjo. Perubahan kondisi ini tentu juga mempengaruhi komunitas burung mangrove yang memanfaatkan daerah pesisir sebagai habitat bersarang dan atau tempat mencari makan. Penting untuk dipelajari pemanfaatan ekosistem mangrove oleh burung-burung mangrove. Metode yang digunakan untuk koleksi data komunitas burung adalah point count distance sampling method. Pengambilan data dilakukan pada empat stasiun, dengan lima titik sampling pada masing-masing stasiun. Analisis data menggunakan software Distance 6.2 Release 1. Seleksi model dilakukan menggunakan CDS dengan menggunakan lima model yang berbeda. Pemilihan model yang terbaik didasarkan atas beberapa kriteria, yaitu nilai AIC atau AICc, hasil uji kecocokan GOF dan koefisien variasi. Hasil penelitian dijumpai 16 spesies burung mangrove dan hasil estimasi densitas populasi burung tinggi di stasiun 4, hal dipengaruhi oleh kondisi tegakan dan kerapatan mangrove, serta substrat. Kondisi ini menyebabkan stasiun 4 dijadikan area bersarang utama bagi sebagian jenis burung. Stasiun lainnya digunakan sebagai area mencari makan.
Indonesia has suffered from heavy mangrove forest degradation as the result of land conversion for agriculture, aquaculture, salt production, and other types of land use. One such part of Indonesia is the region of Mankangwetan and Mangunharjo in Semarang District, Central Java. Changes to this region's mangrove ecosystem may have a detrimental effect on its bird communities, which use the mangrove coastal areas for nesting or feeding. Investigating the abundance of mangrove bird populations and how they use mangrove ecosystems are therefore critical to understanding the impact of the human-caused environmental changes in Mankangwetan and Mangunharjo. Bird community data were collected using the point count distance sampling method. Data were collected at four stations, with five sampling points at each station. Data analysis was conducted using the software Distance 6.2 Release 1. The best models were selected based on several criteria, namely the smallest value of AIC or AICC, significant goodness-of-fit test results, and the values of coefficient of variation. Sixteen mangrove bird species were found from the entire stations, with the highest total bird density estimate was found in the fourth station, whose mangrove stand had the most intact condition and most dense canopy cover, allowing it to serve as a major nesting area for many species of birds. The other stations might serve only as a feeding area.
Kata Kunci : pemanfaatan habitat, ekosistem mangrove, burung mangrove.