Laporkan Masalah

PARADOKSALITAS PEMOSISIAN PEREMPUAN ANTARA RANAH PUBLIK DAN DOMESTIK DALAM NOVEL-NOVEL SUPARTO BRATA: SER! RANDHA COCAK, DAN NONA SEKRETARIS

FRISKY ILMA NAFIANA, Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA.

2015 | Tesis | S2 Ilmu Sastra

Perempuan dalam kultur masyarakat Jawa diharapkan untuk berada di ranah domestik sebagai bentuk kesadaran perempuan, bahwa perempuan menjalani kehidupan domestik, sedangkan laki-laki menjalani kehidupan publik. Akan tetapi, perempuan menyadari kemampuannya untuk setara dengan laki-laki dan mampu berada di ranah publik. Gambaran mengenai pergerakan perempuan Jawa untuk keluar dari ranah domestik ini diangkat oleh Suparto Brata dalam karya-karyanya yang berjudul Ser! Randha Cocak dan Nona Sekretaris. Pergerakan perempuan Jawa dalam novel-novel ini menarik untuk diteliti lebih lanjut karena secara paradoks perempuan diseret kembali ke ranah domestik. Pemosisian perempuan antara ranah publik atau domestik dalam novel-novel tersebut berhubungan dengan kultur masyarakat Jawa di dalamnya. Posisi perempuan tidak sepenuhnya berada dalam ranah publik. Paradoksalitas pemosisian perempuan antara ranah publik-domestik akan diteliti menggunakan teori feminine mystique milik Betty Friedan. Teori feminine mystique menjelaskan pola-pola yang digunakan lakilaki secara terselubung untuk menarik mundur perempuan yang telah sukses berada di ranah publik. Metode penelitian terbagi menjadi tiga, yakni pengumpulan dan seleksi data, klasifikasi data, serta analisis data. Suparto Brata melalui karya-karyanya tersebut sedang melakukan pembentukan ulang mengenai konsep pemosisian perempuan, khususnya perempuan Jawa modern. Perempuan modern yang berada di ranah publik akan dianggap mengalami krisis identitas sehingga harus kembali ke ranah domestik. Selubung citra perempuan ideal merupakan strategi untuk membuat perempuan menyadari keuntungannya menjalani peran dan posisinya di ranah domestik. Perempuan diletakkan pada posisi yang diharapkan oleh kultur masyarakat Jawa dengan tujuan agar tidak membuat ruang bagi perempuan dan laki-laki menjadi tumpang tindih.

In Javanese society and culture, women are expected to stay in the domestic sphere, and to be aware that women must live domestic lives, whereas men live public lives. However, women recognize their ability to be equal to men and to exist in the public sphere. An understanding of Javanese women‟s attempts to leave the domestic sphere is presented by Suparto Brata in his novels Ser! Randha Cocak and Nona Sekretaris. The actions of Javanese women in these novels is interesting to be studied because, paradoxically, women are forced back into the domestic sphere. The positioning of women between the public and domestic spheres in these novels is related to the Javanese culture presented in them. Women cannot act solely in the public sphere. This paradoxality in the positioning of women between the public and domestic spheres will be analyzed using the feminine mystique theory which was first presented by Betty Friedan. This theory explores different things secretly used by men in order to restrain women who have found success in the public sphere. Three steps have been used in this research project: the collection and selection of data, the classification of data, and the analysis of data. Through these works, Suparto Brata is attempting to reform how women – particularly modern Javanese women – are positioned. Modern women who become active in the public sphere are said to undergo an identity crisis, such that they must return to the domestic sphere. An ideal woman is furtively presented through the author‟s strategy of making his female characters realize how beneficial it is for them to fulfill their domestic roles and stay in the domestic sphere. Women are positioned in a manner which is in accordance with the expectations of Javanese society, so that women and men must not compete against each other.

Kata Kunci : paradoksalitas, ranah publik-domestik, feminine mystique, krisis identitas, perempuan idea


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.