Pemberdayaan Masyarakat desa :: Studi kasus Peran Pemerintah dalam pemberdayaan pengrajin gerabah di desa Penujak Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah Propinsi Nusa Tenggara Barat
SATAR, Lalu Hayat A, Prof.Dr. Mohtar Mas'oed
2002 | Tesis | Magister Administrasi PublikBerbagai upaya dan program pemberdayaan telah diluncurkan, baik oleh pemerintah maupun swasta untuk memberdayakan pengrajin agar bisa keluar dari masalah kesulitan hidup yang melilitnya. Pembadayaan pengrajin melalui program Diklat, pemagangan dan bantuan modal usaha misalnya, belum mengasilkan manfaat yang optimal bagi peningkatan kesejahteraan hidup pengrajin. Ironisnya lagi bahwa program-program yang telah diluncurkan tersebut manfaatnya lebih banyak dirasakan oleh pengusaha gerabah atau pemilik modal yang memodali pengrajin dalam berusaha. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus, sehingga dalam pelaksanaannya tidak menguji suatu teori ataupun hipotesis tertentu, melainkan hanya mempelajari hubungan antara katagori yang menjadi fokus penelitian ini. Penelitian ini menemukan bahwa salah satu hal yang mendasar yang menyebabkan pengrajin belum bisa keluar dari lilitan kesulitan ekonomi ( kemiskinan ) adalah terbatasnya kemampuan mereka dalam mengakses pasar secara langsung, baik pada tingkat pasar domestik maupun pasar global. Keterbatasan ini, selain dipicu oleh Sumber Daya manusia Pengrajin yang masih lemah dalam membangun relasi dan hubungan dengan dunia diluar lingkungannya, juga karena ketiadaan modal ( finansial ) yang menunjang dan mendukung upaya dimaksud. Kondisi ini tidak disia-siakan dan dimanfaatkan dengan maksimal oleh pengusaha gerabah untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Termasuk dalam menetapkan harga secara sepihak. Dengan demikian pengrajin tidak memiliki “bargaining position†yang kuat dan signifikan atas pelaku pasar gerabah. Berdasarkan temuan diatas, dipandang perlu bagi semua pihak terutama pemerintah dan lembaga pemberdaya lainnya serta pengusaha gerabah untuk memperkuat komitmennya dalam berperan untuk memberdayakan pengrajin gerabah dan mengentaskan mereka dari keminskinan. Dengan adanya komitmen yang kuat, diharapkan tercipta komunikasi dan kerjasama serta koordinasi yang sinergis dan produktif dalam rangka pembinaannya, dengan tetap memperhatikan dimensi pemberdayaan, guna menunjang upaya pengentasan kemiskinan pengrajin secara komprehensif dan berkesinambungan. Selain itu perIu juga dipikirkan untuk mendirikan pusat informasi pasar gerabah yang bisa langsung diakses oleh pengrajin. Dengan adanya lembaga ini, pengrajin bisa mengetahui secara pasti fluktuasi harga gerabah di pasar, dan tidak mudah lagi bagi pengusaha untuk memainkan harga pada tingkat pengrajin.
There are many efforts and empowerment programs have been launched, whether by government or private institutions to empower craftsman in order to be able to remove from poverty. Empowerment of craftsmen through education and training, apprenticeship, and business capital aid, for instance, have not given optimum benefit for increasing the welfare of craftsmen. It is ironic that the programs that were launched were more useful for craft entrepreneur or capital owners who finance craftsmen in doing their activities. The type of this research is descriptive qualitative using case study, so that in its implementation, it does not examine any certain theory or hypothesis, but it only studies the relationship between categories that are becoming the focus of this research. This research found that one very basic things that causes craftsmen have not gone out from problem of poverty and economic difficulty was their capability limitedness in accessing domestic and global market directly. This limitedness is not only caused by the weakness of craftsmen in establishing relationship with their circumstance and sphere, but also because there isn’t enough capital to build such a wide relationship. This condition was very advantageous and optimally beneficial for craft entrepreneur to get a large amount of profit, especially in determining price unilaterally. Because of this, the craftsmen do not have strong and significant bargaining position in craft market. Based on the above findings, it is necessary for all, especially government and other empowerment institutions and craft entrepreneur themselves to strengthen their commitment in their role to empower craftsmen and alleviate them from their poverty. By the existence of strong commitment, it is hoped that they can create energetic communication, cooperation and coordination in holding development and pay a lot of attention in the dimension of empowerment to support the effort of alleviating craftsmen’s poverty comprehensively and sustainable. Besides that, it is important to think of establishing craft market information board that can be directly accessed by craftsman. By the existence of this board, craftsman will be able to know craft price fluctuation in the craft market, and it is not easy anymore for craft entrepreneur to play the price in the craftsman level.
Kata Kunci : Pemberdayaan Masyarakat,Peran Pemerintah