Gambaran Pengalaman Remaja Putri Tunanetra dalam Menghadapi Menstruasi di Asrama Yaketunis Yogyakarta
ENDAH SARI HERNINGSIH, Ibrahim Rahmat, S.Kp., S.Pd., M.Kes; Elsi Dwi Hapsari, S.Kp., M.S., D.S
2014 | Skripsi | S1 ILMU KEPERAWATANGAMBARAN PENGALAMAN REMAJA PUTRI TUNANETRA DALAM MENGHADAPI MENSTRUASI DI ASRAMA YAKETUNIS YOGYAKARTA Endah Sari Herningsih1, Ibrahim Rahmat2, Elsi Dwi Hapsari3 INTISARI Latar Belakang : Menstruasi merupakan peristiwa yang menandakan peralihan masa anak-anak ke masa remaja, terjadi pada remaja putri normal maupun remaja putri tunanetra. Bagi remaja putri tunanetra, menstruasi mengakibatkan masalah yang berbeda terkait dengan kebersihan diri dan adanya ketergantungan pada orang lain. Sampai saat ini, bahasan terkait pengalaman remaja putri tunanetra dalam menghadapi menstruasi masih sangat terbatas. Tujuan : Untuk mengetahui gambaran pengalaman remaja putri tunanetra dalam menghadapi menstruasi di Asrama Yaketunis Yogyakarta. Metode : Penelitian dengan rancangan kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Partisipan penelitian adalah 5 remaja putri tunanetra tipe total blind dan low vision yang tinggal di Asrama Yaketunis Yogyakarta. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam secara langsung kepada partisipan dengan pedoman interview semi-struktur. Analisis data menggunakan metode analisis Collaizi. Hasil : Usia remaja saat ini, rata-rata usia menarche, tingkat pendidikan, suku, tipe tunanetra, serta rentang lama tinggal di asrama merupakan karakteristik partisipan dalam penelitian ini. Penelitian ini dijabarkan dalam 6 tema, yaitu menstruasi sebagai tanda kedewasaan dan berfungsinya organ reproduksi, ambivalensi saat menarche, peran penting ibu dan teman pada saat menarche, variasi cara-cara perawatan diri pada saat menstruasi, konsekuensi menstruasi terhadap hubungan dengan pergaulan dan agama/ kepercayaan, serta ketergantungan dengan orang lain berhubungan dengan kurang adekuatnya perawatan diri. Kesimpulan : Pengalaman remaja putri tunanetra dalam menghadapi menstruasi hampir sama dengan pengalaman remaja putri normal pada umumnya kecuali praktik kebersihan menstruasi yang kurang, ketergantungan pada orang lain dalam hal deteksi kebersihan diri, serta penggunaan indera penciuman untuk menandai datangnya menstruasi. Peran orang tua, guru, teman, serta petugas kesehatan sangat penting dalam hal memberikan pendidikan kesehatan yang benar terkait menstruasi.
OVERVIEW OF THE EXPERIENCE OF BLIND ADOLESCENT GIRLS IN UNDERGOING MENSTRUATION AT YAKETUNIS DORMITORY YOGYAKARTA GAMBARAN PENGALAMAN REMAJA PUTRI TUNANETRA DALAM MENGHADAPI MENSTRUASI DI ASRAMA YAKETUNIS YOGYAKARTA Endah Sari Herningsih1, Ibrahim Rahmat2, Elsi Dwi Hapsari3 ABSTRACT Background: Menstruation is an event indicating the transition from childhood to adolescence, both they are with normal vision or those who are blind. For blind adolescent girls, menstruation brings a problem in terms of personal hygiene and dependence to others. Until today, studies on the experience of blind adolescent girls in undergoing menstruation are still very limited. Objective: To get an overview of the experience of blind adolescent girls in undergoing menstruation at Yaketunis Dormitory Yogyakarta. Method: The study used qualitative design and phenomenological approach. Participants consisted of five blind adolescent girls of total blind and low vision type living at Yaketunis Dormitory Yogyakarta. Data were obtained through direct in-depth interview with the participants using semi-structured interview guidelines. Data analysis used Collaizi analysis method. Result: Current age, mean of the age of menarche, level of education, ethnic group, type of blindness, and the duration of living at the dormitory were charateristics of the participants in the study. The study was divided into six themes, i.e. menstruation as an indicator of maturity and the functioning of reproductive organs, ambivalence during menarche, important role of mothers and peers during menarche, variation of methods of self-care during menstruation, consequence of menstruation to relationship with the association and religion/belief, and dependence to others related to inadequacy of self-care. Conclusion: The experience of blind adolescent girls in facing menstruation was similar with the experience of normal adolescent girls in general, except in the practice of menstrual hygiene which was poor, dependence to others in aspect of detection of self-hygiene, and use of sense of smell to detect the onset of menstruation. Role of parents, teachers, peers, and health provider was very important in giving appropriate health education related to menstruation.
Kata Kunci : remaja, menstruasi, tunanetra