Laporkan Masalah

NILAI KALOR KAYU Acaccia decurrens Willd DAN SIFAT YANG MEMPENGARUHINYA PADA BEBERAPA SEBARAN

MOHAMAD ANIS FAUZI, Prof. Dr. Ir. M. Na'iem, M.Agr.Sc.

2015 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kalor kayu Acaccia decurrens dan sifat-sifat yang mempengaruhinya. Sampel kayu diambil dari 5 lokasi sebaran alam yaitu Gunung Merapi, Merbabu, Lawu, Ciremai dan Bromo. Contoh kayu yang diuji pada tiap lokasi diambil dari 6 pohon yaitu 2 pohon Ø kecil, 2 pohon Ø sedang dan 2 pohon Ø besar. Tiap-tiap pohon diambil kayunya pada 5 bagian kayu P (Pangkal), T (Tengah), U (Ujung), C (cabang) dan R (ranting). Pada bagian kayu P (pangkal) dan T (tengah) sampel kayu diambil dalam bentuk cakram kayu dengan ketebalan 2-3 cm dan dianalisa pada 3 posisi kayunya yaitu A (dekat empulur), T (perbatasan kayu teras – kayu gubal) dan P (kayu gubal). Hasil analisis nilai kalor menunjukkan bahwa rerata kalor dari tertinggi ke terendah adalah Gunung Lawu (3452,04 kal/g), Bromo (3266,14 kal/g), Merapi (3172,86 kal/g), Ciremai (3155,72 kal/g) dan Merbabu (2947,56 kal/g). Nilai kalor Acaccia decurrens dipengaruhi oleh berat jenis, kadar air, kadar abu dan kadar lignin dalam kayu. Hasil analisis varian menunjukkan bahwa lokasi dan posisi kayu menunjukkan perbedaan nyata, sedangkan bagian kayu tidak berbeda nyata. Korelasi kandungan lignin dan kadar abu dengan kalor yang dihasilkan menunjukkan korelasi yang kuat dengan nilai koefisien korelasi yaitu R= 0,96 dan R= -0,95. Sedangkan untuk korelasi sifat berat jenis R= 0,11 dan kadar air R = -0,23.Dari hasil analisa kalor pada lima bagian kayu (P,T,U,C dan R) menunjukkan tidak terdapat beda nyata atas nilai kalor kayu yang dihasilkan. Untuk itu penggunaan kayu Acaccia decurrens sebagai kayu bakar di masyarakat dataran tinggi dapat dimanfaatkan dengan cara cukup mengambil dari cabang atau rantingnya saja tanpa memotong batang utama pohon.

The research conducted to investigate calorific value and wood properties that influenced on Acaccia decurrens wood. Wood samples were taken from five natural distribution, Merapi, Merbabu, Lawu, Ciremai and Bromo. Samples from each location were six trees divided into small diameter (2 trees), medium diameter (2 trees) dan big diameter (2 trees). On each tree wood taken from P (Bottom, 50 cm from ground), T (middle of tree;1/2 from total tree height), U (top of the tree,50 cm from tip of the tree), C (branch) and R ( small branch). Wood disk sampled from P (Bottom) and T (middle) with 2-3 cm thickness and analyzed in three position of wood in the disk (A: near pith, T: sapwood-heartwood) and P: sapwood). The result showed that mean calorific value from Lawu Mountain (3452,04 kal/g), Bromo (3266,14 kal/g), Merapi (3172,86 kal/g), Ciremai (3155,72 kal/g) and Merbabu (2947,56 kal/g), respectively. Wood calorific value of Acaccia decurrens determined by wood density, water content, ash and lignin. Varian analysis on calorific value showed significant from location and wood position, but wood section is no significant. Lignin and ash content given strong correlation in calorific value of Acaccia decurrens with correlation coefficient R=0,96 and R= -0.95. Wood density and water content proved weak correlation to calorific value with R= 0,11 and R= - 0,23. Based on varian analysis from five wood section that there are no significant to wood caloric value. So, the usage of Acaccia decurrens for wood fuel in rural people could only take branch and unnecessary cut the trees.

Kata Kunci : Sebaran alam, Acaccia decurrens, nilai kalor, kadar lignin, abu


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.